Dokumen AS Bongkar Email Epstein soal Upaya Menguasai Aset Libya Bernilai Miliaran Dolar

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 2 Februari 2026 - 09:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Pribhumi.com – Dokumen resmi yang baru dipublikasikan pemerintah Amerika Serikat mengungkap rencana sensitif yang melibatkan Jeffrey Epstein dan lingkarannya. Dalam dokumen tersebut, terungkap adanya pembahasan untuk mengakses aset negara Libya yang dibekukan secara internasional pasca-kekacauan politik pada 2011.

Mengutip Al Jazeera, Senin (2/2/2026), dokumen ini dirilis Departemen Kehakiman AS pada Jumat (30/1). Salah satu email yang menjadi sorotan dikirim kepada Epstein pada Juli 2011, beberapa bulan setelah dimulainya pemberontakan yang didukung NATO terhadap Presiden Libya saat itu, Muammar Gaddafi.

Dalam korespondensi tersebut, pengirim email memaparkan peluang finansial dan hukum yang muncul akibat ketidakstabilan politik dan ekonomi Libya. Disebutkan bahwa sekitar USD 80 miliar aset Libya diyakini dibekukan di berbagai negara, dengan lebih dari USD 32 miliar di antaranya berada di Amerika Serikat.

Baca Juga :  Misteri Hajar Aswad: Batu dari Surga atau Meteorit Purba? Begini Fakta Ilmiahnya

Email itu juga menyebutkan dugaan bahwa nilai aset negara Libya yang disalahgunakan bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat dari angka resmi. Jika sebagian kecil saja dari dana tersebut dapat diidentifikasi dan dipulihkan, keuntungan yang diperoleh diklaim bisa mencapai miliaran dolar.

Lebih lanjut, pengirim email mengungkap keterlibatan sejumlah mantan personel badan intelijen Inggris, MI6, serta intelijen Israel, Mossad, yang disebut bersedia membantu proses pelacakan dan pemulihan aset tersebut.

Baca Juga :  Hamas Nyatakan Siap Lepas Kendali Gaza, Pemerintahan Akan Dialihkan ke Tim Teknokrat

Dokumen tersebut juga menyoroti potensi besar Libya di masa depan. Negara Afrika Utara itu diperkirakan membutuhkan dana sedikitnya USD 100 miliar untuk rekonstruksi dan pemulihan ekonomi, termasuk pembangunan infrastruktur dan sektor energi.

Dalam email itu, Libya digambarkan sebagai negara dengan cadangan energi melimpah dan tingkat pendidikan masyarakat yang relatif tinggi, sehingga dianggap memiliki daya tarik besar bagi proyek keuangan dan hukum berskala internasional. Disebutkan pula adanya komunikasi awal dengan sejumlah firma hukum global terkait skema pembayaran berbasis keberhasilan.

Berita Terkait

Rusia Hentikan Ekspor Bensin Mulai April 2026, Stabilitas Domestik Jadi Prioritas
Dua Prajurit TNI Gugur di Lebanon, PBB Selidiki Ledakan yang Hantam Pasukan UNIFIL
Kim Jong Un Awasi Uji Mesin Roket Canggih, Korea Utara Percepat Ambisi Rudal Global
Gelombang Demonstrasi “No Kings” Guncang AS, Jutaan Warga Tuntut Donald Trump Mundur
Zulhas Pastikan Pangan Indonesia Aman, Tak Bergantung pada Timur Tengah
Ratusan Penumpang Terlantar, Gangguan Penerbangan Meluas di Arab Saudi
Serangan Balasan Iran Hantam Pangkalan AS di Arab Saudi, Belasan Tentara Terluka
Serangan Israel ke Beirut Selatan Memanas, Hizbullah Tolak Gencatan Senjata

Berita Terkait

Selasa, 31 Maret 2026 - 15:00 WIB

Rusia Hentikan Ekspor Bensin Mulai April 2026, Stabilitas Domestik Jadi Prioritas

Selasa, 31 Maret 2026 - 13:00 WIB

Dua Prajurit TNI Gugur di Lebanon, PBB Selidiki Ledakan yang Hantam Pasukan UNIFIL

Minggu, 29 Maret 2026 - 23:59 WIB

Kim Jong Un Awasi Uji Mesin Roket Canggih, Korea Utara Percepat Ambisi Rudal Global

Minggu, 29 Maret 2026 - 15:00 WIB

Gelombang Demonstrasi “No Kings” Guncang AS, Jutaan Warga Tuntut Donald Trump Mundur

Minggu, 29 Maret 2026 - 11:00 WIB

Zulhas Pastikan Pangan Indonesia Aman, Tak Bergantung pada Timur Tengah

Berita Terbaru

Budaya dan Wisata

Makna dan Manfaat Kemenyan: Dari Tradisi Kerinci hingga Khasiat Kesehatan

Kamis, 2 Apr 2026 - 23:59 WIB