Palembang, Pribhumi.com – Suasana duka menyelimuti ruang tunggu keluarga korban di RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang. Hambali (43), warga Way Tubasri, Kabupaten Way Kanan, Lampung, tampak terpukul setelah mengetahui anak, menantu, dan cucunya menjadi korban kecelakaan maut Bus ALS di Jalur Lintas Sumatera (Jalinsum), Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan.
Pria itu hanya bisa duduk termenung di bawah tenda penunggu keluarga korban sambil sesekali menatap telepon genggam di tangannya. Sejak mendengar kabar bus ALS terbakar usai bertabrakan dengan truk tangki minyak pada Rabu (6/5/2026), Hambali bersama keluarganya langsung berangkat menuju Palembang.
“Kami tiba tadi pagi dan langsung ke kamar jenazah,” ujar Hambali, Kamis (7/5/2026).
Di dalam bus tersebut terdapat anaknya, Agustina Maharani (24), menantunya Aldi Setiawan (26), serta cucunya Bella yang masih berusia satu tahun delapan bulan.
Menurut Hambali, keluarga kecil itu berangkat menuju Pekanbaru, Riau, untuk mencari pekerjaan di perkebunan sawit setelah mendapat ajakan dari kerabat mereka yang lebih dulu bekerja di sana.
“Aldi sebelumnya kerja serabutan di kampung. Mereka ingin mencoba peruntungan di Pekanbaru,” katanya.
Hambali mengaku tidak memiliki firasat buruk sebelum keberangkatan mereka. Bahkan beberapa hari sebelumnya, Aldi dan Rani masih sempat membangun rumah sederhana di kampung halaman.
“Saya ikut bantu beli material bangunan. Mereka baru mulai bangun rumah,” ujarnya lirih.
Rencana keberangkatan keluarga itu sempat tertunda beberapa kali. Tiket bus yang mereka beli pada Minggu (3/5/2026) tidak jadi digunakan karena tertinggal. Setelah beberapa kali gagal berangkat, akhirnya mereka berangkat pada Selasa pagi.
Namun perjalanan itu berubah menjadi tragedi. Hambali mengetahui kabar kecelakaan setelah melihat informasi di media sosial dan berita daring.
“Saya cek nomor busnya, ternyata benar bus yang mereka tumpangi,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Kesedihan paling besar dirasakan Hambali ketika mengingat cucu pertamanya, Bella, yang turut menjadi korban dalam insiden tersebut.
“Saya sangat sedih ingat cucu. Dia cucu pertama dari anak pertama saya,” ucapnya.
Keluarga berencana membawa jenazah ketiganya pulang ke Way Kanan untuk dimakamkan setelah proses identifikasi selesai dilakukan oleh tim DVI Polda Sumatera Selatan.
Sementara itu, Kamdi (45), paman Agustina, mengenang Aldi sebagai sosok pekerja keras yang memiliki impian membangun rumah untuk keluarganya.
“Aldi sempat cetak sekitar 200 batako untuk rumahnya. Saya bantu belikan pasir dan semen,” kata Kamdi.
Batako yang telah dibuat itu kini masih tersusun di halaman rumah dan belum sempat menjadi bangunan tempat tinggal yang diimpikan pasangan muda tersebut.
Menurut Kamdi, Aldi ingin mengumpulkan uang dari hasil bekerja di Pekanbaru agar dapat menyelesaikan rumah mereka.
“Kami mendukung niatnya karena dia ingin bertanggung jawab untuk keluarganya,” ujarnya.
Kini harapan itu sirna. Aldi, Rani, dan Bella menjadi korban meninggal dalam kecelakaan maut Bus ALS yang menewaskan belasan penumpang.
Pihak keluarga masih menunggu proses identifikasi jenazah sebelum pemakaman dilakukan di kampung halaman.
“Rani dan anaknya nanti dimakamkan dalam satu liang, sementara Aldi dipisah,” kata Kamdi dengan suara pelan.






