Dunia Memanas – Indonesia Terancam?

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 8 April 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Pribhumi.com — Ketegangan global akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel tidak hanya memunculkan ancaman ekonomi bagi Indonesia seperti lonjakan harga minyak dunia atau tekanan terhadap APBN. Ancaman yang lebih serius justru datang dari aspek yang kerap luput dari perhatian, yakni hilangnya posisi Indonesia dalam percakapan global.

Peneliti Pusat Studi Politik dan Sosial UHAMKA sekaligus Founding Director Global Trust Intelligence (GTI), Emaridial Ulza, mengungkap bahwa Indonesia saat ini menghadapi kondisi yang disebut sebagai strategic invisibility trap. Dalam situasi ini, Indonesia bukan dipersepsikan negatif, melainkan justru tidak muncul dalam radar perhatian dunia internasional.

Menurutnya, dalam era arus informasi yang sangat cepat, negara yang tidak hadir dalam narasi global cenderung tidak diperhitungkan, baik dalam investasi, diplomasi, maupun pengambilan keputusan strategis internasional.

Emaridial menjelaskan, dalam perspektif international marketing dan neurosains keputusan kolektif, pelaku pasar global dan publik internasional lebih mudah terpengaruh oleh narasi yang sering muncul dibanding sekadar data statistik.

“Negara yang tidak aktif membangun narasinya sendiri berisiko kehilangan perhatian global, meskipun memiliki kekuatan ekonomi yang besar,” ujarnya, Senin (6/4).

Baca Juga :  Projo Tegas Menolak Wacana Polri Berada di Bawah Kementerian

Fenomena ini kontras jika dibandingkan dengan Iran. Meski berada dalam pusaran konflik, Iran tetap menjadi bagian dari diskursus global dan terus hadir dalam perhatian dunia.

Sebaliknya, Indonesia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa serta pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, justru belum tampil sebagai aktor penting dalam narasi global.

Kondisi ini, lanjut Emaridial, bukan sekadar persoalan citra, tetapi berdampak langsung pada sektor ekonomi. Gangguan pada reputasi dan persepsi dapat memicu tertundanya investasi asing, meningkatnya biaya pinjaman, hingga potensi keluarnya arus modal.

Laporan tersebut juga menyoroti tekanan ekonomi melalui konsep Keynesian Triple Squeeze, yakni tekanan simultan pada tiga pilar utama ekonomi: lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas. Situasi ini dinilai lebih kompleks dibanding krisis sebelumnya karena tidak ada sektor yang mampu menjadi penopang utama.

Dari sisi geopolitik, krisis energi global akibat konflik Timur Tengah juga berpotensi mendorong negara-negara ASEAN bernegosiasi dengan Tiongkok dari posisi yang lebih lemah, khususnya di kawasan Laut Tiongkok Selatan. Pergeseran ini dapat berdampak pada stabilitas keamanan wilayah strategis Indonesia, termasuk Natuna.

Baca Juga :  Iran Balas Serangan AS–Israel, Pangkalan Militer di Qatar Jadi Sasaran

Ironisnya, Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah keunggulan yang diakui dunia. Di antaranya keberhasilan dalam pengumpulan pajak ekonomi digital yang menempatkan Indonesia di tiga besar global, serta program Makan Bergizi Gratis sebagai investasi besar dalam pembangunan sumber daya manusia.

Namun, keunggulan tersebut dinilai belum dikomunikasikan secara optimal di tingkat internasional. Emaridial menegaskan bahwa di era saat ini, narasi menjadi faktor penentu arah ekonomi suatu negara.

“Ketika sebuah negara tidak mampu mendefinisikan dirinya sendiri, maka dunia tidak akan melihatnya sebagai aktor penting,” tegasnya.

Laporan ini disusun menggunakan pendekatan Global Trust Intelligence (GTI), yang mengintegrasikan analisis international marketing, neurosains, ketahanan non-militer, serta ekonomi Keynesian untuk memahami keterkaitan antar isu global.

Ia pun mengingatkan, di tengah persaingan global berbasis narasi, Indonesia dihadapkan pada pilihan krusial: tetap menjadi penonton atau mulai mengambil peran sebagai aktor yang diperhitungkan dunia.

“Dalam sistem global saat ini, yang tidak terlihat berisiko dianggap tidak ada,” pungkasnya.

Berita Terkait

Jangan Salah Kaprah Memaknai Penyatuan Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci
Ribuan Mahasiswa Semarang Gelar Aksi “Reformasi Jilid II”, Sampaikan Lima Tuntutan Rakyat
Ketua Komisi III DPR Usul Larangan Afiliasi Ormas bagi Anggota Polri Masuk RUU Polri
Harta Kekayaan Prabowo Tembus Rp 2 Triliun, Ini Deretan Mobil di Garasinya
KUHAP Baru dan Dana Abadi Korban, Langkah Besar Reformasi Hukum Pidana Indonesia
PDIP Tolak RUU Pemilu Jadi Inisiatif Pemerintah, Yusril Tegaskan Pemerintah Bersikap Pasif
Kontroversi Pernyataan Amien Rais soal Kedekatan Prabowo dan Teddy, Picu Polemik Publik
Refleksi Hardiknas 2026: Apakah Semangat Ki Hajar Dewantara Masih Hidup?

Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 10:28 WIB

Jangan Salah Kaprah Memaknai Penyatuan Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci

Selasa, 16 Juni 2026 - 23:00 WIB

Ribuan Mahasiswa Semarang Gelar Aksi “Reformasi Jilid II”, Sampaikan Lima Tuntutan Rakyat

Jumat, 5 Juni 2026 - 17:00 WIB

Ketua Komisi III DPR Usul Larangan Afiliasi Ormas bagi Anggota Polri Masuk RUU Polri

Rabu, 13 Mei 2026 - 17:00 WIB

Harta Kekayaan Prabowo Tembus Rp 2 Triliun, Ini Deretan Mobil di Garasinya

Selasa, 12 Mei 2026 - 15:00 WIB

KUHAP Baru dan Dana Abadi Korban, Langkah Besar Reformasi Hukum Pidana Indonesia

Berita Terbaru

Budaya dan Wisata

IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat

Minggu, 19 Jul 2026 - 11:00 WIB