Kerinci, Pribhumi.com — Tokoh adat Kerinci, Safwandi., DPT, menyampaikan kritik pedas atas hasil Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Provinsi Jambi 2025 di Kabupaten Muaro Jambi. Dalam ajang tersebut, Kabupaten Kerinci harus menerima kenyataan finis di posisi paling akhir dengan perolehan nilai yang sangat jauh tertinggal dari daerah lain.
Menggunakan kias adat, Safwandi menggambarkan kondisi tersebut ibarat ayam sabung yang dilepas ke gelanggang tanpa pernah dipelihara dengan benar oleh tuannya. Ungkapan adat “tibo diternak, ternak dipeliharo” menurutnya merupakan pesan agar siapa pun yang bertanggung jawab mampu memahami peran dan kewajibannya secara sungguh-sungguh.
Sebagai Sekretaris Jenderal Lembaga Adat Melayu Sakti Alam Kerinci, ia menegaskan bahwa hasil memalukan ini harus menjadi bahan evaluasi serius, terutama bagi pemerintah daerah dan dinas terkait. Ia menilai perhatian terhadap pembinaan keagamaan, adat, dan syarak selama ini masih jauh dari optimal.
“Semoga capaian tahun ini dapat menjadi cambuk. Kita berharap pemerintah daerah dan dinas terkait benar-benar berbenah agar Kerinci tidak kembali dipermalukan di gelanggang besar seperti ini,” ujarnya.
Pada MTQ ke-54 Provinsi Jambi 2025, Kota Jambi tampil sebagai juara umum dengan total nilai 703 poin, disusul Kabupaten Muaro Jambi (532 poin), dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat (410 poin). Sementara Kota Sungai Penuh meraih 187 poin.
Di bawahnya terdapat Kabupaten Batanghari (174 poin), Sarolangun (142 poin), Tanjung Jabung Timur (107 poin), Merangin (84 poin), Tebo (79 poin), Bungo (61 poin), dan Kerinci di posisi terakhir dengan hanya 26 poin.













