Kerinci, Pribhumi.com — Ratusan petani di Kecamatan Air Hangat dan Air Hangat Barat tengah menghadapi masa-masa sulit akibat terganggunya sistem pengairan yang mengaliri lahan persawahan mereka. Minimnya suplai air membuat ratusan hektare sawah mengering dan berpotensi gagal panen untuk kedua kalinya dalam setahun.
Pak Wili (60), salah satu petani yang sawahnya terdampak, mengungkapkan bahwa kondisi kekeringan ini membuat seluruh jerih payahnya selama musim tanam sia-sia. Tanaman padi yang baru ditanam berubah menguning karena tidak mendapatkan pasokan air.
“Ini sudah yang kedua kali dalam satu tahun. Seperti yang terlihat, benih yang kami tanam menguning karena tidak ada air,” ujarnya dengan nada pasrah.
Nasib serupa juga dialami Amirzen (57), petani asal Desa Pasar Semurup. Ia mengatakan bahwa sumber air berada jauh di bagian hulu, sehingga dirinya harus berjaga sepanjang malam untuk memastikan aliran air tetap mengalir ke sawahnya, meski jumlahnya sangat terbatas dan harus berebut dengan petani lain.
“Saya harus menjaga aliran air semalaman. Itu pun tidak banyak, karena kami sama-sama membutuhkan,” tuturnya.
Simak Cuplikan AndalasTV disini
Amirzen menegaskan bahwa sawah bagi mereka adalah sumber utama kehidupan. Jika lahan tidak digarap, mereka kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Mewakili keluhan para petani lainnya, Amirzen berharap pemerintah segera melakukan perbaikan dan penataan kembali sistem irigasi agar distribusi air dapat kembali normal. Para petani menilai pembenahan ini sangat mendesak agar mereka tidak terus-menerus mengalami kerugian.










