Riyadh, Pribhumi.com – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melancarkan serangan udara ke pangkalan militer di Arab Saudi yang digunakan oleh pasukan Amerika Serikat. Dalam serangan tersebut, sedikitnya 12 personel militer AS dilaporkan mengalami luka-luka, dengan dua di antaranya dalam kondisi serius.
Serangan ini merupakan bagian dari aksi balasan Teheran atas operasi militer gabungan yang sebelumnya dilakukan oleh AS dan Israel pada akhir Februari 2026. Konflik tersebut kini meluas dan menyeret kawasan Teluk ke dalam eskalasi militer yang semakin intens.
Menurut laporan media ternama seperti The New York Times dan The Wall Street Journal, target serangan adalah Pangkalan Udara Pangeran Sultan yang menjadi lokasi penempatan pasukan AS. Serangan dilaporkan menggunakan rudal serta sejumlah drone tempur yang menghantam area fasilitas militer tersebut.
Saat insiden terjadi, para tentara AS berada di dalam bangunan kompleks pangkalan. Selain korban luka, sejumlah pesawat militer—termasuk pesawat pengisian bahan bakar di udara—dilaporkan mengalami kerusakan.
Sebelumnya, sistem pertahanan udara Arab Saudi berhasil mencegat beberapa rudal yang diarahkan ke area sekitar pangkalan. Namun, sebagian serangan tetap berhasil menembus pertahanan.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Pentagon maupun Komando Pusat Amerika Serikat terkait insiden tersebut.
Sejak konflik memanas pada akhir Februari, sedikitnya 13 tentara AS dilaporkan tewas di kawasan Teluk akibat serangan balasan Iran, sementara lebih dari 300 lainnya mengalami luka-luka.
Di pihak Iran, korban jiwa akibat serangan gabungan AS-Israel dilaporkan mencapai sedikitnya 1.340 orang. Di antara korban tersebut termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.











