JAMBI, Pribhumi.com – Wabah Ebola yang kembali merebak di Republik Demokratik Kongo menghadapi tantangan serius, bukan hanya dari penyebaran virus, tetapi juga dari maraknya informasi palsu dan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap penjelasan medis.
Kurang dari tiga pekan sejak wabah diumumkan, sekitar 350 kasus telah terkonfirmasi dengan sedikitnya 60 korban meninggal dunia. Namun, sebagian masyarakat di wilayah terdampak masih meragukan keberadaan penyakit tersebut.
Di Mongbwalu, salah satu daerah yang menjadi pusat penyebaran wabah di Provinsi Ituri, timur laut Kongo, petugas kesehatan mengaku kesulitan meyakinkan warga mengenai bahaya Ebola.
Koordinator tim pemakaman aman dan bermartabat setempat, John Tumujimbe, mengatakan banyak warga tetap menolak mempercayai diagnosis meskipun korban jiwa terus bertambah.
Menurutnya, pada awal kemunculan kasus, masyarakat mengira penyebab kematian berasal dari malaria, tifus, atau penyakit diare. Setelah angka kematian meningkat, sampel pasien dikirim ke Institut Nasional Penelitian Biomedis Kongo (INRB), yang kemudian memastikan keberadaan virus Ebola.
Rumor Berujung Kekerasan
Ketidakpercayaan masyarakat memicu beredarnya berbagai rumor yang menyalahkan peti mati sebagai penyebab kematian. Seiring waktu, narasi tersebut berkembang menjadi tuduhan bahwa para petugas kesehatan dan pekerja kemanusiaan justru menjadi penyebar virus.
Situasi semakin memanas ketika sekelompok massa menyerang Rumah Sakit Umum Mongbwalu pada akhir Mei lalu. Mereka menuntut agar jenazah anggota keluarga diserahkan dan membakar fasilitas milik organisasi kemanusiaan Medecins Sans Frontieres (MSF).
Akibat insiden tersebut, MSF menarik seluruh personelnya dari wilayah tersebut. Kondisi ini memicu kepanikan dan membuat sejumlah pasien yang sedang dalam pemantauan melarikan diri.
Direktur Rumah Sakit Mongbwalu, Richard Lokudi, mengungkapkan sedikitnya 18 pasien yang dicurigai terinfeksi Ebola hilang dari pengawasan petugas kesehatan.
Pihak medis khawatir para pasien tersebut berpotensi menyebarkan virus kepada masyarakat yang membantu atau melindungi mereka.
Pola Hoaks yang Terus Berulang
Peneliti keamanan dan disinformasi, Christopher Nehring, menyebut pola penyebaran hoaks saat krisis kesehatan sebenarnya bukan fenomena baru.
Menurutnya, hampir setiap wabah besar selalu diikuti narasi serupa, mulai dari tuduhan bahwa virus merupakan senjata biologis buatan laboratorium, vaksin dianggap lebih berbahaya daripada penyakit, hingga klaim bahwa wabah sebenarnya tidak pernah ada.
Nehring yang turut menyusun laporan tentang wabah Ebola terbaru untuk Konrad-Adenauer-Stiftung menilai pola tersebut telah muncul berulang kali selama beberapa dekade terakhir, meskipun bentuk dan medianya terus berubah.
Faktor Ekonomi dan Konflik Politik
Pendiri lembaga pemeriksa fakta Balobaki Check, Ange Kasongo, mengungkapkan bahwa faktor ekonomi juga berpengaruh terhadap cara masyarakat memandang wabah.
Di wilayah Ituri yang kaya tambang emas, sebagian warga lebih mengaitkan kematian dengan praktik mistis dan persaingan ekonomi dibandingkan dengan penyebaran penyakit menular.
Selain itu, konflik bersenjata yang masih berlangsung di kawasan timur Kongo turut memunculkan berbagai teori konspirasi. Dalam sejumlah percakapan pribadi di media sosial, beredar tuduhan adanya upaya sistematis untuk memusnahkan penduduk wilayah tersebut.
Beberapa teori bahkan mengaitkan Presiden Kongo Felix Tshisekedi dan sejumlah ilmuwan dengan penyebaran wabah. Namun hingga kini, tidak ditemukan bukti yang mendukung tuduhan tersebut.
Pemangkasan Dana Perburuk Penanganan
Upaya penanganan wabah juga menghadapi kendala akibat berkurangnya dukungan pendanaan internasional. Sejumlah program bantuan kesehatan global mengalami pemangkasan anggaran, termasuk setelah Amerika Serikat mengurangi keterlibatan dan pendanaan pada sejumlah program kesehatan internasional.
Menurut Nehring, keterbatasan dana tidak hanya berdampak pada layanan medis, tetapi juga mempersempit ruang edukasi publik yang sangat penting untuk melawan penyebaran hoaks.
Sementara itu, Kasongo menilai pemerintah dan otoritas kesehatan sebenarnya telah berupaya menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat. Namun tantangan terbesar adalah bagaimana menjangkau komunitas-komunitas lokal yang tidak menggunakan bahasa resmi dan memiliki akses terbatas terhadap informasi terpercaya.
Ia menegaskan pentingnya melibatkan tokoh masyarakat dan pemimpin komunitas dalam penyebaran informasi kesehatan agar pesan yang disampaikan lebih mudah diterima dan dipercaya warga.
Di tengah terus bertambahnya kasus, para ahli menilai keberhasilan mengendalikan wabah Ebola tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan, tetapi juga pada kemampuan membangun kepercayaan publik dan memerangi disinformasi yang berkembang di masyarakat.






