Makna Sungkeman saat Idul Fitri: Tradisi Penuh Haru yang Sarat Nilai Filosofis

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 21 Maret 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI, Pribhumi.com – Hari Raya Idul Fitri di Indonesia tidak hanya identik dengan ketupat dan pakaian baru. Ada satu tradisi yang selalu menghadirkan suasana haru dan penuh makna, yakni sungkeman.

Tradisi bersimpuh di hadapan orang tua ini telah menjadi bagian penting dalam budaya masyarakat, khususnya di tanah Jawa. Sungkeman bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan simbol kuat yang mempererat hubungan antar generasi.

Lantas, apa sebenarnya makna di balik tradisi ini dan bagaimana asal-usulnya?

Pengertian Sungkeman

Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sungkem berarti sujud sebagai tanda hormat dan bakti. Dalam praktiknya, sungkeman merupakan prosesi permohonan maaf dari yang lebih muda kepada orang tua atau sosok yang dituakan.

Baca Juga :  Update CPNS 2026: Belum Dibuka, Ini Prediksi Jadwal, Fokus Formasi, dan Waspada Hoaks

Secara etimologis, istilah sungkeman diyakini berasal dari kata “sungke” yang berarti bahagia, dan “man” yang berarti memohon. Prosesi ini dilakukan dengan cara bersimpuh, kemudian mencium tangan orang tua dengan penuh khidmat sebagai bentuk penghormatan.

Makna Filosofis Sungkeman

Tradisi sungkeman menyimpan berbagai nilai luhur yang tidak lekang oleh waktu, di antaranya:

1. Simbol Kerendahan Hati

Sungkeman mengajarkan pentingnya menekan ego dan bersikap rendah hati. Posisi tubuh yang lebih rendah mencerminkan penghormatan dan kesadaran akan pentingnya bimbingan orang tua.

2. Wujud Bakti kepada Orang Tua

Dalam ajaran Islam, berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban utama. Sungkeman menjadi salah satu bentuk nyata penghormatan tersebut, sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Al-Qur’an.

Baca Juga :  Ombudsman Jambi Desak Kerinci dan Sungaipenuh Perbaiki Ketidakpastian Layanan Publik dalam 14 Hari

3. Sarana Memohon Maaf

Tradisi ini juga menjadi momen untuk saling memaafkan. Istilah “nyuwun ngapura” dalam bahasa Jawa menunjukkan kuatnya nilai pengampunan yang dipengaruhi ajaran Islam.

4. Pendidikan Karakter

Sungkeman berperan dalam membentuk karakter generasi muda. Nilai kesopanan, rasa hormat, serta penghargaan terhadap orang tua ditanamkan melalui tradisi ini.

Sebagai bagian dari warisan budaya, sungkeman tidak hanya memperkuat hubungan keluarga, tetapi juga menjadi refleksi nilai-nilai luhur yang patut dijaga dan dilestarikan di tengah perkembangan zaman.

 

Berita Terkait

Al Haris Lantik Lima Pejabat Eselon II, Tegaskan Jabatan Bukan Kesempatan Menyalahgunakan Wewenang
Gubernur Al Haris Tegaskan Jambi Tolak Praktik LGBT, Kedepankan Nilai Agama dan Adat
Jambi Masuki Puncak Kemarau 2026, BPBD Siagakan 81 Posko Antisipasi Karhutla dan El Nino
Ombudsman Jambi Dorong KPK Tindak Temuan Maladministrasi yang Berpotensi Korupsi di Pelayanan Publik
Ombudsman Jambi dan KPK Perkuat Sinergi Cegah Korupsi di Sektor Pelayanan Publik
5 Pejabat Utama Polda Jambi Dimutasi, Kapolresta Jambi dan Kapolres Muaro Jambi Berganti
Curi Kabel Induk PLN Sepanjang Ratusan Meter, Pelaku Ditangkap Usai Dikejar di Area Rawa
Prakiraan Cuaca Jambi 22 Juni 2026: Bungo dan Sungai Penuh Berpotensi Hujan Ringan

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 18:13 WIB

Gubernur Al Haris Tegaskan Jambi Tolak Praktik LGBT, Kedepankan Nilai Agama dan Adat

Jumat, 3 Juli 2026 - 19:01 WIB

Jambi Masuki Puncak Kemarau 2026, BPBD Siagakan 81 Posko Antisipasi Karhutla dan El Nino

Rabu, 1 Juli 2026 - 19:00 WIB

Ombudsman Jambi Dorong KPK Tindak Temuan Maladministrasi yang Berpotensi Korupsi di Pelayanan Publik

Selasa, 30 Juni 2026 - 20:49 WIB

Ombudsman Jambi dan KPK Perkuat Sinergi Cegah Korupsi di Sektor Pelayanan Publik

Jumat, 26 Juni 2026 - 21:51 WIB

5 Pejabat Utama Polda Jambi Dimutasi, Kapolresta Jambi dan Kapolres Muaro Jambi Berganti

Berita Terbaru

Budaya dan Wisata

IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat

Minggu, 19 Jul 2026 - 11:00 WIB