Oleh: Safwandi., Dpt (Sekjend Lembaga Adat Melayu Sakti Alam Kerinci)
Budaya dan syiar Islam merupakan dua unsur yang saling menguatkan. Budaya berfungsi sebagai wadah yang mengekspresikan nilai-nilai Islam melalui seni, tradisi, adat, dan ilmu pengetahuan. Sementara itu, syiar Islam adalah upaya penyampaian dan penyebaran ajaran Islam kepada masyarakat. Integrasi keduanya tampak dalam berbagai bentuk, seperti seni kaligrafi, arsitektur masjid, hingga metode dakwah berbasis kearifan lokal. Meskipun demikian, umat tetap perlu membedakan antara ajaran syariat yang bersifat prinsip dan elemen budaya yang boleh selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Di Kerinci, nilai-nilai Islam disampaikan melalui Petatah-Petitih (Kato Adat), salah satunya ungkapan:
“Muresap pado tap patalo bumi, muresap pado tujuh tap patalo langit.”
Pepatah ini merujuk pada konsep Martabat Tujuh, suatu kerangka filsafat ketuhanan yang berasal dari ajaran Imam Muhyiddin Ibn Arabi (w. 1240 M). Dalam ajaran ini, Allah menampakkan diri-Nya dalam tujuh martabat atau tingkatan wujud.
1. Martabat Ahadiyah
Disebut juga lâ ta’yun atau al-ilthlâq, yaitu martabat Dzat yang mutlak dan suci dari segala sifat dan ikatan. Inilah puncak kemurnian keberadaan, di mana tidak ada martabat di atasnya.
2. Martabat Wahdah
Merupakan Ta’yun Awwal, yaitu pengetahuan Allah tentang Dzat, Sifat, dan seluruh makhluk dalam bentuk global tanpa perbedaan. Disebut pula Haqiqah Muhammadiyah.
3. Martabat Wahidiyah
Disebut Ta’yun Tsani, yaitu pengetahuan Allah secara rinci tentang makhluk, sifat dan pembeda di antara mereka. Martabat ini dinamakan juga Haqiqah Insaniyah.
Ketiga martabat awal ini masih berada dalam wilayah Ilmu Allah dan belum memasuki ranah penciptaan.
4. Martabat ‘Alam al-Arwah
Merupakan alam ruhani, sederhana, dan tidak tersusun, yang menjadi awal manifestasi makhluk.
5. Martabat ‘Alam al-Mitsal
Alam yang lebih halus, tersusun namun tidak menerima pemecahan atau perbedaan bagian secara fisik.
6. Martabat ‘Alam al-Ajsam
Alam jasmani, alam fisik yang dapat dibagi, dibedakan, dan tampak secara nyata.
7. Martabat al-Insan
Martabat puncak manifestasi, di mana seluruh martabat sebelumnya berkumpul. Martabat ini paling sempurna terwujud pada diri Nabi Muhammad SAW sebagai Khatam an-Nabiyyin.
Ajaran Martabat Tujuh memegang peranan penting dalam proses Islamisasi di Nusantara, (khususnya di Kerinci), terutama melalui ulama sufi yang mengembangkan tasawuf falsafi. Namun, ketika kolonialisme Belanda di Indonesia dan Inggris di Malaysia mulai menguat, ajaran ini perlahan memudar. Pengaruhnya digantikan oleh tasawuf ‘amali ala Imam Al-Ghazali yang lebih menekankan aspek syariat. Karena itu banyak pesantren kemudian melarang pengajaran Martabat Tujuh, meskipun ajaran ini telah berhasil memperteguh aqidah dan tauhid masyarakat pada masa awal penyebaran Sempurnanya Syariat Islam di Bhumi Sakti Alam Kerinci.













