Gaza, Pribhumi.com — Jalur Gaza kembali dilanda ketegangan setelah serangan udara Israel pada Kamis (20/11/2025) menewaskan sedikitnya lima warga sipil. Insiden ini memunculkan kekhawatiran internasional bahwa kesepakatan gencatan senjata yang telah berlangsung berbulan-bulan bisa terburai.
Qatar, yang selama ini berperan sebagai mediator utama, mengecam tindakan Israel dan menyebut serangan tersebut sebagai bentuk “eskalasi serius yang dapat merusak fondasi gencatan senjata.”
Serangan pagi itu terjadi hanya sehari setelah Gaza mencatat salah satu hari paling mematikan sejak kesepakatan penghentian tembak dimulai pada 10 Oktober. Di saat bersamaan, Israel juga melancarkan serangan terhadap posisi Hizbullah di Lebanon, meski wilayah itu telah hampir setahun berada dalam suasana gencatan.
Menurut Mahmud Bassal, juru bicara pertahanan sipil Gaza, lima korban tewas dalam serangan yang menghantam wilayah timur Khan Yunis. Tiga di antaranya berasal dari satu keluarga, termasuk seorang bayi perempuan berusia satu tahun, sebagaimana dikonfirmasi oleh Rumah Sakit Nasser.
“Kami tertidur dengan tenang dan tidak menginginkan konflik ini kembali,” ujar Sabri Abu Sabt, yang kehilangan putra serta cucunya.
“Korban terus berjatuhan setiap hari. Sampai kapan kami harus hidup seperti ini? Apakah hidup layak bukan hak kami?” tutur Tala Abu al-Ala, yang kehilangan saudara perempuannya.
Meski gencatan masih berlaku, serangan Israel terhadap target yang diklaim milik Hamas tetap berlanjut. Data Kementerian Kesehatan Gaza menyebut lebih dari 312 warga Palestina tewas sejak kesepakatan penghentian tembak diberlakukan.
“Kami takut perang akan kembali pecah,” kata Lina Kuraz, warga Gaza.
“Tidak ada perubahan berarti,” tambah Mohammed Hamdouna, yang kini tinggal di tenda di tengah reruntuhan kota serta minimnya kebutuhan dasar.
Sehari sebelumnya, serangan Israel menewaskan 14 orang di Kota Gaza dan 13 orang di Khan Yunis. Ahlam Halas, yang menggendong jenazah keponakan berusia empat bulan, berkata lirih, “Ia bahkan belum sempat merayakan kelahirannya.”
Menurut kesepakatan gencatan yang ditengahi Amerika Serikat, pasukan Israel seharusnya mundur di belakang Garis Kuning. Namun, juru bicara pemerintah Israel, Shosh Bedrosian, menyatakan bahwa “Hamas terus melanggar gencatan,” dan menegaskan bahwa Israel berhak mengambil keputusan operasi secara mandiri.
Seorang pejabat AS menyebut Washington telah lebih dahulu diberi informasi terkait operasi tersebut.
Konflik kembali meningkat sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.221 warga Israel. Serangan balasan Israel, menurut data yang dianggap kredibel oleh PBB, telah menewaskan sedikitnya 69.546 warga Gaza. Meski demikian, analis militer Eran Ortal menilai bahwa potensi pecahnya perang berskala besar dalam waktu dekat masih kecil, mengingat tekanan internasional agar Israel mempertahankan gencatan senjata.










