Sungai Penuh, Pribhumi.com — Kota Sungai Penuh kembali mengalami banjir yang merendam sejumlah titik permukiman. Fenomena ini bukan semata-mata karena curah hujan tinggi, namun dipicu oleh kondisi lingkungan yang semakin rentan akibat hilangnya kawasan hutan yang dulu berfungsi sebagai penyangga air dan penguat tanah.
Kenyataan ini disampaikan oleh Dr.Eng. Ir. Akmaluddin, S.T., M.T., IPM., yang merupakan seorang Akademisi, Universitas Gajah Mada- UGM.
Sebagai daerah agraris dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai petani, kebutuhan lahan tanam di Sungai Penuh terus meningkat dari tahun ke tahun. Sayangnya, keterbatasan lahan produktif membuat sebagian masyarakat membuka kawasan hutan, termasuk yang berada di wilayah Taman Nasional. Praktik alih fungsi lahan inilah yang secara perlahan melemahkan daya serap tanah dan mempermudah aliran air menggerus permukaan bumi.
Kini, ketika hujan turun deras, wilayah yang sebelumnya terlindungi oleh hutan harus menanggung dampaknya. Kontur tanah yang tak lagi stabil dan berkurangnya pepohonan membuat banjir semakin mudah terjadi. Kondisi ini memunculkan keprihatinan banyak pihak dan menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan alam sebagai bagian dari mitigasi bencana.













