Jakarta, Pribhumi.com – Jepang mencatat penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari 2026. Ini menjadi penurunan pertama dalam empat tahun terakhir, setelah sebelumnya sektor pariwisata terus menunjukkan tren pemulihan pascapandemi.
Berdasarkan data resmi dari Japan National Tourism Organization, jumlah wisatawan asing yang datang pada Januari tercatat sebanyak 3.597.500 orang. Angka ini mengalami penurunan sebesar 4,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Melansir The Asahi Shimbun, Sabtu (21/2/2026), Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh merosotnya jumlah wisatawan dari China yang turun drastis hingga 60,7 persen. Situasi ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan politik antara kedua negara, yang berdampak langsung pada minat warga China untuk berkunjung ke Jepang.
Ketegangan ini mencuat setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, terkait situasi darurat di Taiwan, yang memicu reaksi keras dari pemerintah China. Menanggapi hal tersebut, pemerintah China bahkan mengimbau warganya untuk menunda perjalanan ke Jepang, khususnya menjelang musim liburan.
Di sisi lain, wisatawan dari Korea Selatan justru menunjukkan peningkatan signifikan. Negara tersebut menjadi penyumbang wisatawan terbesar dengan 1.176.000 kunjungan, naik 21,6 persen dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, wisatawan dari Taiwan juga meningkat menjadi 694.500 kunjungan, atau naik 17 persen.
Selain China, beberapa wilayah lain seperti Hong Kong dan Malaysia juga mencatat penurunan jumlah wisatawan. Perubahan jadwal libur Tahun Baru Imlek turut memengaruhi distribusi kedatangan wisatawan, karena tahun ini periode liburan jatuh lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebelumnya, jumlah wisatawan China sempat mengalami peningkatan kecil pada akhir 2025. Namun tren tersebut tidak bertahan lama, karena pada Desember terjadi penurunan tajam yang berlanjut hingga awal tahun 2026.
Situasi ini menjadi tantangan baru bagi industri pariwisata Jepang, yang sebelumnya berhasil bangkit setelah pembatasan perjalanan akibat pandemi COVID-19. Pemerintah Jepang kini diharapkan dapat menjaga stabilitas hubungan internasional demi mempertahankan pertumbuhan sektor pariwisata yang menjadi salah satu pilar penting ekonomi negara tersebut.











