Warisan Sakral yang Menyiratkan Pesan Tauhid
Kerinci, Pribhumi.com — Tari Asyik atau Tarei Asyeik dikenal sebagai salah satu tradisi ritual paling tua di Kerinci. Tarian yang dibawakan dengan penuh kekhusyukan ini tidak hanya dipandang sebagai pusaka budaya, tetapi juga sebagai medium spiritual yang memuat ajaran ketauhidan sejak masa nenek moyang.
Dalam sebuah diskusi di Grup WhatsApp Majelis Peduli Adat Sakti Alam Kerinci (PASAK), budayawan Kerinci Bopi Casia Putra menjelaskan asal kata “guru” yang sering disebut para balian salih saat memimpin ritual. Kata tersebut berasal dari bahasa Sanskerta: Gu berarti kegelapan, sementara Ru berarti cahaya.
“Makna itu menggambarkan perjalanan manusia dari gelap menuju terang. Bukankah Rasulullah juga diutus untuk membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya?” ujar Bopi.

Gerak Melingkar sebagai Cerminan Hukum Semesta
Tari Asyik memiliki pola khas: gerakan melingkar dari kiri ke kanan. Menurut Bopi, arah putaran ini bukan sekadar estetika tradisi, namun merepresentasikan hukum alam dan pola energi yang sama ditemukan di banyak fenomena semesta—mulai dari tawaf di Ka’bah, orbit planet, putaran elektron, hingga alur sulur tanaman yang cenderung melingkar ke kanan.
“Jika kita amati, ukiran-ukiran Kerinci juga menggunakan pola gerak kiri ke kanan. Alam selalu mengajar manusia melalui tanda-tanda,” tuturnya, sembari mengutip pepatah leluhur: Alam terkembang jadi guru.

Sejarawan Kerinci, M. Ali Surakhman, sebelumnya juga pernah menyinggung bahwa simbol batu silendrik di Muak—yang berpola spiral—mewakili pandangan leluhur Kerinci tentang alam semesta yang bertumpu pada nilai ketuhanan.

Jejak Tasawuf dalam Tradisi Asyik
Seniman dan budayawan Kerinci, Indra Gunawan (Rio Mulyo), menambahkan bahwa beberapa unsur dalam tradisi Asyik memiliki kedekatan dengan konsep tasawuf seperti Martabat Tujuh dan sifat maani tujuh. Ia mencontohkan tradisi lokal seperti sangkak ngan tujuh dan bungo ngan tujuh yang masih dipraktikkan para salik hingga kini.

Menurutnya, hal tersebut memperlihatkan bahwa leluhur Kerinci telah lama menyimpan pengetahuan spiritual yang terstruktur dan kaya, tersirat melalui simbol-simbol budaya.

Matisuri: “Matikan Diri Sebelum Mati”
Pemerhati Adat Sakti Alam Kerinci, Hendi Wisnu Pamungkas, menyoroti konsep matisuri yang terdapat dalam praktik Tari Asyik. Ia menyebut matisuri sebagai proses penundukan ego yang sejalan dengan ajaran tasawuf mengenai mematikan diri sebelum mati.
“Matisuri adalah kematian maknawi. Ia menuntun manusia meredam ambisi duniawi, mengosongkan diri, dan kembali pada kesadaran bahwa segala sesuatu berpulang kepada Tuhan,” ungkap Hendi.

Asyik sebagai Jalan Mencari Pencerahan
Pada akhirnya, kata Bopi, tujuan ritual Asyik tidak lepas dari pencarian pencerahan. Gerak dalam Tari Asyik dipandang sebagai perjalanan menuju ruang batin yang dalam, yang oleh tradisi disebut alam malakut.
“Asyik adalah rute batin. Para pelakunya mencari cahaya, kebenaran, dan pemahaman tentang keberadaan,” ujarnya.
Tradisi yang Menyatukan Budaya, Alam, dan Ketuhanan
Dengan segala simbol dan nilai yang dibawanya, Tari Asyik Kerinci bukan sekadar warisan budaya, tetapi sekaligus jendela menuju pemahaman leluhur tentang hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Tradisi ini menjadi ruang pertemuan antara gerak tubuh dan gerak semesta, antara spiritualitas dan kebudayaan.













