Jakarta, Pribhumi.com – Penggunaan earphone bluetooth semakin populer karena dinilai praktis dan tanpa kabel. Meski demikian, tidak sedikit orang yang merasa khawatir terhadap dampaknya bagi kesehatan otak akibat paparan radiasi.
Menanggapi hal tersebut, dosen dari IPB University, dr. Widya Eka Nugraha, MSi Med, menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti medis yang memastikan bahwa earphone bluetooth berbahaya bagi otak jika digunakan sesuai standar.
Ia menerangkan bahwa perangkat bluetooth memancarkan gelombang radio atau radio frequency (RF) yang termasuk dalam kategori radiasi non-ionisasi. Jenis radiasi ini berbeda dengan sinar-X yang bersifat ionisasi dan dapat merusak jaringan tubuh.
Menurutnya, dampak radiasi sangat bergantung pada jenisnya, seberapa besar paparan, lamanya penggunaan, serta jarak sumber radiasi dari tubuh. Pada paparan RF dengan level rendah seperti pada perangkat bluetooth, efek biologis yang mungkin terjadi hanyalah pemanasan jaringan dalam skala sangat kecil.
Berbagai perangkat yang beredar di pasaran umumnya telah memenuhi standar keamanan internasional. Bahkan, hasil penelitian yang dirujuk oleh World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa tingkat paparan RF dari perangkat konsumen berada di bawah ambang batas yang dianggap berisiko bagi kesehatan manusia.
Meski demikian, risiko tetap bisa muncul jika penggunaannya tidak bijak. Bahaya yang lebih nyata justru berasal dari volume suara yang terlalu tinggi, yang dapat merusak pendengaran secara bertahap. Selain itu, memakai earphone saat berkendara atau dalam situasi yang membutuhkan konsentrasi penuh juga dapat meningkatkan risiko kecelakaan.
Para ahli menyarankan agar penggunaan earphone dilakukan dengan volume sedang, tidak terlalu lama, serta tetap menjaga kebersihannya. Jika muncul keluhan seperti telinga nyeri, berdenging terus-menerus, keluar cairan, atau penurunan pendengaran, sebaiknya segera menghentikan pemakaian dan memeriksakan diri ke tenaga medis.
Dengan penggunaan yang tepat dan sesuai aturan, earphone bluetooth dinilai tetap aman dan tidak terbukti membahayakan otak.











