BRIN Ungkap Sungai Purba Paparan Sunda Diduga Jadi Jalur Migrasi Manusia Modern Awal di Asia Tenggara

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 1 Juni 2026 - 01:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI, Pribhumi.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap temuan penting terkait pola migrasi manusia modern awal di Asia Tenggara. Berdasarkan hasil penelitian geomorfologi dan paleogeografi, jaringan sungai purba yang pernah membentang di kawasan Paparan Sunda diduga menjadi salah satu jalur utama perpindahan manusia pada masa prasejarah.

Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PR APS) BRIN, Vida Pervaya Rusianti Kusmartono, menjelaskan bahwa pada periode Pleistosen, Paparan Sunda memiliki sistem sungai besar yang menghubungkan berbagai wilayah yang kini terpisah oleh lautan akibat kenaikan permukaan air laut.

Menurut Vida, keberadaan sungai-sungai purba tersebut berpotensi menjadi koridor ekologis yang mendukung mobilitas manusia, flora, dan fauna menuju wilayah pedalaman maupun kawasan Wallacea. Ia menilai perpindahan manusia prasejarah tidak hanya mengandalkan jalur pesisir, tetapi juga memanfaatkan aliran sungai sebagai sarana perjalanan dan penyebaran populasi.

Dalam kajiannya yang berjudul “Kalimantan: Migrasi Manusia di Kawasan Timur Bawah Paparan Sunda pada Kala Pleistosen Akhir-Awal Holosen”, Vida menjelaskan bahwa migrasi manusia modern dari Afrika ke Asia Tenggara berlangsung melalui proses yang panjang dan kompleks. Perpindahan tersebut tidak terjadi dalam satu gelombang, melainkan melalui berbagai tahap dan rute yang berbeda.

Salah satu teori yang banyak digunakan untuk menjelaskan proses tersebut adalah coastal migration theory atau teori migrasi pesisir. Teori ini menyebutkan bahwa manusia purba cenderung bergerak mengikuti garis pantai karena lebih mudah diakses dan menyediakan sumber pangan yang melimpah.

Baca Juga :  5 Zodiak Paling Pendendam Menurut Astrologi, Sulit Melupakan Luka dan Sakit Hati

Namun demikian, Vida menegaskan bahwa keberadaan sistem sungai purba di Paparan Sunda membuka kemungkinan adanya jalur alternatif yang sama pentingnya dalam mendukung migrasi manusia pada masa itu.

Pada masa glasial, ketika permukaan laut berada jauh lebih rendah dibanding saat ini, terbentuk hamparan daratan luas yang menghubungkan wilayah-wilayah di Asia Tenggara. Kondisi tersebut memungkinkan terjadinya pergerakan manusia, hewan, dan tumbuhan secara lebih leluasa di kawasan Paparan Sunda.

Wilayah timur Paparan Sunda juga dinilai memiliki peran strategis karena menjadi pintu penghubung menuju Wallacea dan Sahul, kawasan yang mencakup Australia dan Papua. Berbagai temuan arkeologi di Kalimantan menunjukkan keberadaan manusia modern sejak sekitar 45.000 hingga 30.000 tahun lalu.

Bukti tersebut diperoleh dari penemuan alat-alat batu, sisa-sisa fauna, serta jejak hunian di sejumlah gua yang tersebar di wilayah Kalimantan. Temuan-temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa kawasan ini menjadi salah satu jalur penting dalam perjalanan manusia menuju wilayah timur Nusantara.

Meski demikian, penelitian mengenai migrasi manusia awal di Asia Tenggara masih menghadapi berbagai kendala. Salah satu tantangan terbesar adalah kondisi iklim tropis yang kurang mendukung pelestarian fosil dalam jangka waktu panjang.

Baca Juga :  Tradisi “Njuk Tau Nenghi” Sambut Idul Adha Tetap Dilestarikan di Tigo Luhah Semurup

Tingkat keasaman tanah yang tinggi menyebabkan tulang dan kolagen lebih cepat mengalami kerusakan sehingga menyulitkan proses penanggalan absolut dan rekonstruksi sejarah manusia purba.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, BRIN terus mengembangkan berbagai penelitian lanjutan melalui survei geofisika, analisis sedimen, serta penerapan teknologi penanggalan modern. Upaya ini dilakukan guna memperoleh data yang lebih akurat mengenai pola migrasi dan persebaran manusia prasejarah di kawasan Paparan Sunda.

Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) BRIN, Herry Yogaswara, menegaskan bahwa kajian migrasi manusia prasejarah memiliki peran penting dalam memahami dinamika awal peradaban di Nusantara.

Sebagai bentuk komitmen terhadap pengembangan riset tersebut, BRIN memberikan perhatian khusus pada studi evolusi dan persebaran manusia di Asia Tenggara. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah pembentukan Center for Human Evolution, Adaptation, and Dispersal in Southeast Asia (CHEADSEA), sebuah pusat kajian yang telah memperoleh perhatian resmi dari UNESCO.

Melalui forum ilmiah dan kolaborasi lintas disiplin, BRIN berharap lahir berbagai temuan baru yang dapat memperkaya pemahaman mengenai perjalanan panjang manusia prasejarah dan perkembangan peradaban awal di kawasan Asia Tenggara, khususnya Nusantara.

Editor : Safwandi., Dpt

Berita Terkait

Limbago Adat sebagai Ruh, Lembaga Adat sebagai Wadah
Fosil Baru Homo Habilis Picu Perdebatan, Benarkah Leluhur Awal Manusia Bukan Genus Homo?
DUA LAPIS KEWAJIBAN HUKUM PIDANA PEMKAB KERINCI
Tradisi “Njuk Tau Nenghi” Sambut Idul Adha Tetap Dilestarikan di Tigo Luhah Semurup
Bahasa Kias Kerinci, Identitas Budaya yang Mulai Tergerus Zaman
LAM-SAK Dorong Strategi Pembangunan Berbasis Budaya dan Sejarah Kerinci dalam Diskusi Rabuan Roadshow 2026
Kementerian Kebudayaan Tetapkan 430 Cagar Budaya Nasional Baru pada 2026
Hafiful Hadi Sunliensyar, Akademisi Muda Kerinci yang Gigih Meneliti Manuskrip dan Warisan Budaya Nusantara

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 01:00 WIB

BRIN Ungkap Sungai Purba Paparan Sunda Diduga Jadi Jalur Migrasi Manusia Modern Awal di Asia Tenggara

Minggu, 31 Mei 2026 - 12:42 WIB

Limbago Adat sebagai Ruh, Lembaga Adat sebagai Wadah

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:00 WIB

Fosil Baru Homo Habilis Picu Perdebatan, Benarkah Leluhur Awal Manusia Bukan Genus Homo?

Selasa, 26 Mei 2026 - 01:00 WIB

DUA LAPIS KEWAJIBAN HUKUM PIDANA PEMKAB KERINCI

Sabtu, 23 Mei 2026 - 21:07 WIB

Tradisi “Njuk Tau Nenghi” Sambut Idul Adha Tetap Dilestarikan di Tigo Luhah Semurup

Berita Terbaru

Jambi

Progres Tol Palembang–Jambi Tembus 82 Persen

Senin, 1 Jun 2026 - 03:00 WIB

Tips dan informasi

5 Warna Cat Rumah yang Bikin Suasana Lebih Bahagia dan Nyaman

Minggu, 31 Mei 2026 - 19:00 WIB