Jakarta, Pribhumi.com – Sebuah penelitian terbaru di Denmark mengungkap bahwa anak-anak masa kini mengalami pubertas lebih cepat dibanding generasi sebelumnya. Fenomena ini terlihat jelas pada anak perempuan yang mendapatkan menstruasi pertama lebih awal daripada usia yang dialami ibu mereka.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Epidemiology pada 7 Februari 2026 tersebut menganalisis data 15.819 anak yang tergabung dalam Danish Puberty Cohort. Para peserta lahir antara tahun 2000 hingga 2003 dan diamati selama hampir satu dekade.
Hasil penelitian menunjukkan adanya tren penurunan usia pubertas secara konsisten. Meski rata-rata percepatan hanya sekitar tiga bulan, dampaknya dinilai signifikan terhadap perkembangan anak secara keseluruhan.
Profesor Cecilia Ramlau-Hansen dari Universitas Aarhus menjelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor sejak masa kehamilan hingga masa kanak-kanak yang berkontribusi terhadap percepatan pubertas.
Selama penelitian, anak-anak melaporkan perkembangan tubuh mereka setiap enam bulan, mencakup berbagai indikator seperti pertumbuhan payudara, rambut kemaluan, menstruasi pertama, perubahan suara, hingga ejakulasi pertama.
Selain faktor genetik yang ditentukan dari usia menstruasi pertama ibu, peneliti menemukan sejumlah pemicu lain. Di antaranya adalah kondisi kesehatan ibu sebelum dan selama kehamilan, termasuk kebiasaan merokok.
Tak hanya itu, faktor gaya hidup dan lingkungan anak juga berperan besar. Anak dengan berat badan berlebih atau obesitas sebelum masa pubertas cenderung mengalami pubertas lebih cepat. Hal ini disebabkan oleh jaringan lemak yang memengaruhi produksi hormon seperti estrogen.
Faktor psikologis juga tak kalah penting. Anak yang mengalami stres kronis akibat perceraian orang tua, kurangnya peran ayah, atau konflik keluarga berpotensi mengalami percepatan pubertas hingga empat hingga lima bulan lebih cepat.
Para peneliti menjelaskan bahwa stres berkepanjangan dapat memicu sinyal dari otak yang mempercepat kematangan hormon tubuh. Oleh karena itu, lingkungan yang penuh tekanan berkontribusi terhadap pubertas dini.
Dari sisi kesehatan, pubertas yang datang terlalu cepat dapat berdampak jangka panjang. Beberapa risiko yang dikaitkan antara lain meningkatnya kemungkinan terkena diabetes tipe 2, kanker terkait hormon, serta gangguan kesehatan mental.
Pada remaja perempuan, pubertas dini kerap memicu kecemasan dan depresi akibat perasaan berbeda dari teman sebaya. Sementara pada anak laki-laki, kondisi ini dapat menyebabkan kesulitan dalam mengelola emosi meski secara fisik terlihat lebih matang.
Peneliti menegaskan bahwa pubertas bukan hanya proses biologis, tetapi juga mencerminkan kondisi kehidupan anak secara menyeluruh. Hal ini dapat menjadi dasar dalam upaya pencegahan dan pendampingan anak sejak dini.
Meski faktor genetik tidak dapat diubah, sejumlah pemicu lain masih bisa dicegah. Upaya seperti menjaga berat badan ideal anak serta menghindari kebiasaan merokok selama kehamilan dinilai dapat membantu menekan tren pubertas dini.
Ke depan, para ilmuwan berencana meneliti lebih lanjut dampak pubertas dini terhadap kesehatan, kesuburan, serta kesejahteraan mental saat anak beranjak dewasa.











