Melayu Bukan Sekadar Etnis, Melainkan Ruang Kebudayaan yang Mempertemukan Beragam Identitas

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 21 September 2026 - 09:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KERINCI, Pribhumi.com — Melayu tidak selalu tepat dipahami hanya sebagai nama satu kelompok etnis. Dalam kajian sejarah, bahasa dan kebudayaan Asia Tenggara, istilah Melayu juga digunakan untuk menggambarkan ruang kebudayaan yang luas, tempat berbagai masyarakat saling berhubungan melalui bahasa, perdagangan, agama, migrasi, perkawinan dan pertukaran kebudayaan.

Pandangan tersebut dapat dilihat antara lain dalam kajian linguistik tentang bahasa Melayu. K.A. Adelaar dalam kajiannya mengenai sejarah bahasa Melayu membahas Melayu dalam konteks kawasan “Alam Melayu”, termasuk hubungan bahasa dan sejarahnya dengan masyarakat di kawasan Asia Tenggara. Kajian tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai Melayu tidak semata-mata berhenti pada identitas etnis, tetapi juga menyangkut sejarah perkembangan bahasa dan kebudayaan kawasan.

Kerangka tersebut membantu menjelaskan posisi kelompok seperti Minangkabau, Bugis, Kerinci dan Jawa. Masing-masing memiliki identitas etnis, bahasa dan sejarah tersendiri, tetapi dalam perjalanan sejarah dapat berinteraksi dengan dunia Melayu.

Dalam konteks Kerinci, misalnya, penelitian Hadiyanto dan Sovia Wulandari dari Universitas Jambi menggunakan istilah “bahasa daerah Melayu Kerinci” dan mendokumentasikan penggunaan istilah masyarakat Kerinci dalam kebudayaan agraris. Penelitian itu menunjukkan adanya pembahasan akademik mengenai Kerinci dalam lingkungan bahasa Melayuik, tanpa menghilangkan kekhasan bahasa dan kebudayaan Kerinci.

Baca Juga :  Riset Ungkap Raja Eropa Lebih Dipercaya Dibanding Pemimpin Politik

Kajian linguistik yang lebih baru bahkan secara eksplisit menyebut Kerinci sebagai kelompok varietas Melayuik (Malayic) yang digunakan di Provinsi Jambi. Penelitian Timothy McKinnon, Peter Cole dan Gabriella Hermon yang diterbitkan Cambridge University Press pada 2026 membahas salah satu varietas Kerinci dan menempatkannya dalam kelompok Malayic.

Namun, hubungan Kerinci dengan dunia Melayu juga tidak berarti seluruh kebudayaan Kerinci dapat dijelaskan hanya melalui Melayu. Penelitian Asyhadi Mufsi Sadzali, Yusdi Anra dan Benny Agusti Putra justru melihat Kerinci sebagai wilayah yang berada di antara pengaruh Melayu Jambi dan Alam Minangkabau. Mereka menemukan adanya kemiripan artefak dan unsur sosial dengan Minangkabau, sementara identitas Melayu Jambi juga melekat dalam perkembangan kebudayaan Kerinci. Mereka menyebut proses tersebut sebagai persoalan akulturasi yang perlu dikaji melalui tinggalan arkeologi dan sejarah.

Dengan demikian, kemiripan kebudayaan tidak otomatis berarti kesamaan etnis.

Minangkabau tetap memiliki identitas Minangkabau. Bugis tetap memiliki identitas Bugis. Kerinci tetap memiliki identitas Kerinci. Jawa tetap memiliki identitas Jawa. Sementara Melayu juga memiliki identitas etnis Melayu. Akan tetapi, seluruhnya dapat memiliki hubungan dengan ruang kebudayaan Melayu yang lebih luas melalui proses sejarah yang berbeda-beda.

Baca Juga :  Yusril Ihza Mahendra Tegaskan Reformasi Hukum Berbasis Konstitusi di Era Digital

Yang penting untuk kajian Kerinci

Karena itu, rumusan yang lebih hati-hati adalah:

“Melayu dapat dipahami sebagai salah satu identitas etnis sekaligus sebagai ruang kebudayaan yang lebih luas. Di dalam ruang tersebut berinteraksi berbagai kelompok dengan identitas masing-masing. Karena itu, hubungan suatu masyarakat dengan dunia Melayu tidak serta-merta menghapus identitas etnisnya sendiri.”

Bagi sejarah Kerinci, rumusan ini penting. Kerinci dapat dikaji dalam lingkungan Melayuik dan dunia Melayu, sekaligus tetap dipahami sebagai masyarakat dengan sejarah, adat, bahasa dan identitas lokalnya sendiri. Hubungan Kerinci dengan Minangkabau maupun Melayu Jambi selanjutnya harus dibuktikan melalui naskah, bahasa, arkeologi, adat, migrasi, dan sumber sejarah, bukan semata-mata berdasarkan kemiripan budaya.

Dengan pendekatan ini, pertanyaannya bukan lagi sekadar “Kerinci itu Melayu atau bukan?”, melainkan “Dalam aspek apa Kerinci berhubungan dengan dunia Melayu, sejak kapan, melalui jalur apa, dan apa yang tetap menjadi ciri khas Kerinci?” Ini jauh lebih kuat untuk sebuah kajian sejarah.

Editor : ilustrasi Gambar : ilham k

Berita Terkait

“Jangan Salah Tafsir! Di Balik Simbol Rumah Gedang Ada Petuah, Hikmah dan Amanah Sko”
Silaf dan Asik dalam Adat Kerinci: Jangan Menilai Tradisi Hanya dari Apa yang Tampak
PERJALANAN LELUHUR KALBU IJUNG SKU LAMAT Menghubungkan Jalur Kekerabatan Semurup – Semerap
Empat Suku Sungai Penuh Rajut Kembali Silsilah dengan Keturunan Rajo Cayo Semurup
“Tambo TK 145 Ungkap Jejak Paduka Sara dan Hantaw Maja dalam Sejarah Kerinci”
HBA Tutup Mubes I Debalang Negeri, Tekankan Penguatan Adat dan Marwah Negeri Jambi
Debalang Sungai Penuh dan Kerinci Hadiri Mubes Perdana, Perkuat Komitmen Jaga Marwah Adat
H. Ramli Thaha Terpilih Aklamasi Pimpin Debalang Negeri Sepucuk Jambi 2026–2030

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:55 WIB

“Jangan Salah Tafsir! Di Balik Simbol Rumah Gedang Ada Petuah, Hikmah dan Amanah Sko”

Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:55 WIB

Silaf dan Asik dalam Adat Kerinci: Jangan Menilai Tradisi Hanya dari Apa yang Tampak

Kamis, 1 Oktober 2026 - 18:59 WIB

PERJALANAN LELUHUR KALBU IJUNG SKU LAMAT Menghubungkan Jalur Kekerabatan Semurup – Semerap

Senin, 21 September 2026 - 09:53 WIB

Melayu Bukan Sekadar Etnis, Melainkan Ruang Kebudayaan yang Mempertemukan Beragam Identitas

Jumat, 18 September 2026 - 15:37 WIB

Empat Suku Sungai Penuh Rajut Kembali Silsilah dengan Keturunan Rajo Cayo Semurup

Berita Terbaru

Tips dan informasi

Cara Membuat Urap Sayur yang Lezat, Rahasia Bumbunya Ada pada Kencur

Senin, 12 Okt 2026 - 01:36 WIB

Uncategorized

Pre-order iPhone 18 Pro dan Pro Max di iBox Dibuka, Ini Cara Pesannya

Minggu, 11 Okt 2026 - 23:27 WIB

Game

Komdigi Desak Roblox Buka Kantor dan Punya Bos di Jakarta

Minggu, 11 Okt 2026 - 17:17 WIB