Obsidian Kerap Disangka “Gigi Petir”, Antara Mitos Lokal dan Fakta Ilmiah

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 3 April 2026 - 15:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI, Pribhumi.com — Di berbagai wilayah Indonesia, termasuk kawasan pedesaan, masyarakat kerap menemukan batu berwarna hitam mengilap dengan ujung tajam di kebun atau lahan terbuka. Batu tersebut sering disebut sebagai “gigi petir”, diyakini sebagai benda yang terbentuk akibat sambaran petir ke tanah.

Namun, secara ilmiah, batu yang dimaksud umumnya adalah Obsidian, yakni batuan alami yang terbentuk dari lava gunung api yang mendingin sangat cepat. Proses pendinginan instan ini membuat obsidian tidak sempat membentuk kristal, sehingga menghasilkan tekstur kaca dengan kilap khas dan patahan tajam.

Kesalahpahaman ini tidak lepas dari bentuk fisik obsidian yang unik. Ujungnya yang runcing dan tajam kerap menyerupai benda yang dianggap “jatuh dari langit”. Ditambah lagi, kemunculannya di permukaan tanah setelah hujan atau perubahan cuaca sering memperkuat anggapan bahwa batu tersebut berasal dari petir.

Baca Juga :  Ramli Taha Dorong Debalang Jambi Bangun Fondasi Organisasi hingga Tingkat Kabupaten dan Kota

Dalam perspektif ilmiah, benda yang benar-benar terbentuk akibat sambaran petir dikenal sebagai Fulgurite. Fulgurite terbentuk ketika petir menyambar tanah berpasir atau mengandung silika tinggi, menghasilkan panas ekstrem yang melelehkan material tersebut dan membentuk struktur menyerupai akar atau tabung kaca.

Berbeda dengan obsidian yang padat dan mengilap, fulgurite memiliki bentuk yang lebih rapuh, berongga, dan tidak beraturan. Perbedaan ini menjadi penanda penting dalam membedakan antara mitos dan fakta di lapangan.

Baca Juga :  Kerinci dan Hulu Batanghari: Jejak Awal Peradaban Melayu Kuno di Jantung Sumatra

Meski demikian, istilah “gigi petir” tetap hidup dalam tradisi lisan masyarakat sebagai bagian dari warisan budaya. Kepercayaan ini mencerminkan cara masyarakat masa lalu dalam memahami fenomena alam sebelum berkembangnya ilmu geologi modern.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di balik setiap benda alam, sering kali tersimpan dua sisi pemaknaan: antara keyakinan tradisional yang kaya nilai budaya dan penjelasan ilmiah yang berbasis penelitian.

Berita Terkait

HBA Tutup Mubes I Debalang Negeri, Tekankan Penguatan Adat dan Marwah Negeri Jambi
Debalang Sungai Penuh dan Kerinci Hadiri Mubes Perdana, Perkuat Komitmen Jaga Marwah Adat
H. Ramli Thaha Terpilih Aklamasi Pimpin Debalang Negeri Sepucuk Jambi 2026–2030
Ramli Taha Dorong Debalang Jambi Bangun Fondasi Organisasi hingga Tingkat Kabupaten dan Kota
Jaga Adat Lamo Pusako Usang, Luhah Depati Kepalo Sembah Tegaskan Musyawarah dan Amanah Adat
Luhah Depati Kepalo Sembah Tegaskan Struktur Paramenti Tigo Luhah Semurup Berpedoman pada ico Pakai
“Batakah Naik, Berjenjang Turun”, Safwandi Ungkap Tata Cara Penyelesaian Persoalan Adat Kerinci
Museum Tarik Klaim Aksara Minangkabau, Naskah Tanjung Tanah Justru Makin Kokoh Lewat Uji Ilmiah

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 11:03 WIB

HBA Tutup Mubes I Debalang Negeri, Tekankan Penguatan Adat dan Marwah Negeri Jambi

Minggu, 30 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Debalang Sungai Penuh dan Kerinci Hadiri Mubes Perdana, Perkuat Komitmen Jaga Marwah Adat

Minggu, 30 Agustus 2026 - 07:24 WIB

H. Ramli Thaha Terpilih Aklamasi Pimpin Debalang Negeri Sepucuk Jambi 2026–2030

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 15:04 WIB

Ramli Taha Dorong Debalang Jambi Bangun Fondasi Organisasi hingga Tingkat Kabupaten dan Kota

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:03 WIB

Jaga Adat Lamo Pusako Usang, Luhah Depati Kepalo Sembah Tegaskan Musyawarah dan Amanah Adat

Berita Terbaru