Penjelasan Medis tentang Proses Menjelang Kematian

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 16 Februari 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Pribhumi.com — Proses menuju kematian hingga kini masih menyisakan banyak pertanyaan. Meski demikian, sejumlah penelitian medis mulai memberikan gambaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh manusia saat mendekati akhir kehidupan.

Dalam banyak kasus, seseorang yang akan meninggal mengalami penurunan kondisi secara cepat dalam beberapa hari terakhir. Fase ini dikenal sebagai “kematian aktif”, yakni tahap ketika fungsi tubuh mulai melemah secara signifikan.

Ahli perawatan paliatif dari Stanford University, James Hallenbeck, menjelaskan bahwa menjelang ajal, tubuh manusia kehilangan fungsi indra secara bertahap dan berurutan.

Menurutnya, rasa lapar biasanya menjadi fungsi pertama yang menghilang, kemudian disusul rasa haus. Setelah itu, kemampuan berbicara mulai melemah, diikuti oleh penurunan penglihatan.

“Indra terakhir yang umumnya masih bertahan adalah pendengaran dan sentuhan,” jelas Hallenbeck seperti dikutip dari Mirror UK.

Baca Juga :  Pemerintah Siapkan Rp335 Triliun untuk Program Makan Bergizi Gratis 2026, Airlangga: Dorong Ekonomi hingga 7 Persen

Fenomena Cahaya Terang

Di sisi lain, terdapat pengalaman yang kerap dilaporkan oleh pasien menjelang kematian, yakni melihat cahaya terang. Fenomena ini sering dikaitkan dengan pengalaman mendekati kematian (near-death experience).

Direktur Pusat Penelitian Cedera Otak di University of California, Los Angeles, David Hovda, memaparkan bahwa saat tubuh berada di ambang kematian, otak mulai memprioritaskan fungsi vital.

Bagian-bagian otak yang dianggap kurang penting untuk mempertahankan hidup akan mulai “dikorbankan”. Dalam proses tersebut, sistem visual justru dapat mengalami lonjakan aktivitas.

“Kondisi ini membuat seseorang merasakan atau melihat cahaya terang,” terang Hovda.

Penelitian juga menunjukkan bahwa neuron di otak masih dapat tetap aktif meskipun tubuh secara klinis dinyatakan meninggal. Bahkan, dalam fase tersebut, neuron dapat melepaskan zat kimia dalam jumlah besar sebagai bagian dari respons biologis terakhir.

Baca Juga :  Bupati Kerinci Serahkan 2.733 SK PPPK Paruh Waktu Formasi 2025, Tegaskan Pengabdian dan Disiplin Aparatur

Seperti Berada dalam Dunia Mimpi

Pada jam-jam terakhir kehidupan, pasien umumnya berhenti makan dan minum. Penglihatan menghilang, mata perlahan tertutup, dan tubuh tampak seperti tertidur.

Namun, Hallenbeck menegaskan bahwa kondisi ini berbeda dengan koma biasa. Ia menilai fase tersebut lebih menyerupai keadaan mimpi daripada ketidaksadaran total.

Menurutnya, proses ini dapat dianalogikan seperti gelombang badai yang semakin membesar, hingga akhirnya membawa seseorang menuju “lautan” yang lebih dalam.

Penjelasan ilmiah ini memberi pemahaman baru bahwa kematian bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan sebuah proses biologis yang berlangsung bertahap dan kompleks. Meski masih menyimpan misteri, sains perlahan membuka tabir tentang detik-detik terakhir kehidupan manusia.

 

Berita Terkait

Bedong Rapat Disebut Mitos Bantu Bentuk Kaki Bayi, Dokter Ortopedi Anak Ingatkan Risiko Gangguan Panggul
Pemprov DKI Jamin Layanan Kesehatan Gratis bagi Warga Terdampak Banjir
Sering Mengantuk Saat Kerja? Ternyata Air Putih Lebih Efektif daripada Kopi
Selama Ini Salah Paham, Perut Buncit Bukan Karena Nasi
Kontroversi Surrogacy di Indonesia: Etika, Hukum, dan Risiko Identitas Anak
Pemerintah Siapkan Rp335 Triliun untuk Program Makan Bergizi Gratis 2026, Airlangga: Dorong Ekonomi hingga 7 Persen
Korban Keracunan MBG Soto Ayam di Mojokerto Meningkat, 261 Pelajar Terdampak
Susu Bukan Pengganti Makan Utama Anak, Ahli Gizi Ingatkan Orang Tua

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 20:46 WIB

Bedong Rapat Disebut Mitos Bantu Bentuk Kaki Bayi, Dokter Ortopedi Anak Ingatkan Risiko Gangguan Panggul

Selasa, 27 Januari 2026 - 21:00 WIB

Pemprov DKI Jamin Layanan Kesehatan Gratis bagi Warga Terdampak Banjir

Minggu, 25 Januari 2026 - 22:00 WIB

Sering Mengantuk Saat Kerja? Ternyata Air Putih Lebih Efektif daripada Kopi

Minggu, 25 Januari 2026 - 10:00 WIB

Selama Ini Salah Paham, Perut Buncit Bukan Karena Nasi

Sabtu, 24 Januari 2026 - 19:03 WIB

Kontroversi Surrogacy di Indonesia: Etika, Hukum, dan Risiko Identitas Anak

Berita Terbaru

Ekonomi dan Bisniss

Prabowo Tegaskan MBG Bukan Hamburkan Anggaran, Dibiayai dari Efisiensi Negara

Senin, 16 Feb 2026 - 17:00 WIB

Budaya dan Religi

MUI Minta Umat Tenang Beribadah, Sweeping Diserahkan ke Pemerintah

Senin, 16 Feb 2026 - 15:00 WIB