Pribhumi.com, Kerinci – Perjalanan leluhur pada masa lalu meninggalkan jejak yang menghubungkan satu kampung dengan kampung lainnya. Salah satu kisah yang masih hidup dalam tutur masyarakat, Kalbu Ijung Sku Lamat dari Dusun Koto Baru Semurup yang memiliki hubungan saudara dengan keluarga yang berada di Dusun Semerap, Kecamatan Keliling Danau.
Ijung Sku Lamat, yang juga dikenal sebagai Khatib Salih Imam Baruji yang bermakam di Bukit Koto Payung Semurup tinggi merupakan seorang ulama dan pendakwah Islam Memiliki Saudara yang menetap di Semerap.
Dalam tutur lisan, Ijung Sku Lamat bersama sanak saudaranya merupakan keturunan Ninek Suri Alam, yang dikenal dengan gelar Depati Panggar Gumi Tuo.
Perjalanan Sanak Saudara ke Semerap
Dalam tutur lisan, Ijung Sku Lamat disebut memiliki seorang sanak saudara yang kemudian menetap di Semerap. Mengenai identitas beliau terdapat beberapa versi penuturan yang berkembang di tengah masyarakat.
Salah satu versi menyebutkan bahwa beliau merupakan saudara perempuan Ijung Suku Lamat, yang nama aslinya tidak lagi diketahui secara pasti. Dalam versi lainnya dikenal dengan nama Ninek Pirak, Penunggu Pintu Lawang.
Sementara dalam tutur yang berkembang di Semerap, terdapat versi yang menyebutkan bahwa sosok yang datang dari Semurup tersebut adalah laki-laki. Hal ini kemudian dikaitkan dengan kondisi makam di Semerap, di mana terdapat dua orang yang dimakamkan dalam satu kompleks makam.
Namun, terdapat satu bagian cerita yang tetap menjadi benang merah dalam berbagai penuturan, yaitu bahwa sanak saudara Ijung Suku Lamat dari Semurup kemudian melakukan perjalanan hingga ke Semerap.
Dalam tutur lisan disebutkan:
“Beliau yang bulayie ke Muaro Injab.”
Dikisahkan, sanak saudara Ijung Sku Lamat meninggalkan kampung halaman karena tidak menemukan pilihan hati yang sesuai. Ia kemudian menghilirkan Sungai Batang Merao menggunakan cerapung, mengikuti aliran sungai hingga akhirnya sampai di Dusun Semerap, Kecamatan Keliling Danau.
Di Semerap, beliau kemudian menetap dan menikah. Dari perkawinan tersebut lahirlah beberapa keturunan yang kemudian menjadi bagian dari masyarakat Semerap. Beliau kemudian dimakamkan di sekitar belakang Pasar Semerap.
Jejak Kekerabatan dalam Tambo Semerap
Hubungan antara Semurup dan Semerap juga memiliki jejak dalam tutur adat setempat. Dalam Tambo Dusun Semerap, disebutkan adanya satu gelar Ninik Mamak yang berasal dari Semurup, yaitu Rio Bentang, yang datang ke wilayah Semerap dengan membawa pusaka tersendiri.
Semerap sendiri memiliki susunan adat yang terdiri dari 10 Ninik Mamak dan 8 Depati, dengan gelar Depati di antaranya Depati Mudo, Depati Payung, Depati Serago Putih, Depati Serago Hitam, Depati Simpan Negeri, Depati Nanggalo, Depati Lipan Negara, dan Depati Kecil.
Jejak tersebut menjadi bagian dari ingatan adat yang memperlihatkan adanya hubungan perjalanan orang dan kebudayaan antara wilayah Semurup dan Semerap pada masa lalu.
Batu Lesung: Jejak yang Menghubungkan Dua Makam
Salah satu hal yang menarik dalam kisah kekerabatan Ijung Suku Lamat dengan sanak saudaranya di Semerap adalah keberadaan batu lesung.
Di sekitar makam Ijung Suku Lamat di atas Bukit Pendung Hilir Semurup terdapat batu lesung. Sementara di sekitar makam sanak saudaranya di Semerap, dekat belakang Pasar Semerap, juga terdapat batu lesung.
Keberadaan batu lesung di kedua lokasi tersebut menjadi bagian dari ingatan masyarakat dan sering dikaitkan dengan hubungan kekerabatan antara kedua tempat tersebut.
Bagi keturunan Ijung Suku Lamat, makam di Semerap bukan sekadar makam yang berada jauh dari kampung halaman. Makam tersebut diyakini sebagai tempat bersemayam sanak saudara dari garis leluhur yang sama, yang perjalanan hidupnya membawa hubungan keluarga dari Semurup menuju Semerap.
Penulis : Ilhamk
Editor : Safwandi
Sumber Berita: Tambo Kerinci






