Kairo, Pribhumi.com — Langkah Presiden Mesir Anwar Sadat untuk menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada 1979 menjadi titik balik sejarah Timur Tengah — sekaligus mengantarkannya pada akhir hidup yang tragis. Dua tahun setelah perjanjian Camp David diteken, Sadat tewas ditembak oleh tentaranya sendiri dalam parade militer di Kairo pada 6 Oktober 1981.
Pembunuhan di Tengah Parade Militer
Pada hari itu, Sadat menghadiri parade militer besar-besaran untuk memperingati keberhasilan pasukan Mesir menyeberangi Terusan Suez dalam Perang Yom Kippur 1973. Duduk di tribun kehormatan, Sadat tampak tenang menyambut penghormatan dari pasukan. Namun, situasi berubah mencekam ketika sebuah truk militer berhenti di depan tribun dan salah satu perwiranya turun untuk memberi hormat.
Sadat berdiri membalas hormat, tidak menyadari bahwa itu adalah jebakan mematikan. Dalam hitungan detik, tiga granat dilemparkan ke arah tribun, diikuti rentetan tembakan senapan otomatis. Kekacauan pun pecah. Sadat dan beberapa pejabat tinggi Mesir roboh bersimbah darah di tengah parade yang disiarkan langsung.
Presiden Sadat sempat dilarikan ke rumah sakit dan menjalani operasi darurat, namun luka yang dideritanya terlalu parah. Ia dinyatakan meninggal dunia pada hari yang sama, 6 Oktober 1981.
Latar Belakang: Damai yang Mengundang Amarah
Dalang utama di balik serangan tersebut adalah Letnan Khalid Islambouli, anggota kelompok radikal Jihad Islam Mesir. Kelompok ini menentang keras kebijakan Sadat yang dianggap berkhianat terhadap perjuangan Palestina dan dunia Arab.
Sejak berdirinya Israel tahun 1948, Mesir dikenal sebagai salah satu negara paling keras menentang zionisme. Namun, Sadat menilai perang tanpa akhir hanya membawa penderitaan. Ia memilih jalur diplomasi dengan menandatangani Perjanjian Damai Camp David pada 26 Maret 1979 bersama Perdana Menteri Israel Menachem Begin, disaksikan langsung oleh Presiden AS Jimmy Carter.
Bagi sebagian rakyat Mesir, langkah itu merupakan pengkhianatan terhadap semangat Pan-Arabisme dan perjuangan Palestina. Penolakan datang dari berbagai kalangan, termasuk militer dan kelompok ulama garis keras. Dari sinilah muncul kelompok ekstremis yang kelak menuntut nyawa sang presiden.
Akhir dari Sang Visioner
Khalid Islambouli berhasil ditangkap tak lama setelah serangan dan kemudian dijatuhi hukuman mati. Ia dieksekusi pada 15 April 1982. Meski demikian, pembunuhan Anwar Sadat meninggalkan luka mendalam dalam sejarah Mesir dan menandai masa transisi politik yang penuh ketegangan.
Anwar Sadat kini dikenang sebagai pemimpin berani yang menempuh jalur perdamaian demi stabilitas kawasan, meski harus membayar mahal dengan nyawanya sendiri.













