Aceh, Pribhumi.com — Suasana haru menyelimuti pernyataan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, ketika mengumumkan bahwa empat kampung di Aceh lenyap akibat terjangan banjir bandang yang terjadi pada malam hari. Dalam keterangan yang disampaikan pada Senin (1/12), ia tak mampu menahan air mata saat menceritakan kehilangan besar tersebut.
Menurut Muzakir Manaf, kampung Sawang, Jambuai, Bireun, dan Peusangan hilang tersapu arus deras tanpa sempat diselamatkan. Banjir bandang yang datang mendadak itu langsung menghantam permukiman warga hingga tak meninggalkan jejak.
“Empat kampung itu hilang entah ke mana. Kejadiannya begitu cepat, tidak ada waktu untuk mengantisipasi,” ujarnya dengan suara bergetar.
Muzakir Manaf menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat terdampak, terutama keluarga korban yang hingga kini masih mencari sanak saudara mereka. Ia menegaskan bahwa pemerintah provinsi dan seluruh pihak terkait akan bekerja maksimal untuk membantu warga dalam proses pencarian, penanganan darurat, serta pemulihan pascabencana.
“Kita bertanggung jawab untuk memastikan semua korban mendapatkan penanganan terbaik. Hati saya hancur melihat keadaan ini,” katanya sambil menitikkan air mata.
Lebih jauh, ia menyebut bahwa dampak banjir bandang kali ini bahkan terasa lebih dahsyat dibanding tsunami yang melanda Aceh pada 2004.
“Aceh seperti mengalami tsunami kedua. Mungkin bencana ini lebih dahsyat karena menghanyutkan kampung tanpa sisa,” ungkapnya.
Upaya pencarian korban, pendataan kerusakan, serta penyaluran bantuan masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah, TNI, Polri, dan relawan di berbagai lokasi terdampak.










