Kerinci, Pribhumi.com — Budayawan Kerinci, Safwandi., Dpt, menyampaikan peringatan keras mengenai ancaman besar terhadap nilai-nilai tradisi dan budaya lokal yang mulai tergerus oleh arus modernisasi dan ketidakpahaman makna filosofis.
Dalam tayangan TikTok bertajuk “Local Wisdom Education” di akun @andiandalas45, Safwandi yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Lembaga Adat Melayu (LAM) Sakti Alam Kerinci, menegaskan bahwa akar persoalan pelestarian budaya bukan sekadar pada perubahan zaman, tetapi pada kegagalan memahami makna kias dan filosofi dalam tradisi itu sendiri.
“Orang-orang yang menentang itu sebenarnya tidak paham tentang nilai-nilai filosofis yang terkandung di situ,” ujar Safwandi dalam tayangan tersebut.
Ia menilai, banyak pihak yang menolak atau menganggap tradisi kuno karena tidak memahami kedalaman maknanya. Padahal, setiap unsur tradisi menyimpan ajaran moral, sosial, dan spiritual yang menjadi pedoman hidup masyarakat Kerinci sejak lama.
Lebih lanjut, Safwandi juga mengkritik cara penyampaian tradisi oleh para pelaku budaya yang sering kali tidak efektif.
“Bagi sang pelaku itu, kadang-kadangnya tidak bisa secara gamblang menjelaskan. Kadang-kadang salah cara menjelaskan,” katanya.
Menurutnya, kesalahan penjelasan dan komunikasi membuat nilai-nilai luhur sulit dipahami oleh generasi muda. Akibatnya, muncul kesenjangan antara praktik tradisi dan pemahaman esensialnya, yang dapat berujung pada penolakan terhadap warisan budaya sendiri.
Safwandi menyerukan perlunya pendidikan budaya dan kearifan lokal yang berbasis pada pemahaman filosofis, bukan sekadar seremoni atau formalitas adat. Ia menekankan, jika tidak segera dilakukan upaya serius, maka tradisi Kerinci dapat kehilangan ruhnya dan hanya tinggal simbol tanpa makna.
“Kita harus kembali memahami dan menjelaskan esensi dari tradisi itu sendiri agar budaya kita tidak hilang ditelan zaman,” tegasnya.
Pernyataan Safwandi menjadi pengingat penting bagi seluruh pihak, baik masyarakat adat, akademisi, maupun pemerintah daerah, untuk memperkuat literasi budaya demi menjaga warisan leluhur dari ancaman ketidakpahaman dan penolakan generasi.













