JAMBI, Pribhumi.com — Penggunaan sunscreen di dalam ruangan kerap dianggap berlebihan. Namun faktanya, kulit tetap terpapar cahaya meski hanya beraktivitas di dalam rumah.
Masih banyak yang beranggapan bahwa sunscreen hanya diperlukan saat berada di luar ruangan. Padahal, paparan cahaya tidak sepenuhnya hilang ketika berada di dalam rumah.
Sinar UVA, misalnya, tetap dapat menembus kaca jendela dan mengenai kulit. Paparan ini berkontribusi terhadap penuaan dini seperti munculnya garis halus hingga flek hitam. Artinya, meskipun tidak berada langsung di bawah sinar matahari, kulit tetap berisiko terpapar.
Selain itu, paparan blue light dari perangkat elektronik seperti ponsel dan laptop juga dapat memberi dampak pada kulit, terutama jika digunakan dalam waktu lama. Meskipun efeknya tidak sebesar sinar matahari, paparan yang terus-menerus tetap perlu diwaspadai.
Penggunaan sunscreen di dalam ruangan menjadi semakin penting bagi pemilik kondisi kulit tertentu, seperti hiperpigmentasi, melasma, atau mereka yang sedang menggunakan bahan aktif seperti retinol, AHA, dan BHA. Dalam kondisi ini, kulit cenderung lebih sensitif terhadap cahaya, sehingga membutuhkan perlindungan ekstra.
Namun, jika seseorang berada di dalam ruangan sepanjang hari dengan kondisi minim cahaya, tirai tertutup, serta jarang terpapar layar, penggunaan sunscreen bisa lebih fleksibel.
Meski demikian, banyak ahli tetap menyarankan penggunaan sunscreen di pagi hari sebagai langkah perlindungan dasar. Hal ini karena sering kali seseorang tidak menyadari seberapa besar paparan cahaya yang diterima sepanjang hari.
Dengan demikian, penggunaan sunscreen di dalam ruangan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan yang bergantung pada kondisi dan gaya hidup masing-masing. Sebagai langkah pencegahan, penggunaan sunscreen tetap menjadi investasi penting untuk menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang.











