Jakarta, Pribhumi.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan kecaman keras terhadap serangan Rusia yang kembali menargetkan infrastruktur sipil Ukraina. Serangan tersebut berdampak serius terhadap kehidupan warga, terutama di tengah musim dingin, dengan lebih dari satu juta orang terpaksa bertahan tanpa pemanas dan pasokan air bersih.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, melalui juru bicaranya Stephane Dujarric, menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas publik telah memperburuk kondisi kemanusiaan di Ukraina. Infrastruktur vital seperti listrik, pemanas, dan air dilaporkan lumpuh akibat rentetan serangan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
PBB menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional. Menurut Guterres, sasaran sipil tidak boleh dijadikan target dalam konflik bersenjata apa pun dan serangan semacam ini tidak memiliki pembenaran hukum maupun moral.
Wilayah Dnipropetrovsk menjadi salah satu area yang terdampak paling parah. Di wilayah ini, suhu musim dingin yang turun hingga di bawah titik beku memperburuk penderitaan warga yang kehilangan akses pemanas. Pemerintah Ukraina menyebut kerusakan fasilitas energi terjadi secara luas akibat serangan udara Rusia.
Situasi serupa juga dilaporkan di Zaporizhzhia, di mana serangan drone berskala besar menyebabkan pemadaman listrik massal. Operator jaringan listrik nasional Ukrenergo menyebut sejumlah gardu dan jaringan distribusi mengalami gangguan serius.
Menteri Restorasi Ukraina, Oleksiy Kuleba, mengatakan proses perbaikan terus dilakukan meski menghadapi tantangan besar. Pemerintah berupaya memulihkan layanan dasar bagi jutaan warga secepat mungkin di tengah ancaman serangan lanjutan.
Sementara itu, Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa Rusia melancarkan serangan menggunakan hampir seratus drone. Sebagian besar berhasil dicegat, namun sejumlah drone lainnya tetap menghantam target dan menyebabkan kerusakan infrastruktur penting, termasuk fasilitas energi di Dnipropetrovsk.










