Festival Budaya Kerinci 2025 “Balik Kudahin” Harus Keluar dari Jerat “Pamer Kostum”

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 22 November 2025 - 18:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Toni Suherman, S.H., M.H. Dpt.
Sespim MPA LAM Kabupaten Kerinci.

Festiva Budayal Kerinci 2025 “Balik Kudahin yang mungkin disebut sebagai momentum besar untuk mengangkat identitas budaya Kerinci. Namun, setiap tahun muncul kegelisahan yang sama: acara ini semakin mirip pawai kostum ketimbang perayaan nilai budaya adat lamo pusako usang yang selama ini digembar-gemborkan.

Di panggung depan terlihat megah, tapi di ruang-ruang makna justru terasa kosong. Tradisi Bukan Boneka Panggung, Banyak penampilan hanya mengejar estetika. Atraksi budaya menjadi sekadar tontonan, bukan tuntunan. Gerak tari dipoles, musik dipadatkan, kostum dimeriahkan—tetapi nilai adat yang seharusnya menjadi “roh” malah ditinggalkan.

Padahal yang membedakan Kerinci dari daerah lain bukan sekadar warna kain atau gaya berpakaian. Yang membedakan adalah petatah-petitih, falsafah, tambo, tata hidup, dan nilai adat. Tanpa itu semua, setiap pertunjukan hanyalah imitasi kosong.

Adat Lamo Pusako Usang Belum Menjadi Pusaka Festival. Kita punya warisan diantaranya Tambo Kerinci, Ajaran adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah, Luhah dan sistem hukum adat, Cerita-cerita ninik-mamak, Filosofi tigo takah, Upacara adat yang sarat makna. Namun, elemen-elemen ini jarang menjadi pusat festival. Yang sering muncul justru versi ringan, versi dipermak, versi “layak panggung”, bukan versi yang mencerminkan kedalaman sejarah Kerinci. Festival yang seharusnya merawat pusaka malah sekadar memoles kulit.

Baca Juga :  Cindaku, Antara Mitos, Spiritualitas, dan Identitas Budaya Kerinci

Generasi Muda Butuh Penjelasan, Bukan Pertunjukan Kosmetik, Anak-anak sekolah yang menari memakai kostum adat seringkali tidak paham: apa arti gerak mereka, apa makna simbol yang mereka pakai, apa pesan orang tuo-tuo di balik setiap bentuk seni. Tanpa edukasi, festival hanya memproduksi generasi peniru, bukan generasi pewaris.

Balik Kudahin bisa diartikan juga Balik ke Akar, Jika benar festival ini bernama Balik Kudahin, maka mestinya: kembali pada nilai, kembali pada sejarah, kembali pada adat, kembali pada pusako. Bukan balik pada rutinitas tahunan berupa pawai, dekorasi, dan pesta hiburan. Tema besar Balik Kudahin jangan hanya dipakai sebagai hiasan baliho.

Baca Juga :  Harga Sawit Turun Dua Pekan Terakhir, Petani Keluhkan Pupuk Mahal

Saatnya Perubahan: Festival Kerinci Harus Berani Mengangkat yang Pusako, Festival ini harus punya keberanian menampilkan: ninik-mamak sebagai narasumber nilai, bukan sekadar tamu undangan, ritual adat yang dijelaskan maknanya, tambo dan cerita tua yang dipentaskan secara teatrikal, pameran arsip adat, bukan hanya fashion show, diskusi budaya, bukan cuma lomba-lomba kosmetik lipe service. Barulah festival mengakar, bukan sekadar meriah.

Festival Harus Menjadi Tiang, Bukan Dekorasi, Jika Tema Balik Kudahin terus berjalan tanpa mengangkat adat lamo pusako usang, maka festival hanya akan menjadi agenda seremonial yang tak meninggalkan bekas kecuali sampah plastik dan foto-foto di media sosial. Kerinci butuh festival yang tidak hanya memoles, tetapi menghidupkan.Tidak hanya menunjukkan, tetapi mewariskan. Tidak hanya tampil, tetapi memaknai. Karena adat budaya bukan kostum—ia adalah identitas.

 

Berita Terkait

Festival Budaya Kerinci 2026 Resmi Ditutup, Ribuan Warga Meriahkan Dermaga Danau Kerinci
Budayawan Kerinci M. Ali Surahman Tutup Usia, Dunia Sejarah dan Adat Kehilangan Sosok Berdedikasi
Sekjend Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Soroti Dugaan PETI Sungai Penetai, Kapolres Pastikan Personel Turun ke Lokasi
Merawat Marwah yang Tergadai: Mengembalikan Ruh Adat Kerinci di Tengah Pusaran Seremoni dan Kepentingan Politik
Bahas Sejarah Tombak Belang Berjanggut Jenggi, Pemangku Adat Sungai Penuh Sambangi Sanggaran Agung
“Jangan Salah Tafsir! Di Balik Simbol Rumah Gedang Ada Petuah, Hikmah dan Amanah Sko”
Silaf dan Asik dalam Adat Kerinci: Jangan Menilai Tradisi Hanya dari Apa yang Tampak
PERJALANAN LELUHUR KALBU IJUNG SKU LAMAT Menghubungkan Jalur Kekerabatan Semurup – Semerap

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:23 WIB

Festival Budaya Kerinci 2026 Resmi Ditutup, Ribuan Warga Meriahkan Dermaga Danau Kerinci

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Budayawan Kerinci M. Ali Surahman Tutup Usia, Dunia Sejarah dan Adat Kehilangan Sosok Berdedikasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 23:05 WIB

Sekjend Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Soroti Dugaan PETI Sungai Penetai, Kapolres Pastikan Personel Turun ke Lokasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:22 WIB

Merawat Marwah yang Tergadai: Mengembalikan Ruh Adat Kerinci di Tengah Pusaran Seremoni dan Kepentingan Politik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 11:58 WIB

Bahas Sejarah Tombak Belang Berjanggut Jenggi, Pemangku Adat Sungai Penuh Sambangi Sanggaran Agung

Berita Terbaru

Sungai Penuh

Pelantikan Pimpinan STKIP Muhammadiyah Sungai Penuh 2026–2030

Senin, 26 Okt 2026 - 16:40 WIB

Nasional

PDIP Buka Peluang Diskusi dengan PKS soal Polemik Ijazah Gibran

Minggu, 25 Okt 2026 - 22:47 WIB