Jambi, Pribhumi.com – Suasana berbeda terasa di Masjid At-Taubah Lapas Kelas IIA Jambi selama bulan Ramadan. Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar bersahut-sahutan dari para warga binaan yang duduk bersila sambil membaca kitab suci di atas rehal.
Di antara para narapidana tersebut, ada seorang pria bernama Sadat yang kini mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar. Padahal, beberapa tahun lalu ia bahkan tidak mengenal satu pun huruf hijaiyah.
Sadat mengaku perubahan itu ia rasakan sejak menjalani masa pembinaan di dalam lapas. Ia mulai belajar dari dasar, mengenal huruf hijaiyah hingga membaca Iqro dengan bimbingan petugas pembinaan serta rekan sesama narapidana.
“Dulu saya tidak tahu mengaji sama sekali. Sekarang Alhamdulillah sudah bisa, bahkan sudah khatam empat kali,” ujar Sadat, Jumat (13/3/2026).
Baginya, Ramadan yang dijalani di balik tembok penjara justru menjadi titik balik dalam hidup. Ia tidak merasa malu saat pertama kali belajar, meskipun sempat kesulitan membedakan huruf-huruf hijaiyah yang terlihat mirip.
Seiring waktu, Sadat mulai terbiasa membaca Al-Qur’an. Kini ia lebih percaya diri melantunkan ayat demi ayat dan berusaha meningkatkan keimanan selama menjalani masa hukuman.
Sadat merupakan narapidana kasus kepemilikan narkotika jenis sabu dengan vonis sembilan tahun penjara. Pria yang memiliki dua anak itu mengaku kini berusaha memanfaatkan waktunya di lapas dengan kegiatan yang lebih bermanfaat.
“Saya di sini hanya bisa berbuat baik saja. Mudah-mudahan itu menjadi jalan untuk memperbaiki diri,” katanya.
Selama Ramadan, Lapas Kelas IIA Jambi menggelar program pesantren kilat selama 21 hari yang diikuti ratusan warga binaan. Setiap hari para narapidana memadati masjid untuk mengikuti berbagai kegiatan keagamaan seperti salat berjamaah, tarawih, tadarus Al-Qur’an, hingga mendengarkan tausiah.
Sadat mengatakan program tersebut membuat dirinya semakin disiplin dalam beribadah.
“Dulu di luar saya tidak pernah salat lima waktu. Sekarang tidak pernah tinggal. Tarawih juga selalu ikut, puasa juga penuh tahun ini,” tuturnya.
Selain Sadat, ada pula narapidana lain bernama Reza yang berperan sebagai pengajar mengaji bagi rekan-rekannya. Reza merupakan terpidana kasus penggelapan yang sebelumnya pernah menimba ilmu di pondok pesantren.
Berkat latar belakang tersebut, ia dipercaya membantu membimbing warga binaan lain untuk belajar membaca Al-Qur’an. Selain mengajar, Reza juga sering bertugas sebagai imam salat dan muazin di masjid lapas.
“Saya hanya ingin memanfaatkan waktu dengan hal yang bermanfaat. Kita saling belajar saja di sini,” kata Reza.
Selama Ramadan ini, Reza bahkan telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak empat kali dan menghafal dua juz, yakni Juz 1 dan Juz 30.
Kepala Lapas Kelas IIA Jambi, Syahroni Ali, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pemberantasan Buta Aksara Al-Qur’an (PBAQ) bagi warga binaan.
Program itu tidak hanya dilaksanakan saat Ramadan, tetapi menjadi kegiatan pembinaan berkelanjutan di lapas. Para peserta juga dibagi dalam beberapa kelompok sesuai kemampuan membaca Al-Qur’an.
“Ada kelompok yang masih buta aksara, yang masih belajar Iqro, dan yang sudah lancar membaca. Pengajarnya dari petugas serta warga binaan yang kami berdayakan,” jelas Syahroni.
Menurutnya, pembinaan yang diberikan tidak hanya sebatas belajar membaca Al-Qur’an. Warga binaan juga dibimbing untuk menghafal ayat-ayat pendek, belajar azan, hingga menyampaikan ceramah agama.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat membantu para narapidana memperbaiki diri selama menjalani masa hukuman, sehingga ketika kembali ke masyarakat mereka memiliki bekal moral dan spiritual yang lebih kuat.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jambi, Irwan Rahmat Gumilar, mengapresiasi program pembinaan yang dijalankan Lapas Kelas IIA Jambi.
Menurutnya, pembinaan di lembaga pemasyarakatan tidak hanya fokus pada aspek fisik, tetapi juga harus menyentuh mental dan spiritual warga binaan.
“Melalui kegiatan pembelajaran Al-Qur’an, warga binaan diharapkan memiliki benteng moral yang kuat dan perubahan yang nyata,” ujarnya.
Pesantren kilat yang berlangsung selama 21 hari tersebut diikuti sekitar 400 warga binaan. Dari program itu, sejumlah peserta berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an bahkan menghafal beberapa juz.
“Ini menjadi kebanggaan bagi kita semua karena pembinaan spiritual di lapas berjalan baik dan memberikan dampak positif bagi warga binaan,” tutup Irwan.











