Jakarta, Pribhumi.com – Krisis memori global yang memicu lonjakan harga perangkat elektronik diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Dampaknya bahkan disebut bisa membuat banyak perusahaan elektronik gulung tikar dan menghentikan lini produksinya.
CEO Phison, Pua Khein Seng, dalam wawancara dengan Next TV, menyampaikan bahwa tekanan pasokan RAM masih akan terasa hingga beberapa tahun ke depan. Ia menilai sejumlah produsen elektronik konsumer berisiko bangkrut jika gagal mengamankan suplai memori yang memadai.
Menurutnya, mulai akhir tahun ini hingga 2026, banyak vendor sistem diprediksi menghentikan produksi karena kekurangan komponen memori. Produksi ponsel disebut bisa turun hingga 200–250 juta unit, sementara produksi PC dan televisi juga akan menyusut signifikan.
Ia memperkirakan konsumen akan lebih sering memperbaiki perangkat lama ketimbang membeli baru akibat harga komponen yang tinggi. Bahkan, sejumlah produsen memori kini meminta pembayaran di muka untuk kontrak hingga tiga tahun, praktik yang sebelumnya jarang terjadi di industri ini.
Secara internal, beberapa produsen memperkirakan kelangkaan memori dapat berlangsung hingga 2030. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan kebutuhan pusat data kecerdasan buatan yang menyerap sebagian besar pasokan memori global.
Saat ini pasar DRAM dunia didominasi tiga perusahaan besar, yakni Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology, yang menguasai sekitar 93 persen pangsa pasar. Ketiganya lebih memprioritaskan produksi memori berteknologi tinggi untuk pusat data AI yang menawarkan margin keuntungan lebih besar dibandingkan segmen konsumer.
Meski tengah membangun fasilitas produksi tambahan, para produsen tersebut tetap berhati-hati untuk tidak melakukan ekspansi berlebihan guna menghindari risiko kelebihan pasokan di masa mendatang.











