Safwandi: Tradisi Kerinci Terancam Punah Akibat Gagal Dipahami dan Salah Diterjemahkan

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 28 Oktober 2025 - 23:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kerinci, Pribhumi.com — Budayawan Kerinci, Safwandi., Dpt, menyampaikan peringatan keras mengenai ancaman besar terhadap nilai-nilai tradisi dan budaya lokal yang mulai tergerus oleh arus modernisasi dan ketidakpahaman makna filosofis.

Dalam tayangan TikTok bertajuk “Local Wisdom Education” di akun @andiandalas45, Safwandi yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Lembaga Adat Melayu (LAM) Sakti Alam Kerinci, menegaskan bahwa akar persoalan pelestarian budaya bukan sekadar pada perubahan zaman, tetapi pada kegagalan memahami makna kias dan filosofi dalam tradisi itu sendiri.

“Orang-orang yang menentang itu sebenarnya tidak paham tentang nilai-nilai filosofis yang terkandung di situ,” ujar Safwandi dalam tayangan tersebut.

Ia menilai, banyak pihak yang menolak atau menganggap tradisi kuno karena tidak memahami kedalaman maknanya. Padahal, setiap unsur tradisi menyimpan ajaran moral, sosial, dan spiritual yang menjadi pedoman hidup masyarakat Kerinci sejak lama.

Baca Juga :  Jutaan Pengguna Android Berpeluang Dapat Kompensasi dari Gugatan Google Senilai Rp2,3 Triliun

Lebih lanjut, Safwandi juga mengkritik cara penyampaian tradisi oleh para pelaku budaya yang sering kali tidak efektif.

“Bagi sang pelaku itu, kadang-kadangnya tidak bisa secara gamblang menjelaskan. Kadang-kadang salah cara menjelaskan,” katanya.

Menurutnya, kesalahan penjelasan dan komunikasi membuat nilai-nilai luhur sulit dipahami oleh generasi muda. Akibatnya, muncul kesenjangan antara praktik tradisi dan pemahaman esensialnya, yang dapat berujung pada penolakan terhadap warisan budaya sendiri.

Baca Juga :  BRIN Ungkap Sungai Purba Paparan Sunda Diduga Jadi Jalur Migrasi Manusia Modern Awal di Asia Tenggara

Safwandi menyerukan perlunya pendidikan budaya dan kearifan lokal yang berbasis pada pemahaman filosofis, bukan sekadar seremoni atau formalitas adat. Ia menekankan, jika tidak segera dilakukan upaya serius, maka tradisi Kerinci dapat kehilangan ruhnya dan hanya tinggal simbol tanpa makna.

“Kita harus kembali memahami dan menjelaskan esensi dari tradisi itu sendiri agar budaya kita tidak hilang ditelan zaman,” tegasnya.

Pernyataan Safwandi menjadi pengingat penting bagi seluruh pihak, baik masyarakat adat, akademisi, maupun pemerintah daerah, untuk memperkuat literasi budaya demi menjaga warisan leluhur dari ancaman ketidakpahaman dan penolakan generasi.

Berita Terkait

Peringati Sumpah Pemuda 2026, Bupati Monadi Dukung Aksi 28 Pemuda Taklukkan Gunung Kerinci
11 Personel Polres Kerinci Terima Penghargaan, Kapolres AKBP Hernawan Tekankan Pentingnya Dedikasi
Tinjau TC MTQ ke-55, Kakankemenag Kerinci Ajak Kafilah Tingkatkan Kesungguhan dan Optimisme Raih Prestasi
Festival Budaya Kerinci 2026 Resmi Ditutup, Ribuan Warga Meriahkan Dermaga Danau Kerinci
DPD PKPS Sungai Penuh Dikukuhkan, Jumadil Pimpin Organisasi Periode 2025–2030
Noka Experience Padukan Kopi dan Budaya Lokal, Warnai Festival Budaya Kerinci 2026
Sambal Khas Kerinci Mendunia ditangan PitriaNova
Ngopi Pendidikan Islam Bersama HBA, Kakankemenag Kerinci Soroti Tantangan Madrasah Era Digital

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 02:29 WIB

Peringati Sumpah Pemuda 2026, Bupati Monadi Dukung Aksi 28 Pemuda Taklukkan Gunung Kerinci

Rabu, 28 Oktober 2026 - 00:23 WIB

11 Personel Polres Kerinci Terima Penghargaan, Kapolres AKBP Hernawan Tekankan Pentingnya Dedikasi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:58 WIB

Tinjau TC MTQ ke-55, Kakankemenag Kerinci Ajak Kafilah Tingkatkan Kesungguhan dan Optimisme Raih Prestasi

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:23 WIB

Festival Budaya Kerinci 2026 Resmi Ditutup, Ribuan Warga Meriahkan Dermaga Danau Kerinci

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 18:00 WIB

DPD PKPS Sungai Penuh Dikukuhkan, Jumadil Pimpin Organisasi Periode 2025–2030

Berita Terbaru