Jakarta, Pribhumi.com – Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Dr. (H.C) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, menyoroti persoalan serius terkait kualitas sistem tata suara di masjid-masjid Indonesia. Ia menyebut, sebagian besar aktivitas jamaah di masjid berkaitan langsung dengan kegiatan mendengarkan, namun ironisnya kualitas audio masih jauh dari ideal.
Dalam kegiatan Pelatihan Akustik Masjid 2026 yang digelar di Paragon Community Hub, Jakarta Selatan, Minggu (25/1/2026), Jusuf Kalla menjelaskan bahwa sekitar 80 persen kegiatan di masjid berupa ceramah, khutbah, dan pembacaan ayat suci yang mengandalkan sistem suara.
“Jika sebagian besar aktivitasnya mendengar, tetapi sistem audionya tidak tepat, maka esensi ibadah bisa terganggu,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan pengamatan DMI, sekitar 75 persen masjid di Indonesia masih memiliki sistem sound system yang bermasalah, baik dari sisi pemasangan maupun pengoperasian.
Menurut Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 itu, persoalan utama bukan semata pada peralatan, melainkan pada cara pemasangan yang kurang memperhatikan kaidah akustik. Tidak jarang, pemasangan dilakukan tanpa perencanaan teknis yang matang sehingga volume suara justru berlebihan dan tidak nyaman.
“Sering kali volume dibesarkan tanpa mempertimbangkan kebutuhan. Padahal yang lebih penting adalah kejernihan, bukan kerasnya suara,” jelasnya.
JK menekankan bahwa sistem audio masjid harus disesuaikan dengan ukuran bangunan, kondisi lingkungan sekitar, serta karakter masyarakat setempat. Ia menegaskan bahwa masjid merupakan ruang ibadah yang membutuhkan suasana tenang dan khusyuk.
“Masjid itu tempat ibadah, bukan tempat hiburan. Kesyahduan harus dijaga. Suara yang terlalu keras justru menghilangkan kekhusyukan,” pungkasnya.










