Cindaku, Antara Mitos, Spiritualitas, dan Identitas Budaya Kerinci

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 3 Februari 2026 - 12:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penelitian akademisi ITB mengangkat legenda leluhur sebagai media edukasi budaya berbasis teknologi interaktif.

KERINCI, Pribhumi.com – Di tengah kekayaan tradisi dan budaya masyarakat Kerinci, Provinsi Jambi, hidup sebuah legenda yang terus diwariskan lintas generasi, yakni kisah Cindaku, sosok yang dikenal sebagai manusia harimau. Cerita ini tidak sekadar menjadi folklore, tetapi juga mengandung nilai spiritual, adat, serta filosofi hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Upaya pelestarian kisah tersebut kini mendapat perhatian dari kalangan akademisi. Salah satunya dilakukan oleh Malikha Caesarani, mahasiswi Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam penyusunan karya ilmiah berjudul “Perancangan Buku Interaktif tentang Mitologi Cindaku Berbasis Augmented Reality bagi Remaja sebagai Pengenalan Budaya Kerinci”, Malikha menggali informasi langsung dari tokoh adat Kerinci, Safwandi, Dpt., yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Lembaga Adat Melayu Sakti Alam Kerinci (LAM-SAK).

Safwandi menjelaskan, dalam kepercayaan masyarakat Kerinci, Cindaku diyakini sebagai sosok harimau gaib yang disebut “Uhang Tuo dalam Imbo”, yakni penjaga kawasan tertentu yang dianggap sakral.

Menurutnya, masyarakat adat Kerinci memiliki penghormatan tinggi terhadap harimau sehingga penyebutan langsung terhadap satwa tersebut dianggap tabu. Masyarakat lebih memilih menggunakan istilah lain seperti Uhang Tuo dalam Imbo, Tuo Gaek, atau Penunggu Mattang.

Baca Juga :  Benarkah PLTA Picu Penyusutan Danau Kerinci? Ini Penjelasan Kerinci Merangin Hidro

“Dalam kepercayaan masyarakat Kerinci, makhluk gaib ini diyakini dapat memberikan pertolongan kepada keturunan Kerinci apabila berada dalam situasi genting. Apobilo lah terimpit telu di batu, mako diseru cepat tibo dipanggin beliau cepat datang,” ujar Safwandi.

Ia menambahkan, dalam sejumlah tradisi adat seperti kenduri SKO, terdapat keyakinan bahwa keturunan asli Kerinci dapat menunjukkan perilaku menyerupai harimau sebagai simbol kekuatan spiritual warisan leluhur. Keyakinan tersebut terus hidup melalui tradisi lisan, petuah ninik mamak, serta cerita yang berkembang di lingkungan keluarga.

Secara filosofi budaya, masyarakat adat Kerinci tidak memandang Cindaku sebagai sosok menakutkan. Harimau justru dipandang sebagai simbol kekuatan, keberanian, dan kewibawaan yang patut dihormati. Dalam berbagai cerita rakyat, Cindaku juga diyakini berperan menjaga hutan serta wilayah adat dari kerusakan maupun pelanggaran norma adat.

Legenda ini juga sering dikaitkan dengan garis keturunan tertentu dalam masyarakat Kerinci. Kemampuan spiritual tersebut diyakini sebagai amanah leluhur kepada generasi tertentu yang memiliki tanggung jawab menjaga kehormatan adat dan kelestarian kampung halaman.

Keberadaan kisah Cindaku turut berkaitan dengan kondisi ekologis Kerinci yang merupakan habitat Harimau Sumatra, satwa langka yang hidup di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Keterkaitan antara legenda dan realitas alam tersebut semakin menguatkan posisi harimau sebagai simbol sakral sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Baca Juga :  Struktur Baru Debalang Sungai Penuh Disahkan, Dani Warman Pimpin Ketua Hulu Balang

Safwandi menegaskan, legenda Cindaku bukan sekadar cerita mitos, melainkan sarana pendidikan moral bagi generasi muda.

“Legenda Cindaku mengajarkan masyarakat untuk menghormati alam, menjaga adat istiadat, serta memelihara keseimbangan antara manusia dan lingkungan,” tegasnya.

Ia juga menyayangkan mulai bergesernya nilai-nilai luhur tersebut pada masa kini. Menurutnya, ketidakseimbangan alam yang terjadi saat ini dapat dilihat dari meningkatnya bencana seperti banjir dan longsor.

Safwandi menyebut, leluhur masyarakat Kerinci dahulu sangat menghargai alam sehingga tercipta hubungan harmonis antara manusia dan harimau.

“Makanya tetua-tetua dulu punya serabat. Serabat itu artinya sahabat,” katanya.

Ia menegaskan, alam akan memperlakukan manusia dengan baik apabila manusia juga menjaga dan memperlakukannya dengan baik.

Hingga kini, legenda Cindaku tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Kerinci. Warisan leluhur tersebut terus hidup sebagai simbol kearifan lokal yang memperkuat nilai spiritual sekaligus menjaga hubungan harmonis masyarakat dengan alam sekitarnya.

Berita Terkait

BRIN Ungkap Sungai Purba Paparan Sunda Diduga Jadi Jalur Migrasi Manusia Modern Awal di Asia Tenggara
Limbago Adat sebagai Ruh, Lembaga Adat sebagai Wadah
Hari Lahir Pancasila 2026: Jadwal Libur Nasional, Sejarah Penetapan, dan Makna Lima Dasar Negara
Insentif Pajak untuk Penulis Diyakini Perkuat SDM dan Pertumbuhan Ekonomi Jangka Panjang
Momentum Idul Adha, Bupati Monadi Tekankan Nilai Persaudaraan dan Pengorbanan
Fosil Baru Homo Habilis Picu Perdebatan, Benarkah Leluhur Awal Manusia Bukan Genus Homo?
DUA LAPIS KEWAJIBAN HUKUM PIDANA PEMKAB KERINCI
Warga Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh Keluhkan Pemadaman Bergilir Tanpa Jadwal Pasti

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 01:00 WIB

BRIN Ungkap Sungai Purba Paparan Sunda Diduga Jadi Jalur Migrasi Manusia Modern Awal di Asia Tenggara

Minggu, 31 Mei 2026 - 12:42 WIB

Limbago Adat sebagai Ruh, Lembaga Adat sebagai Wadah

Sabtu, 30 Mei 2026 - 13:09 WIB

Hari Lahir Pancasila 2026: Jadwal Libur Nasional, Sejarah Penetapan, dan Makna Lima Dasar Negara

Kamis, 28 Mei 2026 - 05:00 WIB

Insentif Pajak untuk Penulis Diyakini Perkuat SDM dan Pertumbuhan Ekonomi Jangka Panjang

Rabu, 27 Mei 2026 - 20:00 WIB

Momentum Idul Adha, Bupati Monadi Tekankan Nilai Persaudaraan dan Pengorbanan

Berita Terbaru

Jambi

Progres Tol Palembang–Jambi Tembus 82 Persen

Senin, 1 Jun 2026 - 03:00 WIB

Tips dan informasi

5 Warna Cat Rumah yang Bikin Suasana Lebih Bahagia dan Nyaman

Minggu, 31 Mei 2026 - 19:00 WIB