Nikah Sirri di Era Modern: Antara Sah Secara Syariat dan Risiko Secara Hukum

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 21 Maret 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pribhumi.com — Di masa lalu, istilah nikah sirri merujuk pada pernikahan yang telah memenuhi seluruh rukun dan syarat dalam syariat Islam, seperti adanya wali, ijab kabul, serta saksi. Namun, prosesi tersebut tidak diumumkan secara luas kepada masyarakat.

Seiring perkembangan zaman, makna nikah sirri di Indonesia mengalami pergeseran. Kini, istilah tersebut lebih sering digunakan untuk menggambarkan pernikahan yang tidak dicatatkan secara resmi oleh negara, atau dikenal sebagai pernikahan di bawah tangan.

Secara agama, pernikahan tetap dianggap sah apabila rukun dan syaratnya terpenuhi. Namun, dari sisi sosial dan hukum, tidak mencatatkan pernikahan di lembaga resmi seperti Kantor Urusan Agama (KUA) atau Catatan Sipil dapat menimbulkan berbagai persoalan.

Islam sendiri merupakan agama yang dinamis dan menjunjung tinggi prinsip keadilan serta kemaslahatan umat. Dalam kaidah fikih disebutkan bahwa hukum dapat berubah mengikuti perubahan zaman, tempat, dan kondisi masyarakat.

Pandangan ini juga diperkuat oleh ulama seperti Ibnu al-Qayyim yang menegaskan bahwa fatwa dapat menyesuaikan dengan konteks sosial. Dalam kondisi saat ini, pencatatan pernikahan bukan sekadar urusan administratif, tetapi menjadi bentuk perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia.

Baca Juga :  Menkomdigi Meutya Hafid Tanggapi Dugaan Perekrutan Teroris Lewat Game Online

Tanpa adanya akta nikah, posisi perempuan dalam rumah tangga menjadi rentan, terutama jika terjadi konflik seperti sengketa nafkah atau kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu, anak yang lahir dari pernikahan tersebut juga berpotensi mengalami kesulitan dalam memperoleh hak waris serta pengakuan identitas secara hukum.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT bahkan memerintahkan pencatatan dalam urusan utang piutang sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 282. Hal ini menunjukkan pentingnya pencatatan dalam menjaga kejelasan hak dan kewajiban.

Jika urusan harta saja dianjurkan untuk dicatat, maka pernikahan yang merupakan ikatan kuat (mitsaqan ghalidza) tentu lebih layak untuk didokumentasikan secara resmi. Hal ini juga ditegaskan dalam Surah An-Nisa ayat 21 yang menyebutkan pernikahan sebagai perjanjian yang kokoh.

Baca Juga :  Prediksi Malam Lailatul Qadar 2026 dan Amalan yang Dianjurkan di 10 Malam Terakhir Ramadan

Pencatatan pernikahan menjadi wujud penghormatan terhadap kesakralan ikatan tersebut. Mengabaikannya dapat berakibat pada hilangnya perlindungan hukum bagi pihak-pihak yang terlibat.

Di Indonesia, negara telah mengatur kewajiban pencatatan pernikahan melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Aturan ini bertujuan untuk mencegah berbagai potensi kerugian seperti penipuan identitas, praktik poligami ilegal, hingga penelantaran keluarga.

Sebagai warga negara dan umat beragama, menaati aturan tersebut merupakan bagian dari ketaatan kepada ulil amri atau pemimpin. Kebijakan ini hadir untuk menjaga kemaslahatan bersama dan melindungi masyarakat dari dampak negatif yang mungkin timbul.

Oleh karena itu, menghindari praktik nikah sirri dan memilih pernikahan resmi yang tercatat menjadi langkah bijak. Selain memenuhi aspek syariat, hal ini juga memberikan kepastian hukum serta perlindungan bagi seluruh anggota keluarga.

Menikah secara sah dan tercatat bukan hanya soal legalitas, tetapi juga bentuk tanggung jawab dalam menjaga kehormatan dan kesejahteraan keluarga.

 

Berita Terkait

Makna dan Manfaat Kemenyan: Dari Tradisi Kerinci hingga Khasiat Kesehatan
Haji Furoda: Solusi Berangkat Haji Tanpa Antre, Ini Penjelasan dan Aturan Lengkapnya
Jejak Gunung Sinai dalam Al-Qur’an: Lokasi Bukit Tursina dan Kisah Nabi Musa Menerima Wahyu
Makna Ulul Azmi dan Kisah 5 Rasul Pilihan dengan Keteguhan Luar Biasa
Keutamaan Ayat 1000 Dinar: Amalan Pembuka Rezeki dan Jalan Keluar dari Kesulitan
Amalan Sunah Bulan Syawal: Raih Pahala Setara Puasa Setahun
Puasa Syawal 2026: Jadwal, Niat, dan Keutamaan Besar yang Setara Puasa Setahun
Sunnah Salat Idulfitri yang Dianjurkan: Amalan Lengkap Sambut Hari Kemenangan

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 23:59 WIB

Makna dan Manfaat Kemenyan: Dari Tradisi Kerinci hingga Khasiat Kesehatan

Rabu, 1 April 2026 - 21:00 WIB

Haji Furoda: Solusi Berangkat Haji Tanpa Antre, Ini Penjelasan dan Aturan Lengkapnya

Rabu, 1 April 2026 - 15:00 WIB

Jejak Gunung Sinai dalam Al-Qur’an: Lokasi Bukit Tursina dan Kisah Nabi Musa Menerima Wahyu

Sabtu, 28 Maret 2026 - 08:11 WIB

Makna Ulul Azmi dan Kisah 5 Rasul Pilihan dengan Keteguhan Luar Biasa

Jumat, 27 Maret 2026 - 17:00 WIB

Keutamaan Ayat 1000 Dinar: Amalan Pembuka Rezeki dan Jalan Keluar dari Kesulitan

Berita Terbaru

Budaya dan Wisata

Makna dan Manfaat Kemenyan: Dari Tradisi Kerinci hingga Khasiat Kesehatan

Kamis, 2 Apr 2026 - 23:59 WIB