Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Ekstrem, Jambi Mulai Bersiap

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 6 April 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI, Pribhumi.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jambi memprediksi fenomena El Nino pada 2026 akan memiliki intensitas lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini berpotensi memicu kemarau yang lebih panjang serta peningkatan suhu udara di berbagai wilayah, termasuk Provinsi Jambi.

Prakirawan Cuaca BMKG Jambi, Luckita Theresia, menyampaikan bahwa pada 2025 Indonesia masih berada dalam fase La Nina yang menyebabkan curah hujan relatif tinggi. Namun, situasi tersebut diperkirakan berubah pada 2026 seiring meningkatnya aktivitas El Nino.

“Jika tahun lalu masih dipengaruhi La Nina dengan curah hujan lebih banyak, maka tahun ini potensi kemarau akan lebih dominan dan berlangsung lebih lama,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).

Ia menjelaskan, suhu udara pada 2025 berada di kisaran 32 hingga 34 derajat Celsius. Sementara pada 2026, suhu diprediksi meningkat menjadi sekitar 34 hingga 36 derajat Celsius, seiring menguatnya fenomena El Nino.

Meski demikian, kondisi cuaca di Jambi saat ini masih tergolong aman karena belum memasuki puncak musim kemarau. BMKG memperkirakan peralihan menuju musim kemarau akan mulai terjadi pada akhir Mei hingga Juni 2026.

“Untuk saat ini masih dalam masa peralihan, namun perlu diwaspadai mulai dasarian ketiga Mei hingga Juni apakah sudah masuk musim kemarau,” jelasnya.

Baca Juga :  Anutin Charnvirakul Kembali Jadi PM Thailand, Usung Nasionalisme dan Stabilitas Ekonomi

Luckita menegaskan bahwa dampak El Nino berskala luas dan akan dirasakan di seluruh wilayah Jambi. Salah satu dampak paling signifikan adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang selama ini menjadi ancaman rutin saat musim kemarau.

Kondisi suhu tinggi dan tanah yang kering dinilai dapat memicu kebakaran, terutama jika disertai aktivitas pembakaran terbuka oleh masyarakat.

“Lingkungan yang panas dan kering sangat rentan memicu kebakaran, apalagi jika ada gesekan atau aktivitas yang melibatkan api,” katanya.

BMKG pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan atau sampah, serta lebih waspada terhadap potensi penyebaran api yang lebih cepat di musim kemarau.

Selain itu, sektor pertanian juga diperkirakan terdampak akibat berkurangnya curah hujan dan panjangnya periode kemarau. Petani diminta mulai mengantisipasi kemungkinan kekeringan yang dapat mengganggu produktivitas lahan.

Pemerintah Siapkan Mitigasi

Pemerintah Provinsi Jambi menyatakan tengah menyiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi potensi karhutla. Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, Sudirman, mengatakan pihaknya masih menunggu data resmi dari BMKG sebelum menetapkan langkah strategis.

“Biasanya akan dilakukan rapat koordinasi setelah ada paparan resmi dari BMKG, baru kemudian ditentukan status dan langkah lanjutan,” ujarnya.

Baca Juga :  Banjir Setinggi 1,5 Meter Rendam Permukiman Warga Cibeber Cilegon, 320 Orang Terdampak

Fenomena “Godzilla” El Nino

El Nino merupakan fenomena iklim global yang menyebabkan pergeseran pembentukan awan hujan dari wilayah Indonesia ke Samudra Pasifik, sehingga mengurangi curah hujan di Indonesia.

Istilah “Godzilla El Nino” sendiri bukan kategori ilmiah resmi, melainkan sebutan populer untuk menggambarkan El Nino dengan intensitas sangat kuat. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan NASA, Bill Patzert, pada 2015 sebagai bentuk peringatan terhadap dampak ekstrem yang ditimbulkan.

Berdasarkan laporan terbaru, peluang munculnya El Nino pada periode Juni hingga Agustus 2026 mencapai sekitar 62 persen. Kondisi ini berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan secara signifikan, peningkatan suhu, hingga kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.

Dampak yang mungkin terjadi meliputi berkurangnya cadangan air, gangguan irigasi, sumur mengering, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Di Provinsi Jambi, musim kemarau tahun ini bahkan diprediksi datang lebih awal, yakni pada akhir Mei 2026. Selain lebih panjang, intensitas kemarau juga diperkirakan lebih kering dari kondisi normal.

Masyarakat diimbau untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini, terutama dalam menjaga ketersediaan air, mengelola lahan pertanian, serta mencegah kebakaran hutan dan lahan.

Berita Terkait

Al Haris Lantik Lima Pejabat Eselon II, Tegaskan Jabatan Bukan Kesempatan Menyalahgunakan Wewenang
Gubernur Al Haris Tegaskan Jambi Tolak Praktik LGBT, Kedepankan Nilai Agama dan Adat
Bupati di Wilayah Barat Jambi Dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas Dugaan Pemalsuan Akta
Jambi Masuki Puncak Kemarau 2026, BPBD Siagakan 81 Posko Antisipasi Karhutla dan El Nino
Ombudsman Jambi Dorong KPK Tindak Temuan Maladministrasi yang Berpotensi Korupsi di Pelayanan Publik
Ombudsman Jambi dan KPK Perkuat Sinergi Cegah Korupsi di Sektor Pelayanan Publik
5 Pejabat Utama Polda Jambi Dimutasi, Kapolresta Jambi dan Kapolres Muaro Jambi Berganti
Curi Kabel Induk PLN Sepanjang Ratusan Meter, Pelaku Ditangkap Usai Dikejar di Area Rawa

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 18:13 WIB

Gubernur Al Haris Tegaskan Jambi Tolak Praktik LGBT, Kedepankan Nilai Agama dan Adat

Selasa, 7 Juli 2026 - 08:02 WIB

Bupati di Wilayah Barat Jambi Dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas Dugaan Pemalsuan Akta

Jumat, 3 Juli 2026 - 19:01 WIB

Jambi Masuki Puncak Kemarau 2026, BPBD Siagakan 81 Posko Antisipasi Karhutla dan El Nino

Rabu, 1 Juli 2026 - 19:00 WIB

Ombudsman Jambi Dorong KPK Tindak Temuan Maladministrasi yang Berpotensi Korupsi di Pelayanan Publik

Selasa, 30 Juni 2026 - 20:49 WIB

Ombudsman Jambi dan KPK Perkuat Sinergi Cegah Korupsi di Sektor Pelayanan Publik

Berita Terbaru

Budaya dan Wisata

IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat

Minggu, 19 Jul 2026 - 11:00 WIB