Digitalisasi Gagal, Naskah Melayu Tertua Tanjung Tanah Kembali Jadi Sorotan

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 1 Mei 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kerinci, Pribhumi.com — Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah kembali menjadi perhatian kalangan akademisi sebagai salah satu naskah berbahasa Melayu tertua yang pernah ditemukan. Manuskrip ini pertama kali diidentifikasi oleh Petrus Voorhoeve pada tahun 1941, sebelum kemudian ditegaskan signifikansinya oleh Uli Kozok pada 2002 sebagai naskah Melayu tertua di dunia.

Setelah sempat lama tidak menjadi fokus penelitian, dalam beberapa tahun terakhir perhatian terhadap naskah ini kembali meningkat. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengangkat dan melestarikan warisan budaya nasional, termasuk mendorong pengakuan naskah kuno sebagai bagian dari Memory of the World.

Pada tahun 2019, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan kunjungan ke Desa Tanjung Tanah, Kerinci. Tujuannya untuk memastikan keberadaan dan kondisi naskah yang masih disimpan oleh masyarakat adat. Meski tidak dapat diperlihatkan secara langsung karena statusnya sebagai pusaka, warga memastikan naskah tersebut tetap terjaga. Mereka juga menolak pemindahan naskah ke Jakarta, namun mengizinkan proses dokumentasi saat acara adat kenduri sko.

Baca Juga :  Pemerintah Tetapkan WFH ASN Setiap Jumat Mulai April 2026, Fokus Efisiensi Energi dan Kinerja

Rencana digitalisasi naskah yang semula dijadwalkan pada 2020 harus tertunda akibat pandemi dan baru terlaksana pada Mei 2022. Pemerintah pusat telah mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis, bahkan mengalokasikan anggaran cukup besar demi mendukung proses tersebut.

Digitalisasi sendiri merupakan metode pelestarian modern dengan memotret naskah menggunakan teknologi khusus beresolusi tinggi. Hasilnya memungkinkan akses luas bagi peneliti tanpa harus menyentuh naskah asli, sekaligus menjaga keutuhan fisiknya.

Namun, pelaksanaan di lapangan tidak berjalan sesuai harapan. Pada acara kenduri sko yang berlangsung 13 Mei 2022, banyaknya tamu dan dokumentasi yang dilakukan secara bebas membuat kondisi tidak kondusif. Waktu pengambilan gambar menjadi sangat terbatas sehingga proses digitalisasi profesional tidak dapat dilakukan.

Baca Juga :  Manfaat Makan Alpukat Saat Perut Kosong, Dari Lancarkan Pencernaan hingga Stabilkan Gula Darah

Akibatnya, kesempatan untuk mendokumentasikan naskah secara menyeluruh pun terlewat. Tidak ada hasil digital lengkap yang bisa diakses, dan dokumentasi yang ada dinilai tidak memenuhi standar untuk penelitian mendalam.

Kondisi ini menjadi penyesalan besar, mengingat potensi naskah tersebut sebagai sumber sejarah dan identitas budaya yang sangat penting. Andaikata proses digitalisasi dapat berlangsung optimal, bukan hanya Kitab Tanjung Tanah yang bisa terdokumentasi, tetapi juga naskah-naskah lain yang tersimpan di wilayah tersebut.

Kini, para peneliti dan pemerintah harus menunggu kesempatan berikutnya yang belum tentu datang dalam waktu dekat. Peristiwa ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan perhatian pemerintah pusat terhadap Kerinci sebagai lokasi penting penelitian naskah kuno di masa depan.

 

Sumber Berita: Boedaya Kerinci

Berita Terkait

Budayawan Kerinci M. Ali Surahman Tutup Usia, Dunia Sejarah dan Adat Kehilangan Sosok Berdedikasi
Sekjend Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Soroti Dugaan PETI Sungai Penetai, Kapolres Pastikan Personel Turun ke Lokasi
Merawat Marwah yang Tergadai: Mengembalikan Ruh Adat Kerinci di Tengah Pusaran Seremoni dan Kepentingan Politik
Bahas Sejarah Tombak Belang Berjanggut Jenggi, Pemangku Adat Sungai Penuh Sambangi Sanggaran Agung
“Jangan Salah Tafsir! Di Balik Simbol Rumah Gedang Ada Petuah, Hikmah dan Amanah Sko”
Silaf dan Asik dalam Adat Kerinci: Jangan Menilai Tradisi Hanya dari Apa yang Tampak
PERJALANAN LELUHUR KALBU IJUNG SKU LAMAT Menghubungkan Jalur Kekerabatan Semurup – Semerap
Melayu Bukan Sekadar Etnis, Melainkan Ruang Kebudayaan yang Mempertemukan Beragam Identitas

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Budayawan Kerinci M. Ali Surahman Tutup Usia, Dunia Sejarah dan Adat Kehilangan Sosok Berdedikasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 23:05 WIB

Sekjend Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Soroti Dugaan PETI Sungai Penetai, Kapolres Pastikan Personel Turun ke Lokasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:22 WIB

Merawat Marwah yang Tergadai: Mengembalikan Ruh Adat Kerinci di Tengah Pusaran Seremoni dan Kepentingan Politik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 11:58 WIB

Bahas Sejarah Tombak Belang Berjanggut Jenggi, Pemangku Adat Sungai Penuh Sambangi Sanggaran Agung

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:55 WIB

“Jangan Salah Tafsir! Di Balik Simbol Rumah Gedang Ada Petuah, Hikmah dan Amanah Sko”

Berita Terbaru

Sungai Penuh

Pelantikan Pimpinan STKIP Muhammadiyah Sungai Penuh 2026–2030

Senin, 26 Okt 2026 - 16:40 WIB