JAMBI, Pribhumi.com — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meminta Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menahan intensitas serangan militer ke Lebanon. Permintaan tersebut disampaikan langsung melalui percakapan telepon antara kedua pemimpin.
Dalam wawancara dengan media AS, Trump mengungkapkan bahwa Netanyahu merespons positif imbauan tersebut. Ia menilai situasi kawasan perlu ditenangkan guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
Trump juga menyatakan optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran dalam waktu dekat. Upaya diplomasi terus dilakukan, termasuk rencana kunjungan delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance ke Pakistan untuk membahas penyelesaian konflik yang telah berlangsung selama hampir enam minggu.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan dinamika yang berbeda. Serangan militer Israel masih terus berlangsung di wilayah selatan Lebanon, yang menjadi basis kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata sementara antara AS dan Iran bisa kembali runtuh.
Sejumlah pemimpin Eropa turut mendesak agar Lebanon dimasukkan dalam skema gencatan senjata terbatas. Meski demikian, Netanyahu menegaskan bahwa operasi terhadap Hizbullah akan tetap berlanjut, karena tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Iran.
Di tengah meningkatnya konflik, Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz, jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Penutupan ini menjadi perhatian global karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi kawasan tersebut.
Serangan Israel di Lebanon dilaporkan menewaskan sedikitnya 112 orang dan melukai ratusan lainnya, termasuk di ibu kota Beirut. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan operasi militer menargetkan ratusan anggota Hizbullah dalam serangan besar-besaran.
Sementara itu, laporan mengenai penutupan Selat Hormuz masih memicu perdebatan. Pihak Gedung Putih melalui juru bicaranya, Karoline Leavitt, membantah informasi tersebut dan menyebutnya tidak benar.
Situasi ini menunjukkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih jauh dari mereda, dengan potensi dampak besar terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global.











