Khaby Lame Terancam Kehilangan Nilai Fantastis, Saham Mitra Bisnis Anjlok Drastis

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 4 Mei 2026 - 11:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jambi, Pribhumi.com – Bintang TikTok dunia, Khaby Lame kini terancam bangkrut. Nasib kesepakatan jumbo senilai hampir US$975 juta yang melibatkannya mendapatkan tekanan berat. Penyebabnya, saham perusahaan mitranya, Rich Sparkle Holdings, ambles hingga sekitar 90% dalam waktu singkat.

Mengutip Business Insider, yang diterbitkan pada 14 April 2026, harga saham Rich Sparkle yang sempat melesat di atas US$180 kini terjun bebas ke kisaran US$11. Penurunan drastis ini langsung menggerus potensi nilai yang bisa diterima Lame, mengingat kompensasinya bergantung pada harga saham perusahaan tersebut.

Dalam skema transaksi, perusahaan Lame akan menerima sekitar 75 juta saham baru dengan harga indikatif US$13 per saham. Namun, nilai riil yang bisa dikantongi sangat ditentukan oleh harga pasar. Artinya, saat saham jatuh, nilai kekayaan yang diharapkan ikut menyusut tajam.

Baca Juga :  Kemnaker Siapkan Magang Nasional 2026, Target 100 Ribu Peserta

Meski begitu, hingga kini kesepakatan tersebut belum resmi rampung atau mendapatkan persetujuan dari otoritas bursa. Dengan demikian, dampak terhadap kekayaan aktual Lame masih bersifat potensi, bukan realisasi.

Rich Sparkle sendiri berencana mengembangkan avatar kecerdasan buatan (AI) dari Lame untuk mendorong bisnis e-commerce dan endorsement secara global. Proyeksi yang dipatok pun ambisius, yakni potensi penjualan hingga US$4 miliar per tahun.

Baca Juga :  Gibran Tegas Tolak Usulan Kenaikan BBM dari Jusuf Kalla

Namun, sejumlah analis menilai target tersebut terlalu optimistis. Pasalnya, pasar live commerce di luar China, termasuk Amerika Serikat, masih jauh tertinggal. Bahkan, capaian penjualan platform besar di AS belum mendekati angka tersebut.

Selain itu, model bisnis yang bertumpu pada satu figur juga dinilai berisiko tinggi. Ketergantungan terhadap popularitas individu membuat valuasi perusahaan menjadi sulit diukur dan rentan terhadap volatilitas.

Pun mengonversi popularitas media sosial menjadi bisnis publik berskala besar bukan perkara mudah. Sejumlah perusahaan berbasis influencer sebelumnya juga mengalami kegagalan setelah melantai di bursa.

Berita Terkait

Pemerintah Lanjutkan Kajian Tarif Batas Atas Tiket Pesawat, Penurunan Harga Minyak dan Penguatan Rupiah Jadi Pertimbangan
Pemerintah Pastikan Biodiesel B50 Mulai Berlaku Juli 2026, Uji Coba Capai Hasil Positif
39 Pemda Terancam Kesulitan Bayar Gaji PPPK
Pramono Anung Umumkan Ribuan Lowongan Kerja Padat Karya Bergaji UMP
Ekspor SDA Satu Pintu Resmi Berlaku, Pengusaha Ajukan Enam Masukan untuk Pemerintah
Pasar Mobil China Mulai Jenuh, Penjualan Melambat dan Produsen Beralih ke Ekspor
Prabowo: Indonesia Kaya SDA dan Sudah Swasembada Pangan, Saatnya Nilai Tambah Dinikmati Rakyat
Harga BBM Non-Subsidi Pertamina per 1 Juni 2026 Resmi Berubah

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 03:00 WIB

Pemerintah Lanjutkan Kajian Tarif Batas Atas Tiket Pesawat, Penurunan Harga Minyak dan Penguatan Rupiah Jadi Pertimbangan

Rabu, 17 Juni 2026 - 03:00 WIB

Pemerintah Pastikan Biodiesel B50 Mulai Berlaku Juli 2026, Uji Coba Capai Hasil Positif

Minggu, 14 Juni 2026 - 15:00 WIB

39 Pemda Terancam Kesulitan Bayar Gaji PPPK

Jumat, 5 Juni 2026 - 14:02 WIB

Pramono Anung Umumkan Ribuan Lowongan Kerja Padat Karya Bergaji UMP

Selasa, 2 Juni 2026 - 13:00 WIB

Ekspor SDA Satu Pintu Resmi Berlaku, Pengusaha Ajukan Enam Masukan untuk Pemerintah

Berita Terbaru