Eksperimen Unik NASA: Ribuan Ubur-ubur Pernah Dikirim ke Luar Angkasa untuk Teliti Efek Tanpa Gravitasi

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 9 Maret 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Pribhumi.com – Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, pernah melakukan eksperimen unik dengan mengirim ribuan ubur-ubur ke luar angkasa pada awal 1990-an. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana makhluk hidup berkembang dan menyesuaikan diri di lingkungan tanpa gravitasi.

Pada tahun 1991, sekitar 2.478 ubur-ubur muda yang masih berada pada tahap polip diluncurkan ke orbit menggunakan pesawat ulang-alik Columbia dalam sebuah misi penelitian ilmiah. Para peneliti ingin mengetahui bagaimana organisme yang tumbuh di lingkungan mikrogravitasi mengembangkan kemampuan mendeteksi arah gravitasi.

Eksperimen tersebut dipimpin oleh ilmuwan Dorothy Spangenberg. Ia merancang penelitian untuk mempelajari bagaimana sistem biologis makhluk hidup bereaksi dan beradaptasi saat berada di lingkungan tanpa gaya gravitasi seperti di luar angkasa.

Meski tampak sangat berbeda dengan manusia, ubur-ubur ternyata memiliki mekanisme biologis yang serupa dalam mendeteksi gravitasi. Pada tahap dewasa yang disebut medusa, ubur-ubur memiliki kristal kalsium sulfat di tubuhnya.

Baca Juga :  Badai Musim Dingin Parah Landa Amerika Serikat, Transportasi Lumpuh dan Krisis Listrik Meluas

Kristal tersebut bergerak mengikuti gaya gravitasi dan merangsang sel rambut sensorik yang kemudian mengirimkan sinyal ke sistem saraf. Mekanisme ini mirip dengan sistem keseimbangan manusia yang berada di telinga bagian dalam. Struktur berbasis kalsium di area tersebut membantu otak mengenali posisi tubuh dan menjaga keseimbangan.

Kesamaan sistem tersebut membuat ubur-ubur dipilih sebagai organisme model untuk memahami bagaimana manusia dapat mengembangkan kemampuan merasakan gravitasi, terutama jika suatu saat bayi manusia lahir di luar angkasa.

Dalam eksperimen itu, ubur-ubur ditempatkan dalam kantong berisi air laut buatan. Selama misi berlangsung, para peneliti di dalam pesawat mempercepat proses pertumbuhan mereka. Penelitian berlangsung selama sekitar sembilan hari.

Baca Juga :  Dedi Mulyadi Wacanakan Pajak Kendaraan Dihapus, Diganti Sistem Jalan Berbayar

Selama periode tersebut, populasi ubur-ubur berkembang sangat cepat dari ribuan menjadi sekitar 60 ribu individu.

Namun setelah kembali ke Bumi, para ilmuwan menemukan fenomena menarik. Ubur-ubur yang tumbuh di lingkungan tanpa gravitasi mengalami kesulitan berenang secara normal ketika kembali ke kondisi gravitasi Bumi. Banyak di antaranya tampak kehilangan orientasi, mirip dengan gejala vertigo.

Temuan ini memberikan gambaran penting mengenai bagaimana organisme hidup beradaptasi di lingkungan mikrogravitasi. Penelitian tersebut juga membantu ilmuwan memahami potensi tantangan biologis yang mungkin dihadapi manusia jika suatu hari nanti hidup, berkembang biak, atau bahkan dilahirkan di luar angkasa.

Eksperimen ubur-ubur tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana hewan dimanfaatkan dalam penelitian luar angkasa untuk mempelajari dampak jangka panjang lingkungan ruang angkasa terhadap makhluk hidup.

 

Berita Terkait

Hoaks dan Ketidakpercayaan Hambat Penanganan Wabah Ebola di Kongo, Ratusan Kasus Terus Bertambah
Ekspor Indonesia Terancam, Trump Usulkan Bea Masuk Tambahan 10 Persen
Trump Murka kepada Netanyahu, Serangan Israel ke Lebanon Dinilai Ancam Diplomasi AS-Iran
Sanksi Chip AS Berbalik Arah, Huawei Siapkan Teknologi Setara 1,4 Nanometer
Sistem Imigrasi Malaysia Lumpuh Berjam-jam, Ribuan Pelancong Terjebak Antrean Panjang di Perbatasan
PBB Peringatkan Dunia Hadapi Rekor Suhu Panas Baru hingga 2030, El Nino Diprediksi Menguat
Iran Akhiri Pemadaman Internet 88 Hari, Warga Mengaku Seperti “Bebas dari Penjara”
WNI Kini Bisa Masuk Kanada Pakai eTA, Biaya Cuma Rp90 Ribu dan Tanpa Biometrik

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 01:00 WIB

Hoaks dan Ketidakpercayaan Hambat Penanganan Wabah Ebola di Kongo, Ratusan Kasus Terus Bertambah

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:00 WIB

Ekspor Indonesia Terancam, Trump Usulkan Bea Masuk Tambahan 10 Persen

Rabu, 3 Juni 2026 - 13:00 WIB

Trump Murka kepada Netanyahu, Serangan Israel ke Lebanon Dinilai Ancam Diplomasi AS-Iran

Senin, 1 Juni 2026 - 21:00 WIB

Sanksi Chip AS Berbalik Arah, Huawei Siapkan Teknologi Setara 1,4 Nanometer

Minggu, 31 Mei 2026 - 05:00 WIB

Sistem Imigrasi Malaysia Lumpuh Berjam-jam, Ribuan Pelancong Terjebak Antrean Panjang di Perbatasan

Berita Terbaru