JAMBI, Pribhumi.com — Upaya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang digelar di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan. Kedua negara justru saling menyalahkan atas kegagalan pembicaraan yang diharapkan mampu mengakhiri konflik berkepanjangan.
Ketegangan antara kedua pihak meningkat sejak serangan militer yang melibatkan Israel pada akhir Februari 2026, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke sejumlah target, termasuk fasilitas militer AS di kawasan Teluk.
Dampak konflik tersebut sangat besar. Di Iran, ribuan korban jiwa dan puluhan ribu luka-luka dilaporkan. Sementara itu, di Israel dan pihak militer AS, korban jiwa dan luka juga terus bertambah akibat serangan balasan yang terjadi secara beruntun.
Perundingan yang berlangsung maraton selama hampir satu hari penuh di Islamabad belum menghasilkan titik temu. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut diskusi yang dilakukan sebenarnya cukup intens dan substansial, namun tetap gagal mencapai kesepakatan akhir.
Ia menegaskan bahwa belum tercapainya kesepakatan menjadi kerugian besar bagi Iran, meskipun pihak AS mengaku telah menunjukkan fleksibilitas dalam negosiasi tersebut.
Dari pihak Iran, juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei menyatakan bahwa pembicaraan berlangsung serius. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan negosiasi sangat bergantung pada itikad baik Washington.
Iran juga mendesak AS untuk menghentikan tuntutan yang dianggap berlebihan dan melanggar hukum internasional, serta meminta pengakuan atas hak-hak sah Iran, termasuk dalam isu energi nuklir damai.
Salah satu poin krusial yang menjadi perdebatan adalah pengembangan program nuklir Iran. AS menilai Iran belum memberikan jaminan tegas untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dalam jangka panjang, meskipun fasilitas pengayaan sebelumnya telah dihancurkan.
Selain isu nuklir, pembahasan juga mencakup keamanan di Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan energi dunia, serta upaya penghentian total konflik militer.
Di sisi lain, Iran menuding AS sengaja memperumit perundingan dengan tuntutan yang dinilai tidak realistis. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa sejumlah syarat yang diajukan AS, termasuk terkait Selat Hormuz dan kebijakan nuklir, dianggap terlalu ambisius.
Sumber internal Iran bahkan menyebut Washington tengah mencari alasan untuk meninggalkan meja perundingan, sekaligus memperbaiki citra internasionalnya yang dinilai menurun akibat konflik tersebut.
Meski pembicaraan sempat melibatkan mediator dari Pakistan, kedua delegasi kini kembali berkonsultasi dengan tim masing-masing. Kelanjutan negosiasi masih belum menemui kepastian.











