Sungai Penuh, Pribhumi.com — Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci menggelar kegiatan Diseminasi Hasil Penelitian Manuskrip Incung dan Perawatan Manuskrip Kuno pada Kamis (22/1/2026) di Aula LPPM IAIN Kerinci, Desa Sumur Gedang, Kecamatan Pesisir Bukit, Kota Sungai Penuh. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkenalkan temuan terbaru sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian manuskrip kuno Kerinci.
Diseminasi ini merupakan tindak lanjut dari penelitian manuskrip Incung yang dilakukan sepanjang 2024–2025 oleh tim peneliti yang dipimpin Hafiful Hadi Sunliensyar, M.A. Penelitian tersebut berhasil mengidentifikasi sejumlah manuskrip Incung baru yang sebelumnya belum pernah dikaji secara ilmiah.
“Temuan ini penting karena membuka bab baru dalam pemahaman kita tentang tradisi tulis dan sejarah intelektual masyarakat Kerinci,” ujar Hafiful Hadi Sunliensyar dalam pemaparannya. Ia menegaskan bahwa manuskrip Incung bukan sekadar artefak budaya, melainkan sumber pengetahuan yang merekam sistem nilai, hukum adat, hingga pandangan hidup masyarakat masa lalu.
Selain memaparkan hasil penelitian, kegiatan ini juga menyoroti persoalan krusial di lapangan, yakni minimnya pemahaman pemilik manuskrip terhadap cara penyimpanan dan perawatan naskah kuno. Banyak manuskrip disimpan tanpa perlindungan memadai, sehingga rentan rusak akibat faktor usia, kelembaban, maupun perlakuan yang keliru.
Untuk itu, peserta dibekali pengetahuan praktis mengenai perawatan manuskrip secara sederhana dan aman, agar naskah-naskah tersebut tetap terjaga tanpa harus melalui metode konservasi yang rumit dan mahal.
Hadir sebagai narasumber, Prof. Dr. Pramono, M.Hum., filolog Universitas Andalas sekaligus Ketua SURI, yang menekankan bahwa pelestarian manuskrip merupakan tanggung jawab kolektif. “Manuskrip adalah memori peradaban. Ketika ia rusak atau hilang, kita kehilangan sebagian identitas kultural kita,” ujarnya.
Kegiatan ini diikuti oleh pemilik manuskrip kuno, akademisi, perwakilan instansi terkait, komunitas budaya, serta masyarakat lokal. Antusiasme peserta terlihat dari diskusi aktif yang berlangsung selama sesi pemaparan dan tanya jawab.
Panitia berharap, melalui diseminasi ini, masyarakat tidak hanya memahami isi manuskrip kuno Kerinci, tetapi juga memiliki kesadaran dan kemampuan dasar untuk merawatnya secara berkelanjutan. Kegiatan ini juga ditargetkan menghasilkan dokumentasi serta publikasi di media massa sebagai bagian dari upaya memperluas dampak edukatifnya.
Kegiatan diselenggarakan oleh IAIN Kerinci dengan penanggung jawab Faras Puji Azizah, M.Hum., dan Ketua Panitia Febrian dari Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kerinci. Diseminasi ini sekaligus menegaskan komitmen perguruan tinggi dalam menjaga dan menghidupkan kembali warisan intelektual lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional.










