Jakarta, Pribhumi.com – Fenomena Blood Moon atau “bulan merah” terjadi saat gerhana Bulan total, ketika Bulan tampak berwarna kemerahan. Warna ini muncul karena cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi mengalami pembiasan dan penyaringan.
Menurut penjelasan sains dari NASA, atmosfer Bumi menyaring cahaya biru dan membiaskan cahaya merah ke arah Bulan. Akibatnya, saat Bulan berada sepenuhnya dalam bayangan inti (umbra) Bumi, permukaannya terlihat merah tembaga.
Wakil Direktur Komunikasi Sains Divisi Heliofisika di Goddard Space Flight Center NASA, C. Alex Young, menjelaskan bahwa gerhana Bulan merah ini merupakan bagian dari rangkaian gerhana Bulan total yang terjadi berturut-turut dalam periode tertentu.
Jadwal Gerhana Bulan Total (3 Maret 2026)
Durasi total gerhana: **5 jam 41 menit 51 detik**
Durasi fase sebagian: **3 jam 27 menit 47 detik**
### Tahapan Waktu (WIB)
* Gerhana penumbra mulai: **15.42.44**
* Gerhana sebagian mulai: **16.49.46**
* Gerhana total mulai: **18.03.56**
* Puncak gerhana: **18.33.39**
* Gerhana total berakhir: **19.03.23**
* Gerhana sebagian berakhir: **20.17.33**
* Gerhana penumbra berakhir: **21.24.35**
(Waktu juga tersedia dalam WITA dan WIT dengan selisih +1 dan +2 jam dari WIB.)
Cara Mengamati *Blood Moon*
Kabar baiknya, fenomena ini bisa dilihat dengan **mata telanjang** tanpa alat khusus. Cukup cari lokasi dengan langit cerah dan minim polusi cahaya.
Namun, jika ingin melihat detail permukaan Bulan lebih jelas, kamu bisa menggunakan:
* Teropong (binokular)
* Teleskop
Tidak seperti gerhana Matahari, gerhana Bulan aman untuk dilihat tanpa pelindung mata khusus.
Mengapa Disebut “Blood Moon”?
Istilah ini bukan istilah ilmiah resmi, melainkan sebutan populer karena warna merah yang menyerupai darah saat fase totalitas berlangsung.
Fenomena ini termasuk peristiwa astronomi yang relatif jarang dan menarik untuk diamati, terutama karena bisa disaksikan langsung dari berbagai wilayah Indonesia.











