Rumah Reyot Keluarga Abdul Gani di Sungai Penuh: Harapan yang Tak Kunjung Datang

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 23 Oktober 2025 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUNGAI PENUH, Pribhumi.com Di ujung Desa Pendung Hiang, berdiri sebuah rumah kayu tua yang seolah menolak roboh. Papan-papan lapuknya berlubang, atap sengnya bocor, dan tiangnya condong ke tanah.

Di dalamnya, tiga kepala keluarga tinggal dalam satu ruang sempit, berjuang mempertahankan hidup di bawah atap yang nyaris runtuh.

Salah satu penghuni rumah itu, Abdul Gani, duduk di beranda kecil yang mulai patah. Ia menatap hujan yang turun di sore hari, menetes dari sela-sela atap.

“Sudah sering kami ajukan bantuan, tapi tak pernah juga masuk daftar penerima. Entah apa kurangnya kami,” katanya pelan, menatap dinding rumah yang kian rapuh.

Selama bertahun-tahun, keluarga Abdul Gani hidup di antara kebocoran dan dingin malam. Setiap kali hujan deras, ember-ember diletakkan di berbagai sudut untuk menampung air. Anak-anaknya tidur berhimpitan, sementara suara angin yang masuk dari celah papan menjadi musik malam yang tak diinginkan.

Sebulan lalu, rumah itu sempat ramai dikunjungi rombongan pejabat. Istri Wakil Wali Kota Sungai Penuh datang bersama staf dan perangkat desa. Warga menyambut dengan harapan besar — berharap setelah kunjungan itu, rumah reyot Abdul Gani akan segera diperbaiki.
Namun, setelah mobil-mobil dinas itu pergi, tak ada kabar lanjutan. Tak ada pekerja datang, tak ada material tiba, dan tak ada tanda-tanda rumah itu akan dibedah.

Baca Juga :  Bedong Rapat Disebut Mitos Bantu Bentuk Kaki Bayi, Dokter Ortopedi Anak Ingatkan Risiko Gangguan Panggul

“Kami sempat senang waktu ada kunjungan, tapi sekarang harapan itu hilang lagi,” ujar salah satu tetangga yang ikut menyaksikan.

Tetangga Abdul Gani, seorang ibu rumah tangga bernama Siti Rahmah, mengaku khawatir setiap kali hujan turun deras.

“Kalau hujan lebat, kami ikut takut rumah itu ambruk. Mereka tinggal bertujuh, ada anak kecil juga. Kami bantu semampunya, tapi kan tidak bisa lama,” tuturnya sambil menunjuk dinding yang disangga dengan bambu.

Kepala Desa Pendung Hiang, Matakin, membenarkan bahwa warganya tersebut sudah lama masuk daftar prioritas rumah tidak layak huni.

“Sudah beberapa kali kami usulkan ke pemerintah kota, provinsi, dan pusat. Bahkan Ibu Wakil Wali Kota sudah lihat langsung. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” katanya, Rabu (22/10/2025).

Matakin menyebut rumah itu dihuni oleh tujuh orang dari tiga kepala keluarga, termasuk anak-anak kecil yang masih sekolah dasar.

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kota Sungai Penuh, Sutrisno, menjelaskan bahwa program bedah rumah di wilayahnya dilakukan secara bertahap.

“Tahun ini baru 16 desa yang menerima bantuan dari total 69 desa dan kelurahan. Penentuan lokasi dilakukan oleh Kementerian PUPR melalui balai provinsi,” katanya melalui pesan singkat.

Baca Juga :  Polda Jambi  Rencanakan pendirian kantor Polres di Kota Sungai Penuh

Ia menambahkan, pemerintah berkomitmen menyelesaikan seluruh permohonan bantuan sesuai tahapan yang sudah dijadwalkan. Namun, bagi keluarga Abdul Gani, kata “bertahap” hanya berarti menunggu dalam ketidakpastian.

Meski hidup dalam serba kekurangan, Abdul Gani tetap berjuang. Ia bekerja serabutan, kadang menjadi buruh tani, kadang memperbaiki perahu warga. Hasilnya pas-pasan untuk makan dan menyekolahkan anak.

“Kalau rezeki ada, yang penting anak bisa sekolah. Soal rumah, nanti bisa diperbaiki sedikit-sedikit,” ujarnya dengan senyum tipis.

Warga sekitar kini memilih bergotong royong memperkuat bagian rumah yang hampir roboh. Mereka tahu, bantuan mungkin belum datang, tapi kepedulian sesama bisa menjaga harapan tetap hidup.

Bagi Abdul Gani dan keluarganya, rumah bukan sekadar tempat berteduh. Ia adalah lambang harga diri dan harapan. Meski dindingnya lapuk, kehidupan di dalamnya masih dihangatkan oleh doa dan semangat.

“Kami tidak butuh belas kasihan, hanya ingin pemerintah menepati janji,” ucapnya lirih.

Rumah reyot itu masih berdiri sendiri di antara ladang dan jalan kecil desa. Dan di dalamnya, keluarga Abdul Gani masih menunggu — bukan sekadar bantuan, tapi kehadiran nyata dari mereka yang pernah berjanji akan peduli.

Berita Terkait

LAM Kerinci Kritik Pola Sosialisasi Karhutla
Polres Kerinci Tegaskan Bahaya Judi Online: Ancaman Finansial hingga Jerat Pidana Mengintai
Laporan Dugaan Korupsi Bandara Depati Parbo Rp24 Miliar Belum Jelas, Disposisi Kejari Sungai Penuh Dipertanyakan
Yogi Purnomo Resmi Pindah ke Kejari Majalengka, Status Laporan LSM Geransi Dipertanyakan
BMKG: Cuaca Kerinci Didominasi Berawan Tebal, Hujan Ringan Berpotensi Akhir Januari
​”Mau Keluar Rumah? Cek Dulu Prediksi Cuaca Kerinci dan Sungai Penuh Hari Ini”
Tim penelitian Incung UNJA paparkan hasil temuan surat Incung terbaru
Wawako Sungai Penuh Tampilkan Identitas Melayu Tua Kerinci di Anugerah Gelar Adat Melayu Jambi

Berita Terkait

Kamis, 29 Januari 2026 - 10:36 WIB

LAM Kerinci Kritik Pola Sosialisasi Karhutla

Rabu, 28 Januari 2026 - 19:16 WIB

Polres Kerinci Tegaskan Bahaya Judi Online: Ancaman Finansial hingga Jerat Pidana Mengintai

Selasa, 27 Januari 2026 - 19:44 WIB

Laporan Dugaan Korupsi Bandara Depati Parbo Rp24 Miliar Belum Jelas, Disposisi Kejari Sungai Penuh Dipertanyakan

Selasa, 27 Januari 2026 - 08:23 WIB

Yogi Purnomo Resmi Pindah ke Kejari Majalengka, Status Laporan LSM Geransi Dipertanyakan

Minggu, 25 Januari 2026 - 13:36 WIB

BMKG: Cuaca Kerinci Didominasi Berawan Tebal, Hujan Ringan Berpotensi Akhir Januari

Berita Terbaru

Nasional

Pejabat Bisa Dipidana Jika Jalan Rusak Sebabkan Kecelakaan

Sabtu, 14 Feb 2026 - 08:45 WIB

Budaya dan Religi

Ramadhan 1447 H Semakin Dekat, Ini Perkiraan Awal Puasa

Jumat, 13 Feb 2026 - 11:28 WIB

Sumbar

Asmadi Hilang Terseret Arus, SAR Tutup Operasi Lapangan

Selasa, 10 Feb 2026 - 17:09 WIB

Sosial

Monadi Soal Danau Kerinci

Selasa, 10 Feb 2026 - 10:39 WIB