Penelitian akademisi ITB mengangkat legenda leluhur sebagai media edukasi budaya berbasis teknologi interaktif.
KERINCI, Pribhumi.com – Di tengah kekayaan tradisi dan budaya masyarakat Kerinci, Provinsi Jambi, hidup sebuah legenda yang terus diwariskan lintas generasi, yakni kisah Cindaku, sosok yang dikenal sebagai manusia harimau. Cerita ini tidak sekadar menjadi folklore, tetapi juga mengandung nilai spiritual, adat, serta filosofi hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Upaya pelestarian kisah tersebut kini mendapat perhatian dari kalangan akademisi. Salah satunya dilakukan oleh Malikha Caesarani, mahasiswi Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam penyusunan karya ilmiah berjudul “Perancangan Buku Interaktif tentang Mitologi Cindaku Berbasis Augmented Reality bagi Remaja sebagai Pengenalan Budaya Kerinci”, Malikha menggali informasi langsung dari tokoh adat Kerinci, Safwandi, Dpt., yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Lembaga Adat Melayu Sakti Alam Kerinci (LAM-SAK).
Safwandi menjelaskan, dalam kepercayaan masyarakat Kerinci, Cindaku diyakini sebagai sosok harimau gaib yang disebut “Uhang Tuo dalam Imbo”, yakni penjaga kawasan tertentu yang dianggap sakral.
Menurutnya, masyarakat adat Kerinci memiliki penghormatan tinggi terhadap harimau sehingga penyebutan langsung terhadap satwa tersebut dianggap tabu. Masyarakat lebih memilih menggunakan istilah lain seperti Uhang Tuo dalam Imbo, Tuo Gaek, atau Penunggu Mattang.
“Dalam kepercayaan masyarakat Kerinci, makhluk gaib ini diyakini dapat memberikan pertolongan kepada keturunan Kerinci apabila berada dalam situasi genting. Apobilo lah terimpit telu di batu, mako diseru cepat tibo dipanggin beliau cepat datang,” ujar Safwandi.
Ia menambahkan, dalam sejumlah tradisi adat seperti kenduri SKO, terdapat keyakinan bahwa keturunan asli Kerinci dapat menunjukkan perilaku menyerupai harimau sebagai simbol kekuatan spiritual warisan leluhur. Keyakinan tersebut terus hidup melalui tradisi lisan, petuah ninik mamak, serta cerita yang berkembang di lingkungan keluarga.
Secara filosofi budaya, masyarakat adat Kerinci tidak memandang Cindaku sebagai sosok menakutkan. Harimau justru dipandang sebagai simbol kekuatan, keberanian, dan kewibawaan yang patut dihormati. Dalam berbagai cerita rakyat, Cindaku juga diyakini berperan menjaga hutan serta wilayah adat dari kerusakan maupun pelanggaran norma adat.
Legenda ini juga sering dikaitkan dengan garis keturunan tertentu dalam masyarakat Kerinci. Kemampuan spiritual tersebut diyakini sebagai amanah leluhur kepada generasi tertentu yang memiliki tanggung jawab menjaga kehormatan adat dan kelestarian kampung halaman.
Keberadaan kisah Cindaku turut berkaitan dengan kondisi ekologis Kerinci yang merupakan habitat Harimau Sumatra, satwa langka yang hidup di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Keterkaitan antara legenda dan realitas alam tersebut semakin menguatkan posisi harimau sebagai simbol sakral sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Safwandi menegaskan, legenda Cindaku bukan sekadar cerita mitos, melainkan sarana pendidikan moral bagi generasi muda.
“Legenda Cindaku mengajarkan masyarakat untuk menghormati alam, menjaga adat istiadat, serta memelihara keseimbangan antara manusia dan lingkungan,” tegasnya.
Ia juga menyayangkan mulai bergesernya nilai-nilai luhur tersebut pada masa kini. Menurutnya, ketidakseimbangan alam yang terjadi saat ini dapat dilihat dari meningkatnya bencana seperti banjir dan longsor.
Safwandi menyebut, leluhur masyarakat Kerinci dahulu sangat menghargai alam sehingga tercipta hubungan harmonis antara manusia dan harimau.
“Makanya tetua-tetua dulu punya serabat. Serabat itu artinya sahabat,” katanya.
Ia menegaskan, alam akan memperlakukan manusia dengan baik apabila manusia juga menjaga dan memperlakukannya dengan baik.
Hingga kini, legenda Cindaku tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Kerinci. Warisan leluhur tersebut terus hidup sebagai simbol kearifan lokal yang memperkuat nilai spiritual sekaligus menjaga hubungan harmonis masyarakat dengan alam sekitarnya.










