MAROS, Pribhumi.com — Badan SAR Nasional (Basarnas) mengonfirmasi bahwa dua korban kecelakaan pesawat telah berhasil ditemukan di lokasi kejadian. Korban pertama ditemukan pada hari kedua operasi pencarian, sedangkan korban kedua berhasil dievakuasi pada hari ketiga, Senin siang (19/1/2026).
Berdasarkan keterangan resmi, korban pertama berjenis kelamin laki-laki, sementara korban kedua merupakan seorang perempuan. Kedua jasad dievakuasi oleh tim SAR gabungan bersama tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri untuk dibawa ke posko utama guna menjalani proses identifikasi lanjutan.
Hingga saat ini, pihak berwenang belum mengumumkan identitas korban kepada publik. Tim DVI masih melakukan pencocokan data antemortem serta pemeriksaan DNA dengan melibatkan keluarga korban guna memastikan identitas secara akurat. Polda Sulawesi Selatan bersama Mabes Polri dan tim medis forensik berupaya mempercepat proses tersebut agar kepastian dapat segera disampaikan kepada keluarga.
Meski dua korban telah ditemukan, operasi pencarian belum dihentikan. Tim SAR masih memfokuskan upaya pencarian terhadap korban lain yang diduga masih berada di sekitar lokasi serpihan pesawat. Basarnas menetapkan radius pencarian sejauh satu kilometer dari titik utama puing-puing pesawat untuk memastikan seluruh area kritis telah diperiksa secara menyeluruh.
Dalam perkembangan lain, penemuan kotak hitam (black box) menjadi kunci penting bagi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dalam mengungkap penyebab kecelakaan. KNKT menyatakan insiden ini masuk dalam kategori Controlled Flight Into Terrain (CFIT), yakni kondisi ketika pesawat menabrak medan tinggi saat masih berada dalam kendali awak, meskipun penyebab pasti kejadian tersebut masih dalam tahap investigasi mendalam.
Pihak berwenang menegaskan komitmen untuk menyampaikan informasi yang akurat dan transparan kepada masyarakat guna mencegah munculnya spekulasi yang tidak bertanggung jawab. Pemerintah daerah serta instansi terkait juga mengimbau keluarga yang merasa kehilangan anggota keluarganya dalam penerbangan ini agar segera mendatangi posko resmi atau kantor kepolisian setempat untuk membantu proses identifikasi.
Tragedi ini kembali menjadi pengingat akan tantangan keselamatan penerbangan di wilayah dengan kondisi geografis ekstrem seperti Indonesia. Respons cepat tim SAR, dukungan teknologi, serta koordinasi lintas instansi menjadi faktor krusial dalam penanganan kecelakaan udara di daerah terpencil.










