JAKARTA, Pribhumi.com — Anggota Tim Rukyatul Hilal Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag), Cecep Nurwendaya, memaparkan hasil perhitungan awal (hisab) terkait penentuan 1 Ramadan 1447 Hijriah. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa hasil tersebut masih bersifat informatif dan belum menjadi keputusan resmi pemerintah.
Menurut Cecep, berdasarkan metode hisab dengan kriteria imkanur rukyat yang disepakati forum MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), awal Ramadan 1447 H secara perhitungan astronomi diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Ia menjelaskan, hasil hisab tersebut tetap membutuhkan verifikasi melalui rukyatul hilal atau pengamatan langsung di lapangan. Hasil rukyat itulah yang nantinya akan menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat penetapan awal Ramadan.
Posisi Hilal Belum Penuhi Kriteria
Cecep mengungkapkan, hingga saat pemaparan dilakukan, posisi hilal di wilayah Indonesia belum memenuhi kriteria MABIMS. Berdasarkan kesepakatan terbaru di Bali pada 2023, syarat elongasi geosentrik minimal yang harus dipenuhi adalah 6,4 derajat dengan tinggi hilal minimal 3 derajat di atas ufuk.
Ia menekankan bahwa kedua parameter tersebut tidak bisa dipisahkan. Artinya, tinggi hilal dan elongasi harus terpenuhi secara bersamaan agar bisa ditetapkan sebagai awal bulan Hijriah.
“Jika masih berada di zona yang belum memenuhi ambang batas, maka belum bisa dinyatakan masuk awal bulan,” jelasnya.
Perbedaan dengan Negara Lain
Dalam pemaparannya, Cecep juga menyinggung bahwa di beberapa wilayah seperti Amerika, posisi hilal telah memenuhi kriteria MABIMS. Namun, negara tersebut tidak terikat pada kesepakatan MABIMS sehingga tidak menjadi acuan bagi Indonesia.
Penentuan awal Ramadan di Indonesia tetap berpedoman pada kesepakatan empat negara anggota MABIMS dan hasil pemantauan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Keputusan resmi mengenai 1 Ramadan 1447 H akan diumumkan pemerintah setelah sidang isbat yang digelar pada malam hari usai proses rukyatul hilal dilakukan di berbagai titik pemantauan di Tanah Air.










