SUNGAI PENUH, Pribhumi.com — Di ujung Desa Pendung Hiang, berdiri sebuah rumah kayu tua yang seolah menolak roboh. Papan-papan lapuknya berlubang, atap sengnya bocor, dan tiangnya condong ke tanah.
Di dalamnya, tiga kepala keluarga tinggal dalam satu ruang sempit, berjuang mempertahankan hidup di bawah atap yang nyaris runtuh.
Salah satu penghuni rumah itu, Abdul Gani, duduk di beranda kecil yang mulai patah. Ia menatap hujan yang turun di sore hari, menetes dari sela-sela atap.
“Sudah sering kami ajukan bantuan, tapi tak pernah juga masuk daftar penerima. Entah apa kurangnya kami,” katanya pelan, menatap dinding rumah yang kian rapuh.
Selama bertahun-tahun, keluarga Abdul Gani hidup di antara kebocoran dan dingin malam. Setiap kali hujan deras, ember-ember diletakkan di berbagai sudut untuk menampung air. Anak-anaknya tidur berhimpitan, sementara suara angin yang masuk dari celah papan menjadi musik malam yang tak diinginkan.
Sebulan lalu, rumah itu sempat ramai dikunjungi rombongan pejabat. Istri Wakil Wali Kota Sungai Penuh datang bersama staf dan perangkat desa. Warga menyambut dengan harapan besar — berharap setelah kunjungan itu, rumah reyot Abdul Gani akan segera diperbaiki.
Namun, setelah mobil-mobil dinas itu pergi, tak ada kabar lanjutan. Tak ada pekerja datang, tak ada material tiba, dan tak ada tanda-tanda rumah itu akan dibedah.
“Kami sempat senang waktu ada kunjungan, tapi sekarang harapan itu hilang lagi,” ujar salah satu tetangga yang ikut menyaksikan.
Tetangga Abdul Gani, seorang ibu rumah tangga bernama Siti Rahmah, mengaku khawatir setiap kali hujan turun deras.
“Kalau hujan lebat, kami ikut takut rumah itu ambruk. Mereka tinggal bertujuh, ada anak kecil juga. Kami bantu semampunya, tapi kan tidak bisa lama,” tuturnya sambil menunjuk dinding yang disangga dengan bambu.
Kepala Desa Pendung Hiang, Matakin, membenarkan bahwa warganya tersebut sudah lama masuk daftar prioritas rumah tidak layak huni.
“Sudah beberapa kali kami usulkan ke pemerintah kota, provinsi, dan pusat. Bahkan Ibu Wakil Wali Kota sudah lihat langsung. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” katanya, Rabu (22/10/2025).
Matakin menyebut rumah itu dihuni oleh tujuh orang dari tiga kepala keluarga, termasuk anak-anak kecil yang masih sekolah dasar.
Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kota Sungai Penuh, Sutrisno, menjelaskan bahwa program bedah rumah di wilayahnya dilakukan secara bertahap.
“Tahun ini baru 16 desa yang menerima bantuan dari total 69 desa dan kelurahan. Penentuan lokasi dilakukan oleh Kementerian PUPR melalui balai provinsi,” katanya melalui pesan singkat.
Ia menambahkan, pemerintah berkomitmen menyelesaikan seluruh permohonan bantuan sesuai tahapan yang sudah dijadwalkan. Namun, bagi keluarga Abdul Gani, kata “bertahap” hanya berarti menunggu dalam ketidakpastian.
Meski hidup dalam serba kekurangan, Abdul Gani tetap berjuang. Ia bekerja serabutan, kadang menjadi buruh tani, kadang memperbaiki perahu warga. Hasilnya pas-pasan untuk makan dan menyekolahkan anak.
“Kalau rezeki ada, yang penting anak bisa sekolah. Soal rumah, nanti bisa diperbaiki sedikit-sedikit,” ujarnya dengan senyum tipis.
Warga sekitar kini memilih bergotong royong memperkuat bagian rumah yang hampir roboh. Mereka tahu, bantuan mungkin belum datang, tapi kepedulian sesama bisa menjaga harapan tetap hidup.
Bagi Abdul Gani dan keluarganya, rumah bukan sekadar tempat berteduh. Ia adalah lambang harga diri dan harapan. Meski dindingnya lapuk, kehidupan di dalamnya masih dihangatkan oleh doa dan semangat.
“Kami tidak butuh belas kasihan, hanya ingin pemerintah menepati janji,” ucapnya lirih.
Rumah reyot itu masih berdiri sendiri di antara ladang dan jalan kecil desa. Dan di dalamnya, keluarga Abdul Gani masih menunggu — bukan sekadar bantuan, tapi kehadiran nyata dari mereka yang pernah berjanji akan peduli.













