Jakarta, Pribhumi.com – Dokumen resmi yang baru dipublikasikan pemerintah Amerika Serikat mengungkap rencana sensitif yang melibatkan Jeffrey Epstein dan lingkarannya. Dalam dokumen tersebut, terungkap adanya pembahasan untuk mengakses aset negara Libya yang dibekukan secara internasional pasca-kekacauan politik pada 2011.
Mengutip Al Jazeera, Senin (2/2/2026), dokumen ini dirilis Departemen Kehakiman AS pada Jumat (30/1). Salah satu email yang menjadi sorotan dikirim kepada Epstein pada Juli 2011, beberapa bulan setelah dimulainya pemberontakan yang didukung NATO terhadap Presiden Libya saat itu, Muammar Gaddafi.
Dalam korespondensi tersebut, pengirim email memaparkan peluang finansial dan hukum yang muncul akibat ketidakstabilan politik dan ekonomi Libya. Disebutkan bahwa sekitar USD 80 miliar aset Libya diyakini dibekukan di berbagai negara, dengan lebih dari USD 32 miliar di antaranya berada di Amerika Serikat.
Email itu juga menyebutkan dugaan bahwa nilai aset negara Libya yang disalahgunakan bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat dari angka resmi. Jika sebagian kecil saja dari dana tersebut dapat diidentifikasi dan dipulihkan, keuntungan yang diperoleh diklaim bisa mencapai miliaran dolar.
Lebih lanjut, pengirim email mengungkap keterlibatan sejumlah mantan personel badan intelijen Inggris, MI6, serta intelijen Israel, Mossad, yang disebut bersedia membantu proses pelacakan dan pemulihan aset tersebut.
Dokumen tersebut juga menyoroti potensi besar Libya di masa depan. Negara Afrika Utara itu diperkirakan membutuhkan dana sedikitnya USD 100 miliar untuk rekonstruksi dan pemulihan ekonomi, termasuk pembangunan infrastruktur dan sektor energi.
Dalam email itu, Libya digambarkan sebagai negara dengan cadangan energi melimpah dan tingkat pendidikan masyarakat yang relatif tinggi, sehingga dianggap memiliki daya tarik besar bagi proyek keuangan dan hukum berskala internasional. Disebutkan pula adanya komunikasi awal dengan sejumlah firma hukum global terkait skema pembayaran berbasis keberhasilan.










