JAKARTA, Pribhumi.com– Memilih opsi less sugar saat memesan minuman kekinian kerap dianggap sebagai langkah untuk mengurangi konsumsi gula. Pilihan ini banyak digunakan pencinta boba, milk tea, hingga kopi susu yang ingin tetap menikmati minuman favorit tanpa asupan gula berlebihan.
Namun, mengurangi takaran gula tambahan tidak selalu menjadikan minuman tersebut rendah gula secara keseluruhan. Kandungan karbohidrat dari bahan lain, termasuk topping dan campuran susu, juga perlu diperhatikan.
Dokter Spesialis Gizi Klinik, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, SpGK(K), mengingatkan bahwa konsumen perlu memahami komposisi minuman secara menyeluruh. Menurutnya, label atau pilihan less sugar tidak otomatis menjamin suatu produk menjadi pilihan yang lebih sehat dalam setiap kondisi.
Peringatan tersebut disampaikan Diana saat menghadiri media gathering dalam rangka World Food Day 2026 yang diselenggarakan Danone Indonesia bersama Universitas Pelita Harapan (UPH), Kamis (15/10/2026).
Topping Minuman Bisa Menambah Asupan Gula
Salah satu hal yang sering luput dari perhatian konsumen adalah kandungan bahan tambahan dalam minuman kekinian. Banyak pembeli hanya berfokus pada pengurangan gula cair, tetapi tidak memperhitungkan bahan lain yang turut menyumbang karbohidrat dan energi.
Topping seperti boba dan bahan tambahan bercita rasa manis, serta campuran susu tertentu, dapat meningkatkan kandungan gula atau kalori minuman. Besarnya kontribusi tersebut bergantung pada jenis bahan, komposisi, dan takaran yang digunakan.
Karena itu, memilih less sugar saja belum cukup untuk mengetahui jumlah gula yang dikonsumsi. Konsumen perlu memperhatikan pula jumlah topping, ukuran gelas, jenis susu, serta bahan pemanis lain yang digunakan.
Diana menjelaskan, orang yang ingin mengurangi asupan gula perlu memperhatikan seberapa banyak gula yang benar-benar terkandung dalam produk yang dibeli.
“Kalau produk kita beli, kita less sugar, maka kemudian menjadi lebih aman. Tadi yang saya bilang, kurangi setengahnya, yang sekalian saja, kalau kita mau, tidak ada sugar, ya tidak ada sugar,” ujar Diana dalam kesempatan tersebut.
Pernyataan itu menekankan pentingnya memahami pengurangan gula dalam konteks komposisi minuman secara keseluruhan, bukan hanya mengandalkan pilihan pada menu.
Takaran Less Sugar Tidak Sama di Setiap Gerai
Selain topping, konsumen juga perlu mengetahui bahwa istilah less sugar tidak selalu merujuk pada standar pengurangan gula yang seragam.
Setiap gerai minuman dapat memiliki resep dasar dan ukuran pengurangan gula yang berbeda. Ada gerai yang mengurangi gula dalam persentase tertentu dari resep standar, sementara gerai lain menerapkan takaran berbeda.
Akibatnya, minuman dengan label less sugar dari satu gerai belum tentu memiliki kandungan gula yang sama dengan produk serupa di tempat lain. Bahkan, tingkat kemanisan yang dirasakan konsumen tidak selalu menggambarkan jumlah gula secara akurat.
Diana menegaskan bahwa penilaian terhadap suatu produk perlu mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari komposisi bahan, nilai gizi, ukuran porsi, hingga kontribusinya terhadap pola makan sehari-hari.
Dengan demikian, konsumen sebaiknya tidak menjadikan label less sugar sebagai satu-satunya patokan ketika memilih minuman.
Biasakan Membaca Informasi Nilai Gizi
Untuk membantu mengendalikan konsumsi gula, masyarakat dianjurkan meningkatkan literasi pangan dengan membiasakan diri memeriksa informasi produk sebelum membeli.
Daftar komposisi dan tabel informasi nilai gizi dapat membantu konsumen memahami kandungan produk, meskipun informasi tersebut tidak selalu tersedia secara lengkap pada minuman yang diracik langsung di gerai.
Jika informasi kandungan gula tidak dicantumkan, konsumen dapat menanyakan takaran gula, jenis pemanis, bahan campuran, serta topping yang digunakan kepada penjual.
Mengurangi gula tambahan, memilih porsi yang sesuai, dan membatasi topping manis dapat menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi yang lebih bijak.
Pada akhirnya, menjaga pola makan tidak cukup hanya dengan memilih minuman berlabel less sugar. Memahami komposisi, memperhatikan ukuran porsi, dan mempertimbangkan keseluruhan asupan harian menjadi langkah penting dalam mengambil keputusan pangan yang lebih tepat. (Hst)






