Mahout di Jambi Jadi Garda Terdepan Jinakkan Konflik Gajah dan Manusia

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 16 Mei 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI, Pribhumi.com – Setiap pagi, Agus Rembo memulai aktivitasnya dengan melepas rantai gajah Sumatera jinak bernama Rendo sebelum menggiringnya menuju area angon di Pusat Informasi Konservasi Gajah (PIKG) Desa Muaro Sekalo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi. Di balik tugas itu, Agus bukan sekadar pawang atau mahout, tetapi juga menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi konflik antara manusia dan gajah liar di kawasan Bentang Alam Bukit Tigapuluh.

PIKG Tebo yang berdiri di Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Bukit Tigapuluh saat ini memiliki lima ekor gajah jinak. Satwa tersebut terdiri dari dua gajah jantan bernama Leo dan Rendo yang didatangkan dari Way Kambas, Lampung, serta tiga gajah betina yakni Tiara, Juwita, dan Kalangi yang berasal dari Sumatera Selatan.

Agus mengungkapkan, hubungan antara mahout dan gajah tidak bisa dibangun secara instan. Dibutuhkan proses panjang agar gajah mengenali suara, aroma tubuh, hingga karakter pawangnya.

“Gajah hanya benar-benar patuh kepada mahout yang sudah dekat dengannya. Kalau berganti pawang, maka pendekatan harus dimulai lagi dari awal,” ujar Agus, Jumat (15/5/2026).

Menurutnya, pendekatan dilakukan secara perlahan mulai dari memberi makan, mengelus belalai, hingga rutin berinteraksi setiap hari. Bahkan, gajah juga memiliki perubahan suasana hati atau mood swing yang membuatnya sulit dikendalikan.

“Kadang ada masa agresifnya, biasanya beberapa bulan sekali. Saat itu gajah tidak mau mendengar panggilan dan harus dibiarkan tenang dulu,” katanya.

Selain memahami emosi gajah, para mahout juga harus membaca bahasa tubuh satwa berbelalai tersebut. Gerakan telinga menjadi salah satu tanda kondisi emosional gajah.

Baca Juga :  Al Haris Sambut Kepulangan 450 Prajurit Yonif 142/KJ dari Misi Pengamanan Papua

Jika telinga bergerak aktif, gajah sedang merasa nyaman. Namun apabila telinganya diam dan tegang, itu menjadi tanda gajah dalam kondisi agresif sehingga tidak boleh didekati secara langsung.

Jadi Garda Depan Penghalau Gajah Liar

Keberadaan PIKG Tebo menjadi salah satu solusi meningkatnya konflik antara manusia dan gajah liar di kawasan Bukit Tigapuluh. Menyusutnya habitat akibat pembukaan lahan, perkebunan sawit, hingga permukiman membuat jalur jelajah gajah berubah drastis.

Saat ini populasi gajah liar di bentang alam Bukit Tigapuluh diperkirakan mencapai lebih dari 100 ekor yang tersebar di wilayah Kabupaten Tebo hingga Tanjung Jabung Barat.

Para mahout bersama gajah jinak bertugas menggiring kawanan gajah liar agar tidak masuk ke perkebunan maupun pemukiman warga. Proses penghalauan dilakukan dengan hati-hati agar tidak memicu serangan dari kawanan liar.

“Kita tidak bisa menggiring dengan kasar. Semua harus perlahan agar kawanan gajah menjauh tanpa panik,” ujar Sugi, salah satu mahout di PIKG Tebo.

Dalam proses mitigasi itu, penggunaan gajah betina dinilai lebih aman karena tidak mudah memancing agresivitas gajah liar dibandingkan gajah jantan.

Kebutuhan Pakan Gajah Masih Jadi Tantangan

Meski memiliki area seluas 5,4 hektare, PIKG Tebo masih menghadapi keterbatasan lahan angon dan pasokan pakan. Lima ekor gajah dewasa membutuhkan ratusan kilogram makanan setiap hari.

Koordinator Mahout PIKG Tebo, Edi, mengatakan para pawang terkadang harus menggiring gajah ke area kebun masyarakat yang belum digunakan untuk memenuhi kebutuhan pakan alami.

Baca Juga :  Obsidian Kerap Disangka “Gigi Petir”, Antara Mitos Lokal dan Fakta Ilmiah

Jenis pakan yang dikonsumsi gajah meliputi rumput king grass, tanaman akar-akaran, batang kayu muda, hingga buah-buahan seperti pisang, pepaya, semangka, dan labu muda.

Sejumlah petani lokal juga ikut mendukung kebutuhan pakan. Salah satunya Husein yang menanam king grass khusus untuk dipasok ke PIKG Tebo.

“Sekali panen bisa mencapai lima ton dan panen dilakukan dua minggu sekali,” kata Husein.

Dukungan juga datang dari WWF Indonesia melalui bantuan bibit tanaman pakan gajah seperti pisang, tebu, nanas, dan labu manis, termasuk penyediaan pompa air dan tangki penampungan air.

Deforestasi Picu Konflik Gajah dan Manusia

Bentang Alam Bukit Tigapuluh yang membentang di wilayah Jambi dan Riau memiliki luas lebih dari 500 ribu hektare. Namun, dalam beberapa tahun terakhir kawasan tersebut mengalami peningkatan deforestasi akibat pembukaan lahan, pertambangan, dan ekspansi perkebunan sawit.

WWF Indonesia mencatat tutupan hutan yang tersisa kini hanya sekitar 40 persen dari total kawasan. Kondisi itu membuat habitat alami gajah Sumatera terus menyusut dan memicu meningkatnya konflik dengan manusia.

Tanaman sawit muda menjadi salah satu target utama gajah liar karena bagian umbutnya disukai satwa tersebut. Akibatnya, kerusakan kebun milik warga pun kerap terjadi.

Sebagai langkah mitigasi, masyarakat sekitar kawasan Bukit Tigapuluh diberikan pelatihan penanganan konflik gajah serta didorong menanam tanaman yang tidak disukai gajah di sekitar kebun sebagai penghalang alami.

Editor : Safwandi., Dpt

Berita Terkait

Panggung MTQ ke-55 Provinsi Jambi Mulai Dipasang, Persiapan Kota Jambi Capai 60 Persen
Wakapolda Jambi Bersama Tokoh Agama Hadiri Haul Akbar dan Harlah Al-Hidayah
Kemenhaj Jambi Benahi Antrean Haji, Masa Tunggu Ditargetkan 14–16 Tahun pada 2027
Al Haris dan Danrem Pantau Karhutla di Kumpeh, Pemadaman Terkendala Angin Kencang
Al Haris Kerahkan Satgas Karhutla, 146 Personel Disiagakan di Tiga Pos Penanganan
ISPU Muaro Jambi Capai 228, Warga Diminta Waspadai Dampak Polusi Udara
Mahasiswa ITB Asal Jambi Meninggal di Cianjur Saat Ikuti Ultra Marathon 2026
Kasus Dugaan Penipuan Rekrutmen Bintara Polri 2026, Polda Jambi Tetapkan Dua Personel Dipecat

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 05:40 WIB

Panggung MTQ ke-55 Provinsi Jambi Mulai Dipasang, Persiapan Kota Jambi Capai 60 Persen

Selasa, 20 Oktober 2026 - 03:58 WIB

Wakapolda Jambi Bersama Tokoh Agama Hadiri Haul Akbar dan Harlah Al-Hidayah

Selasa, 20 Oktober 2026 - 01:51 WIB

Kemenhaj Jambi Benahi Antrean Haji, Masa Tunggu Ditargetkan 14–16 Tahun pada 2027

Senin, 19 Oktober 2026 - 23:59 WIB

Al Haris dan Danrem Pantau Karhutla di Kumpeh, Pemadaman Terkendala Angin Kencang

Senin, 19 Oktober 2026 - 21:50 WIB

Al Haris Kerahkan Satgas Karhutla, 146 Personel Disiagakan di Tiga Pos Penanganan

Berita Terbaru