JAMBI, Pribhumi.com – Aktivitas trekking di kawasan pegunungan dan hutan Indonesia memang menawarkan panorama alam yang memukau. Namun di balik keindahan tersebut, para pendaki dan pecinta alam perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap keberadaan ular kobra yang kerap bersembunyi di area lembap dan jarang dilalui manusia.
Ular kobra umumnya memilih habitat seperti tumpukan batu, celah akar pohon, kayu lapuk, hingga semak-semak yang hangat dan lembap. Satwa berbisa ini juga lebih aktif pada pagi hari, sore menjelang malam, atau sesaat setelah hujan turun.
Pendaki disarankan untuk mengenali tanda-tanda keberadaan kobra sebelum melanjutkan perjalanan. Beberapa ciri yang patut diwaspadai antara lain bau amis menyengat, suara desisan keras dari balik semak, bekas kulit ular, hingga jejak lintasan di rerumputan atau tanah basah.
Selain meningkatkan kewaspadaan, penggunaan perlengkapan yang tepat juga menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko serangan ular. Sepatu trekking tinggi, tongkat pendakian (trekking pole), serta pakaian pelindung dapat membantu menjaga keamanan selama berada di jalur hutan.
Jika bertemu ular kobra di alam liar, pendaki diimbau tetap tenang, tidak melakukan gerakan mendadak, dan perlahan menjauh dari area tersebut. Pengetahuan mengenai pertolongan pertama saat terkena gigitan ular berbisa juga sangat penting dipahami sebelum memulai perjalanan.
Dengan persiapan matang dan pemahaman mengenai habitat ular berbisa, aktivitas trekking dapat tetap menjadi pengalaman menyenangkan sekaligus aman bagi para pecinta alam.
Editor : Safwandi., Dpt






