Jakarta, Pribhumi.com – Pergerakan harga minyak mentah global pada perdagangan Jumat, 1 Mei 2026 pukul 08.30 WIB menunjukkan kondisi yang masih kuat di pasar internasional. Minyak mentah jenis Brent tercatat berada di level 111,71 dolar AS per barel, mengalami sedikit koreksi dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di angka 114,01 dolar AS per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) justru menguat ke posisi 105,69 dolar AS per barel, naik tipis dari level penutupan sebelumnya yang berada di 105,07 dolar AS per barel.
Dari sisi teknikal, pergerakan harga minyak saat ini mengindikasikan tren yang cukup signifikan. Kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir dinilai berhasil menembus garis resistensi utama (trendline), yang sebelumnya menjadi batas penguatan. Penembusan ini menjadi sinyal penting karena berpotensi menjaga harga tetap stabil di level tinggi serta membuka peluang konsolidasi dalam jangka pendek.
Selain itu, bertahannya harga di atas garis tersebut juga memperkuat fondasi teknikal pasar untuk menahan tekanan koreksi dalam waktu dekat.
Sentimen Pasar Minyak Global
Kuatnya harga minyak saat ini tidak terlepas dari dinamika sentimen global yang terus berkembang. Dalam jangka pendek, pasar didominasi oleh sentimen positif (bullish) yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Meskipun terdapat upaya menuju gencatan senjata, isu blokade terhadap pelabuhan Iran di Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama. Amerika Serikat dilaporkan telah menahan puluhan kapal komersial yang membawa jutaan barel minyak mentah Iran, dengan nilai mencapai miliaran dolar AS.
Situasi ini memicu respons keras dari pihak Iran yang menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah militer jika tekanan terus berlanjut. Di sisi lain, Rusia turut memperingatkan bahwa eskalasi konflik dapat menimbulkan dampak besar bagi stabilitas kawasan.
Ketidakpastian pasokan akibat konflik ini sempat mendorong harga minyak menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Namun demikian, dalam jangka panjang pasar juga menghadapi tekanan negatif (bearish). Hal ini dipicu oleh keputusan Uni Emirat Arab untuk keluar dari kelompok negara pengekspor minyak mulai 1 Mei 2026. Langkah tersebut diambil untuk meningkatkan kapasitas produksi hingga mencapai target 5 juta barel per hari pada 2027.
Kebijakan ini berpotensi meningkatkan pasokan global secara signifikan dan mengurangi kemampuan pengelolaan cadangan oleh organisasi produsen minyak. Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu persaingan harga yang lebih ketat di masa mendatang.
Dengan kombinasi sentimen geopolitik dan kebijakan produksi, pasar minyak global diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat.






