Bahasa Kias Kerinci, Identitas Budaya yang Mulai Tergerus Zaman

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 22 Mei 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Safwandi., Dpt (Kepalo Sembah)

Bagi masyarakat Kerinci, tutur kata bukan hanya alat komunikasi, melainkan cerminan adat, martabat, dan kepribadian seseorang. Dalam kehidupan masyarakat adat Kerinci sejak dahulu, setiap ucapan selalu dijaga dengan penuh kehati-hatian. Karena itu, leluhur Kerinci mewariskan tradisi bertutur menggunakan bahasa kias, perumpamaan, petatah-petitih, dan ungkapan adat yang mengandung makna mendalam.

Manusio menangkap kias binatang menangkap pukul“.

Tradisi ini lahir dari cara pandang masyarakat Kerinci yang menjunjung tinggi kesopanan dan keharmonisan sosial. Orang tua dahulu mengajarkan bahwa kata-kata dapat menjadi penyejuk, tetapi juga dapat menjadi sumber perselisihan apabila diucapkan tanpa pertimbangan.

Tikam seribu tidak membunuh tikam seliang dibao mati

Oleh sebab itu, menyampaikan nasihat, teguran, maupun kritik dilakukan dengan cara halus melalui bahasa kias agar tidak melukai hati orang lain.

Dalam adat Kerinci dikenal prinsip bahwa berbicara harus “bertimbang rasa”. Direnung dulu baru bicaro.

Maksudnya, setiap ucapan harus memperhatikan perasaan, kedudukan, dan situasi orang yang diajak berbicara. Karena itu, masyarakat Kerinci tidak terbiasa menyampaikan sesuatu secara kasar atau terang-terangan, terutama dalam urusan adat dan kekeluargaan.

Baca Juga :  Kematian Anak 12 Tahun dengan Luka Lebam di Jampangkulon Diselidiki Polisi

Bahasa kias menjadi bagian penting dalam musyawarah adat, penyelesaian sengketa, hingga pertemuan keluarga. Para depati, ninik mamak, dan tokoh adat lazim menggunakan ungkapan adat sebagai sarana menyampaikan pesan moral maupun keputusan adat. Cara ini bukan sekadar memperindah bahasa, tetapi menunjukkan kebijaksanaan dan kedewasaan dalam bertutur.

Sebagian besar ungkapan adat Kerinci lahir dari hubungan masyarakat dengan alam. Gunung, sawah, sungai, hutan, dan kehidupan sehari-hari dijadikan sumber pelajaran hidup.

Alam bukan hanya tempat hidup masyarakat Kerinci, tetapi juga guru yang mengajarkan nilai keseimbangan, kesabaran, persatuan, dan penghormatan terhadap sesama.
Alam tikembang munjadi Guru

Melalui bahasa kias, leluhur Kerinci mengajarkan pentingnya menjaga persaudaraan, menghormati orang tua, menahan amarah, serta mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan. Semua nilai itu diwariskan bukan melalui kemarahan, melainkan melalui kata-kata bijak yang mudah diterima dan direnungkan.

Namun, perkembangan zaman saat ini membawa perubahan besar dalam pola komunikasi masyarakat. Bahasa yang serba cepat dan langsung perlahan menggeser tradisi tutur yang santun dan penuh makna. Generasi muda semakin jarang mengenal petatah-petitih adat maupun ungkapan kias yang dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Kerinci.

Baca Juga :  KUHP Baru 2026, Delik Adat dan Tantangan Multitafsir

Keadaan ini tentu menjadi perhatian bersama. Sebab hilangnya bahasa kias berarti hilangnya sebagian warisan budaya dan jati diri masyarakat Kerinci. Di dalam ungkapan adat tersimpan nilai moral, filosofi hidup, dan kebijaksanaan leluhur yang sangat berharga bagi kehidupan sosial masyarakat.

Karena itu, tradisi tutur adat Kerinci perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda. Pendidikan budaya lokal, kegiatan adat, sastra lisan, dan peran keluarga menjadi sangat penting dalam memperkenalkan kembali nilai-nilai tersebut.

Bahasa kias bukan sekadar rangkaian kata indah. Ia adalah cermin peradaban masyarakat Kerinci yang mengajarkan bahwa berbicara bukan hanya soal menyampaikan maksud, tetapi juga menjaga rasa, menghormati martabat sesama, dan merawat keharmonisan dalam kehidupan bersama.

Penulis : Safwandi., Dpt (Kepalo Sembah)

Berita Terkait

LAM-SAK Dorong Strategi Pembangunan Berbasis Budaya dan Sejarah Kerinci dalam Diskusi Rabuan Roadshow 2026
Kementerian Kebudayaan Tetapkan 430 Cagar Budaya Nasional Baru pada 2026
Hafiful Hadi Sunliensyar, Akademisi Muda Kerinci yang Gigih Meneliti Manuskrip dan Warisan Budaya Nusantara
Safwandi, Tokoh Adat dan Media Lokal yang Konsisten Jaga Identitas Budaya Kerinci
Gunung Kerinci Masuk Daftar, Ini 7 Gunung Tertinggi di Indonesia
Kisah Qin Shi Huang, Kaisar China yang Terobsesi Hidup Abadi Namun Wafat di Usia 49 Tahun
Mengapa Warna Hitam Identik dengan Suasana Duka? Ini Sejarah dan Maknanya
Riset Ungkap Raja Eropa Lebih Dipercaya Dibanding Pemimpin Politik

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 17:00 WIB

Bahasa Kias Kerinci, Identitas Budaya yang Mulai Tergerus Zaman

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:02 WIB

LAM-SAK Dorong Strategi Pembangunan Berbasis Budaya dan Sejarah Kerinci dalam Diskusi Rabuan Roadshow 2026

Kamis, 21 Mei 2026 - 07:00 WIB

Kementerian Kebudayaan Tetapkan 430 Cagar Budaya Nasional Baru pada 2026

Selasa, 19 Mei 2026 - 15:51 WIB

Hafiful Hadi Sunliensyar, Akademisi Muda Kerinci yang Gigih Meneliti Manuskrip dan Warisan Budaya Nusantara

Minggu, 17 Mei 2026 - 19:21 WIB

Safwandi, Tokoh Adat dan Media Lokal yang Konsisten Jaga Identitas Budaya Kerinci

Berita Terbaru

Tips dan informasi

Fantastis! Mangga Raksasa Dijual Hingga Rp500 Ribu per Buah

Jumat, 22 Mei 2026 - 19:52 WIB

Budaya dan Wisata

Bahasa Kias Kerinci, Identitas Budaya yang Mulai Tergerus Zaman

Jumat, 22 Mei 2026 - 17:00 WIB

Tips dan informasi

7 Kebiasaan yang Membuat Mobil Boros BBM, Pengendara Wajib Tahu

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:00 WIB