Sambut Ramadhan, Wako Alfin dan Warga Enam Luhah Gotong Royong di Petilasan Leluhur

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 8 Februari 2026 - 19:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sungai Penuh, Pribhumi.com — Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Pemerintah Kota Sungai Penuh bersama masyarakat Enam Luhah menggelar gotong royong akbar, Minggu (8/2/2026). Kegiatan tersebut dihadiri langsung Wali Kota Sungai Penuh Alfin, S.H., bersama Wakil Wali Kota Azhar Hamzah sebagai bentuk penguatan kebersamaan sekaligus pelestarian nilai adat dan budaya daerah.

Kehadiran pimpinan daerah itu disambut hangat oleh masyarakat. Warga tampak antusias mengikuti kegiatan gotong royong dengan berbaur bersama jajaran pemerintah, mencerminkan kekompakan serta semangat kebersamaan yang masih kuat di tengah masyarakat Sungai Penuh.

Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur pimpinan dan anggota DPRD Kota Sungai Penuh, Forkopimda, Sekretaris Daerah Alpian, Ketua TP PKK Ny. Sri Kartini Alfin, Ketua Dharma Wanita Winda Rahyu, para kepala OPD, camat setempat, serta tokoh adat dan tokoh masyarakat.

Selain gotong royong, rombongan pemerintah daerah juga meninjau Rumah Laheak yang merupakan bangunan bersejarah yang didirikan pada tahun 1874. Peninjauan tersebut dilanjutkan dengan ziarah ke makam leluhur nenek moyang Enam Luhah Sungai Penuh sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai adat dan sejarah daerah.

Baca Juga :  Projo Tegas Menolak Wacana Polri Berada di Bawah Kementerian

Wali Kota Sungai Penuh Alfin menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat merupakan faktor utama dalam mendukung keberhasilan pembangunan daerah. Menurutnya, pembangunan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.

“Pembangunan Kota Sungai Penuh membutuhkan kebersamaan dan semangat gotong royong agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Alfin.

Saat meninjau Rumah Laheak, Alfin menekankan pentingnya menjaga peninggalan sejarah sebagai warisan budaya daerah. Ia menilai Rumah Laheak bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol perjalanan sejarah dan kearifan lokal masyarakat Sungai Penuh.

“Rumah Laheak ini merupakan simbol sejarah yang harus kita rawat dan lestarikan agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” tegasnya.

Dalam kegiatan ziarah ke makam leluhur, Alfin juga menyampaikan bahwa penghormatan terhadap para pendahulu merupakan bagian penting dalam menjaga jati diri daerah di tengah perkembangan zaman.

“Dengan menghormati leluhur serta melestarikan adat dan budaya, kita menjaga jati diri Sungai Penuh agar tetap kuat dan tidak tergerus perubahan zaman,” tambahnya.

Baca Juga :  Gunung Ibu Kembali Erupsi, Abu Vulkanik Membumbung 600 Meter di Halmahera Barat

Sementara itu, Budayawan Kerinci yang juga akademisi, Deky Saputra, menilai Rumah Laheak memiliki nilai sejarah penting dan layak mendapatkan perhatian serius. Ia menyarankan agar bangunan tersebut dilakukan pemugaran melalui proses restorasi, rehabilitasi, dan konsolidasi.

Menurutnya, Rumah Laheak termasuk dalam kategori Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Namun, ia menekankan perlunya proses penetapan resmi sebagai cagar budaya agar perlindungan dan pelestariannya dapat dilakukan secara optimal.

Deky juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini Kota Sungai Penuh belum memiliki peninggalan sejarah dan purbakala yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya, padahal potensi peninggalan sejarah di daerah tersebut sangat banyak.

Melalui kegiatan gotong royong, peninjauan situs sejarah, serta ziarah leluhur ini, Pemerintah Kota Sungai Penuh berharap sinergi antara pemerintah, DPRD, Forkopimda, serta masyarakat semakin kuat dalam membangun daerah yang tetap berlandaskan nilai kebersamaan, adat, dan pelestarian budaya lokal.

Berita Terkait

Tarif Travel Kerinci–Sungai Penuh Naik, Ini Penjelasan Dishub
Makna Kerinci sebagai Alam Kunci dalam filosofi Adat
Obsidian Kerap Disangka “Gigi Petir”, Antara Mitos Lokal dan Fakta Ilmiah
Dana Indonesia Raya 2026 Dibuka, Hibah Kebudayaan Rp 500 Miliar Siap Disalurkan
Studi Denmark Ungkap Pubertas Anak Kini Datang Lebih Cepat, Ini Penyebab dan Risikonya
Kemenyan dalam Tradisi Kerinci: Warisan Leluhur, Aroma Spiritual, dan Manfaat Kesehatan
Makna Mendalam Tradisi Tepung Tawar dalam Budaya Melayu: Simbol Doa, Kesucian, dan Kehormatan
Kenaikan Tarif Travel Disepakati, Dishub Kerinci Masih Lakukan Pembahasan

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 17:00 WIB

Makna Kerinci sebagai Alam Kunci dalam filosofi Adat

Jumat, 3 April 2026 - 15:51 WIB

Obsidian Kerap Disangka “Gigi Petir”, Antara Mitos Lokal dan Fakta Ilmiah

Jumat, 3 April 2026 - 15:00 WIB

Dana Indonesia Raya 2026 Dibuka, Hibah Kebudayaan Rp 500 Miliar Siap Disalurkan

Jumat, 3 April 2026 - 13:00 WIB

Studi Denmark Ungkap Pubertas Anak Kini Datang Lebih Cepat, Ini Penyebab dan Risikonya

Kamis, 2 April 2026 - 23:59 WIB

Kemenyan dalam Tradisi Kerinci: Warisan Leluhur, Aroma Spiritual, dan Manfaat Kesehatan

Berita Terbaru